Kontribusi anggota koperasi

Oleh: Prof. Agus Pakpahan
Pakar Ekonomi Pertanian dan Koperasi, Serial Tropikanisasi-Kooperatisasi
KOPERASI bisa memiliki ribuan, bahkan ratusan ribu anggota. Namun, apakah jumlah yang besar otomatis membuat koperasi menjadi kuat? Belum tentu. Jika sebagian besar anggota hanya datang untuk menikmati manfaat tanpa ikut menghidupkan kegiatan koperasi, organisasi ini berisiko tumbuh besar secara angka, tetapi lemah dalam kekuatan kolektif.
Persoalan tersebut dikenal dalam teori ekonomi sebagai free rider problem, yakni situasi ketika seseorang menikmati manfaat dari suatu sistem bersama tanpa memberikan kontribusi yang sepadan.
Fenomena ini penting diperhatikan karena koperasi bukan sekadar badan usaha yang menyediakan barang, jasa, atau pembiayaan. Koperasi merupakan institusi ekonomi yang kehidupannya sangat bergantung pada partisipasi anggota. Modal memang penting, tetapi kekuatan koperasi juga dibangun melalui transaksi, pengetahuan, kepercayaan, jaringan, dan keterlibatan anggotanya.
Karena itu, tantangan koperasi bukan hanya mencegah munculnya anggota yang pasif. Tantangan yang lebih mendasar adalah bagaimana mengubah anggota dari sekadar penerima manfaat menjadi pencipta manfaat bersama.
Di sinilah konsep free contribution menjadi relevan.
Ketika Anggota Hanya Ingin Menerima
Dalam kehidupan koperasi, perilaku free rider dapat muncul dalam berbagai bentuk. Ada anggota yang menggunakan fasilitas koperasi, tetapi jarang bertransaksi. Ada yang menikmati layanan dan keuntungan usaha, tetapi tidak ikut memperkuat kegiatan ekonomi organisasi. Ada pula yang baru mendekat ketika membutuhkan pinjaman, tanpa membangun keterikatan dengan kehidupan koperasi.
Tentu, tidak semua anggota memiliki kemampuan, waktu, dan kesempatan yang sama untuk berkontribusi. Karena itu, anggota yang belum aktif tidak serta-merta harus dicap sebagai penumpang gratis.
Masalah muncul ketika kebiasaan menikmati manfaat tanpa kontribusi menjadi pola yang meluas. Anggota yang aktif dapat merasa dirugikan, sementara anggota yang pasif tetap memperoleh manfaat dari kerja kolektif.
Pada titik ini, hubungan anggota dengan koperasi perlahan berubah. Koperasi dipandang sebagai tempat mendapatkan sesuatu, bukan sebagai sistem bersama yang perlu dipelihara dan dikembangkan.
Akibatnya, jumlah anggota yang besar tidak selalu mencerminkan kekuatan koperasi yang sesungguhnya. Ribuan anggota belum tentu menghasilkan ribuan sumber daya produktif jika hanya sebagian kecil yang terlibat dalam kegiatan ekonomi dan pengambilan keputusan.
Dengan kata lain, jumlah anggota tidak otomatis sama dengan kapasitas kolektif.
Dari Penerima Manfaat Menjadi Kontributor
Jika free rider menggambarkan kecenderungan menikmati manfaat bersama tanpa kontribusi yang sepadan, free contribution menekankan kesediaan memberikan sesuatu bagi kepentingan kolektif, tanpa selalu menunggu imbalan individual secara langsung.
Kontribusi tersebut tidak harus berupa uang atau tambahan modal.
Seorang anggota dapat menyumbangkan waktu, pengetahuan, pengalaman, jaringan usaha, informasi pasar, maupun gagasan inovatif. Anggota juga dapat membantu memasarkan produk sesama anggota, memperluas jaringan pelanggan, meningkatkan transaksi koperasi, atau menjaga kepercayaan masyarakat terhadap organisasi.
Baca Juga:Kaum Milenial Juga Ingin Berkoperasi
Semua itu merupakan kontribusi yang dapat memperbesar kemampuan koperasi.
Bayangkan seorang petani yang membantu koperasi menghubungkan hasil panennya dengan pasar baru. Anggota tersebut mungkin tidak menambah setoran modal, tetapi tindakannya berpotensi membuka peluang pendapatan bagi banyak anggota lainnya.
Demikian pula anggota muda yang mengembangkan pemasaran digital atau anggota berpengalaman yang membagikan pengetahuan pengelolaan usaha. Kontribusi mereka dapat menghasilkan manfaat yang jauh melampaui kepentingan pribadi.
Karena itu, koperasi perlu memperluas cara pandangnya terhadap kontribusi anggota. Nilai seorang anggota tidak semata-mata diukur dari besarnya modal yang disetorkan, tetapi juga dari kemampuannya memperkuat sistem bersama.
Perubahan cara pandang ini menggeser pertanyaan anggota dari “Apa yang saya dapat dari koperasi?” menjadi “Apa yang bisa saya lakukan agar koperasi kita semakin kuat?”
Keduanya tidak harus dipertentangkan. Anggota tetap berhak mendapatkan manfaat ekonomi. Namun, manfaat yang berkelanjutan akan lebih mungkin tercipta apabila anggota juga mengambil bagian dalam membangun sumber manfaat tersebut.
Jangan Hanya Menyalahkan Anggota
Ketika banyak anggota tidak aktif, penjelasan yang paling mudah adalah menyalahkan mereka karena kurang peduli atau tidak memiliki semangat berkoperasi.
Namun, persoalannya belum tentu sesederhana itu.
Kita juga perlu bertanya: apakah koperasi telah menyediakan ruang, insentif, informasi, dan mekanisme yang memungkinkan anggota berkontribusi?
Seorang petani akan kesulitan berkontribusi secara optimal jika koperasi hanya meminta simpanan, tetapi tidak membantu membuka akses pasar. Anggota yang memiliki pengetahuan mungkin tidak banyak terlibat apabila keahliannya tidak pernah dimanfaatkan. Sementara itu, anggota muda dapat kehilangan minat jika tidak tersedia ruang untuk berinovasi dan mengembangkan usaha.
Artinya, masalah free rider tidak selalu berkaitan dengan karakter anggota. Masalah tersebut juga dapat bersumber dari desain kelembagaan koperasi.
Koperasi tidak cukup hanya mengimbau anggota agar lebih aktif. Koperasi perlu membangun sistem yang membuat kontribusi menjadi mudah dilakukan, bermakna, diakui, dan mampu menghasilkan nilai.
Untuk itu, setidaknya ada empat hal yang perlu diperhatikan.
Pertama, menyediakan ruang kontribusi sesuai kemampuan dan keahlian anggota. Kedua, mengenali serta menghargai kontribusi yang diberikan. Ketiga, mengolah kontribusi tersebut menjadi kapasitas kolektif. Keempat, memastikan manfaat dari kapasitas itu kembali kepada anggota secara adil.
Dengan mekanisme tersebut, kontribusi tidak berhenti sebagai tindakan individual, tetapi berkembang menjadi kekuatan organisasi.
Koperasi sebagai Sistem yang Hidup
Koperasi akan sulit berkembang apabila anggota hanya diposisikan sebagai pelanggan. Pelanggan cenderung menilai organisasi dari layanan yang diterimanya. Sebaliknya, anggota koperasi memiliki posisi yang lebih luas: mereka adalah pemilik sekaligus pengguna layanan dan bagian dari sistem yang menciptakan nilai. Kontribusi anggota koperasi
Dalam perspektif ini, koperasi dapat dipahami sebagai living system atau sistem yang hidup. Kehidupannya tidak hanya ditentukan oleh aset, gedung, teknologi, atau struktur organisasi, tetapi juga oleh kualitas hubungan di antara para anggotanya.
Pengetahuan anggota menjadi sumber daya. Transaksi mereka menggerakkan kegiatan usaha. Kepercayaan memperkuat hubungan. Jaringan sosial membuka peluang baru. Pengalaman, termasuk kesalahan, dapat menjadi bahan pembelajaran bersama.Kontribusi anggota koperasi
Kekuatan koperasi terletak pada kemampuannya menghubungkan berbagai sumber daya tersebut sehingga menghasilkan manfaat yang lebih besar daripada yang dapat dicapai setiap anggota secara sendiri-sendiri.
Di sinilah gagasan Koperasi Kuantum menemukan relevansinya. Kekuatan suatu sistem tidak hanya ditentukan oleh ukuran setiap komponennya, tetapi juga oleh kualitas hubungan antarkomponen tersebut.






