hayed consulting
hayed consulting
umkm insigh

UKM Kampus Catat Potensi Transaksi USD 24,57 Juta

Foto dok. Humas Kemendag – Peluangnews

PeluangNews, Bogor – Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mencetak wirausaha muda yang mampu mengembangkan potensi produk lokal menjadi komoditas berdaya saing global. Untuk memperkuat peran tersebut, Kementerian Perdagangan (Kemendag) mendorong mahasiswa mengembangkan usaha sejak bangku kuliah melalui Program Campuspreneur.

Program ini diarahkan untuk membangun ekosistem kewirausahaan di lingkungan perguruan tinggi sekaligus memperkuat kontribusi generasi muda dalam pengembangan ekspor nasional. Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui ajakan kepada mahasiswa IPB University, Bogor, Jawa Barat, untuk mengembangkan produk lokal hingga mampu menembus pasar internasional.

Ajakan tersebut disampaikan Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kemendag, Johni Martha, dalam Kuliah Umum dan Lokakarya Pengembangan Ekspor Produk Agribisnis di Auditorium Kemendag, Sabtu (31/10/2026). Kegiatan ini diikuti lebih dari 185 mahasiswa dan dosen Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University.

“Melalui Campuspreneur, Kemendag ingin mendorong mahasiswa untuk mengembangkan ide dan potensi bisnis sejak di bangku kuliah. Kami mendukung proses tersebut, mulai dari peningkatan kualitas produk, pengemasan, dan branding, hingga membantu menghubungkan produk dengan calon buyer dan pasar ekspor,” ujar Johni.

Menurut Johni, dukungan terhadap wirausaha muda melalui Campuspreneur telah menunjukkan hasil dalam pengembangan akses pasar internasional. Hal tersebut tercermin pada penyelenggaraan Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 pada 14–18 Oktober 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten.

Dalam ajang tersebut, sebanyak 25 usaha kecil dan menengah (UKM) dari 20 perguruan tinggi peserta Campuspreneur mencatatkan potensi transaksi sebesar USD 24,57 juta. Dari jumlah tersebut, sebesar USD 21,46 juta telah ditindaklanjuti melalui letter of intent (LoI).

Campuspreneur merupakan bagian dari program prioritas Kemendag bertajuk Dari Lokal untuk Global. Program ini menghubungkan penguatan usaha di dalam negeri dengan perluasan akses pasar internasional.

Pendekatan tersebut juga dijalankan melalui sejumlah program lain, yakni Usaha Mikro Kecil Menengah Berani Inovasi, Siap Adaptasi Ekspor (UMKM BISA Ekspor), Desa BISA Ekspor, dan Kemitraan UMKM.

Melalui berbagai program tersebut, Kemendag mendorong pelaku usaha meningkatkan kesiapan produk, memperkuat daya saing, serta memanfaatkan jejaring perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri.

Selain penguatan kapasitas pelaku usaha, perluasan pasar juga didukung melalui berbagai perjanjian perdagangan internasional. Hingga saat ini, Indonesia memiliki 25 perjanjian perdagangan yang telah berlaku (entry into force), dua perjanjian dalam proses ratifikasi, dan 13 perjanjian yang masih dalam tahap perundingan.

Johni menekankan, terbukanya akses pasar internasional harus diikuti kesiapan pelaku usaha dalam memenuhi standar, menjaga kualitas, serta memahami ketentuan di negara tujuan ekspor.

“Peluang tersebut perlu diikuti kesiapan pelaku usaha dalam memenuhi standar, menjaga kualitas, dan memahami ketentuan pasar tujuan. Mahasiswa yang mulai membangun usaha perlu melihat peluang pasar global sejak awal dan mempersiapkan produknya agar mampu bersaing,” tambah Johni.

Sementara itu, Ketua Program Studi Doktor Sains Agribisnis, Bayu Krisnamurthi, mengapresiasi Kemendag dan para narasumber yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengenal lebih dekat dunia perdagangan.

Menurutnya, kunjungan ke Kemendag menjadi bagian dari pengayaan wawasan mahasiswa di luar ruang perkuliahan, terutama untuk memahami praktik perdagangan dan pengalaman langsung dari para pemangku kepentingan.

“Kami berterima kasih kepada Kemendag dan para narasumber atas kesediaannya berbagi pengalaman dan pengetahuan dengan mahasiswa. Kesempatan untuk hadir langsung di Kemendag menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa untuk memperkaya wawasan dan mengenal lebih dekat dunia perdagangan,” ujar Bayu.

Kuliah umum tersebut juga menghadirkan pemangku kebijakan Kemendag dan praktisi ekspor sektor agribisnis. Direktur Bina Pasar Miftah Farid menjelaskan, sektor agribisnis Indonesia memiliki peluang besar untuk dikembangkan ke pasar ekspor, terutama melalui peningkatan nilai tambah produk.

Menurut Miftah, diperlukan transformasi menuju produk bernilai tambah melalui peningkatan produktivitas, pengolahan, dan penguatan daya saing. Ia mencontohkan kopi dan kakao sebagai komoditas yang memiliki peluang pengembangan karena kebutuhan pasar masih lebih besar dibandingkan pasokan.

Narasumber lainnya, Pendiri PT Nusa Tropical Indonesia, Pekik Warnendya, menyampaikan bahwa keberhasilan ekspor tidak hanya ditentukan oleh kualitas dan daya saing produk, tetapi juga didukung kebijakan serta diplomasi perdagangan yang membuka akses pasar internasional.

Pekik juga menekankan pentingnya kemampuan riset pasar dan pemanfaatan teknologi digital bagi calon eksportir, khususnya generasi muda.

“Mahasiswa juga dapat memanfaatkan media sosial Perwakilan Perdagangan Indonesia di luar negeri untuk mengakses market intelligence, market brief, dan market inquiry. Informasi tersebut dapat menjadi bekal bagi generasi muda, khususnya Gen Z, untuk mengenali peluang pasar dan mengembangkan usaha hingga menjadi eksportir,” ungkapnya.

Dari kalangan mahasiswa, peserta Program Studi Manajemen IPB University, Adibyo Astawan, mengaku memperoleh wawasan praktis mengenai persiapan memasuki pasar, khususnya terkait riset produk, analisis pasar, dan pemenuhan persyaratan di negara tujuan.

Saat ini, ia tengah merintis usaha sebagai perantara pemasaran sejumlah produk manufaktur Indonesia yang telah memiliki sertifikasi. Menurutnya, materi dan pengalaman yang dibagikan para praktisi memberikan gambaran mengenai langkah-langkah yang perlu dipersiapkan untuk mengembangkan usahanya.

Apresiasi juga disampaikan Najwa Rinjamain Fauziah, mahasiswa Program Studi Agribisnis IPB University. Ia menilai kegiatan tersebut memberikan perspektif menyeluruh mengenai dunia perdagangan, baik dari sisi pemerintah maupun pelaku usaha.

Najwa mengaku tertarik mengikuti kegiatan tersebut tidak hanya untuk memenuhi tugas mata kuliah Bisnis Internasional, tetapi juga untuk mengetahui secara langsung peran dan cara kerja Kemendag dalam mengelola perdagangan serta menyikapi berbagai kebijakan.

pasang iklan di sini
lpdb.go.id