
PeluangNews, Jakarta – Pasar keuangan dan fiskal Indonesia menghadapi ujian berat pada awal November 2026.
Data terbaru hari ini, Minggu (2/11/2026), menunjukkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok, rupiah tertekan ke level terlemah sepanjang sejarah, harga emas Antam terkoreksi, dan defisit APBN 2026 melebar.
1. IHSG Anjlok 16,7% Dalam Sebulan ke 5.057
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG menutup perdagangan pekan terakhir Oktober 2026, Jumat (30/10/2026), di level 5.057,05, melemah 41,01 poin atau 0,80%.
Secara akumulatif sepanjang Oktober 2026, IHSG amblas 16,70% dari 6.071,14 di akhir September ke 5.057,05, kehilangan lebih dari 1.000 poin dalam satu bulan.
Rata-rata nilai transaksi harian juga terpangkas 29,49% menjadi Rp14,339 triliun dari Rp20,34 triliun sepekan sebelumnya.
Kapitalisasi pasar BEI tergerus 7,52% menjadi Rp8.862 triliun dari Rp9.583 triliun.
Investor asing mencatatkan jual bersih Rp138,71 miliar pada Jumat (30/10/2026) dan Rp140,27 miliar di seluruh pasar.
Untuk besok Senin (2/11/2026), BEI akan memberlakukan aturan baru: 80 saham dengan High Shareholding Concentration (HSC) resmi dikeluarkan dari perhitungan IHSG.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menjelaskan kebijakan ini tidak akan mengubah level IHSG secara mendadak karena divisor disesuaikan, namun bobot bank besar akan makin dominan.
Berdasarkan estimasi BRI Danareksa Sekuritas, bobot BBCA akan naik dari 8,75% menjadi 9%, BBRI dari 7,93% menjadi 9%, dan BMRI dari 5,57% menjadi 6,95%.
Total bobot big four banks naik dari 24,33% menjadi 27,45%. Setiap perubahan 1% harga big four banks berdampak sekitar 14 poin terhadap IHSG.
Phintraco Sekuritas memproyeksi IHSG Senin akan menguji 4.900-5.000 dengan support 5.012 dan 4.915.
2. Rupiah Terpuruk Rp18.147, Rekor Terlemah
Nilai tukar rupiah dalam sepekan 26-30 Oktober 2026 melemah 12 poin dari Rp18.135 ke Rp18.147 per dolar AS, rekor terlemah sepanjang sejarah.
Pada perdagangan Jumat (30/10/2026), rupiah sempat dibuka menguat ke Rp18.120 namun ditutup melemah ke Rp18.147.
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi mengatakan, tekanan rupiah masih terkait dinamika politik dalam negeri menyusul putusan MA soal ijazah Wapres Gibran dan aksi protes mahasiswa, serta sentimen eksternal dari The Fed yang mempertahankan suku bunga 3,75%-4,00% dan imbal hasil US Treasury 10 tahun di 4,98%.
Untuk Senin (02/11/2026), rupiah diproyeksi fluktuatif di Rp18.140-Rp18.190, dan sepekan di Rp18.000-Rp18.320.
3. Emas Antam Turun ke Rp2.526.000
Harga emas batangan PT Antam (ANTM) pada Minggu (2/11/2026) bertahan di Rp2.526.000 per gram, sama dengan Sabtu (31/10/2026). Harga buyback di Rp2.276.000 per gram.
Dalam sepekan, emas Antam sempat naik ke Rp2.570.000 pada Rabu (28/10/2026) sebelum anjlok Rp11.000 pada Kamis (29/10) ke Rp2.559.000, turun Rp13.000 pada Jumat (30/10) ke Rp2.546.000, dan ambles Rp20.000 pada Sabtu (31/10) ke Rp2.526.000. Spread jual-beli kini Rp250.000 atau 9,9%.
Di pasar global, emas spot turun 2,7% ke US $3.910,53 per ons pada Jumat (30/10/2026), terendah sejak Oktober 2025, dan bergerak di kisaran US $3.875-US $3.900 pada Minggu pagi.
Ibrahim memproyeksi pekan depan emas Antam bergerak di Rp2.390.000-Rp2.610.000. Jika terkoreksi Senin bisa ke Rp2.506.000, jika menguat ke Rp2.546.000.
4. Defisit APBN 2026 Bengkak Jadi Rp734,3 Triliun
Menteri Keuangan Suahasil Nazara dalam Rapimnas Kadin 2026 di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat (30/10/2026), mengungkapkan proyeksi defisit APBN 2026 melebar menjadi Rp734,3 triliun atau 2,85% PDB, naik dari target awal Rp689,1 triliun atau 2,68% PDB.
Pelebaran Rp45,2 triliun dipicu tambahan belanja Rp300 triliun untuk penanganan bencana alam sekitar Rp60 triliun di Sumatera bagian utara dan karhutla, serta subsidi dan kompensasi energi akibat harga minyak dunia tinggi.
Belanja negara naik dari Rp3.843 triliun menjadi Rp3.942 triliun (naik Rp99 triliun bersih), sementara pendapatan naik dari Rp3.154 triliun menjadi Rp3.208 triliun (naik Rp54 triliun).
Hingga September 2026, defisit tercatat Rp319 triliun atau 1,24% PDB, pendapatan Rp2.341,5 triliun (74,2% target, naik 25,5% YoY), dan belanja Rp2.660,5 triliun (69,2% pagu, naik 19% YoY). Pemerintah akan menggenjot belanja kuartal IV sekitar Rp1.300 triliun.
Ekonom mengingatkan risiko defisit tembus 3% jika harga minyak Brent bertahan US $88 per barel dan rupiah di Rp18.000.
Setiap kenaikan ICP US $1 menambah defisit Rp6,8 triliun, dan pelemahan rupiah Rp100 menambah Rp0,8 triliun.
Dengan ICP September sudah US$112,81 per barel vs asumsi APBN US$70, subsidi energi hingga September sudah Rp376 triliun melampaui pagu Rp338 triliun.
Untuk menutup lubang, Ketua Dewan Penasihat Kadin Hashim Djojohadikusumo mengumumkan pemerintah akan menerapkan pajak digital mulai 9 November 2026.
Semua bank pemerintah, swasta, dan fintech seperti Shopee, Lazada, GoTo wajib pungut dan setor pajak. Tax ratio Indonesia baru 12% vs Kamboja 18% dan India 20%. Potensi tambahan penerimaan hingga Rp1.500 triliun per tahun jika rasio naik 6%. []








