hayed consulting
hayed consulting
umkm insigh
Berita  

Sebanyak 945 Ahli Bendungan Tersertifikasi, Ini Langkah Kementerian PU

Foto dok. Humas PU – Peluangnews

PeluangNews, Malang – Tantangan perubahan iklim mendorong pemerintah memperkuat sistem pengelolaan dan keamanan bendungan nasional. Kementerian Pekerjaan Umum (PU) terus meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM), pengawasan, dan pemeliharaan infrastruktur bendungan guna memastikan ketersediaan air serta keberlanjutan fungsi bendungan di Indonesia.

Hingga 2026, sebanyak 945 ahli bendungan telah mengantongi sertifikat kompetensi untuk mendukung pengawasan, pengelolaan, dan pemeliharaan 281 bendungan nasional. Penguatan tenaga ahli tersebut menjadi salah satu langkah strategis dalam menjaga keamanan bendungan, terutama menghadapi perubahan pola cuaca yang berpotensi memengaruhi kondisi dan operasional waduk.

Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan, bendungan memiliki posisi penting dalam mendukung ketahanan air, pangan, dan energi nasional. Karena itu, aspek keamanan dan keberlanjutan pengelolaannya harus menjadi perhatian utama, termasuk memastikan distribusi air dapat menjangkau kebutuhan masyarakat dan petani.

Menurutnya, keberhasilan pengelolaan bendungan tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga kualitas tata kelola, efektivitas pengawasan, pemeliharaan rutin, serta kompetensi tenaga ahli yang terlibat.

“Bendungan merupakan infrastruktur strategis yang manfaatnya sangat besar bagi masyarakat. Karena itu, kita harus memastikan setiap bendungan dikelola dengan baik dan memenuhi aspek keamanan. Penguatan kompetensi tenaga ahli, pengawasan, serta pemeliharaan harus menjadi perhatian agar bendungan dapat berfungsi secara optimal dan berkelanjutan,” kata Menteri Dody saat membuka Rapat Anggota Tahunan (RAT)/Rapat Anggota Besar (RAB) INACOLD (Indonesia National Committee on Large Dams) dan Seminar Nasional Bendungan Besar 2026 di Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, Jumat (6/11/2026).

Dalam kegiatan yang mengangkat tema “Strategi Penguatan Tata Kelola Bendungan Besar untuk Adaptasi dan Mitigasi Dampak Perubahan Iklim” tersebut, Dody juga menyoroti meningkatnya tantangan operasional bendungan akibat perubahan iklim.

Ia menjelaskan, hujan ekstrem dapat meningkatkan aliran masuk (inflow) waduk sehingga memperbesar risiko banjir. Sebaliknya, kondisi kekeringan dan penurunan curah hujan berpotensi mengurangi ketersediaan air. Situasi ini menuntut pengelola bendungan memiliki kemampuan menyesuaikan pola operasi berdasarkan kondisi hidrologi.

“Kondisi ini membutuhkan pengoperasian bendungan yang adaptif, pengelolaan alokasi air secara terpadu, serta pemantauan kondisi bendungan secara berkala,” ujar Menteri Dody.

Penguatan kapasitas tenaga ahli juga menjadi perhatian INACOLD. Ketua INACOLD KNI-BB Adenan Rasyid menyatakan, kompetensi dan profesionalisme sumber daya manusia merupakan fondasi penting untuk menjamin keamanan serta keberlanjutan pengelolaan bendungan.

Selama lebih dari lima dekade sejak didirikan pada 3 April 1972, INACOLD telah menjadi wadah kolaborasi akademisi, pakar, peneliti, praktisi, dan pemangku kepentingan dalam pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, serta tata kelola bendungan di Indonesia.

“Pengelolaan bendungan membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dan profesionalisme sesuai bidang keahliannya. Karena itu, peningkatan kapasitas tenaga ahli, pengembangan standar kompetensi, serta kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan praktisi perlu terus diperkuat,” ujar Adenan.

Berdasarkan data hingga 2026, sertifikat kompetensi keahlian bidang bendungan yang telah diterbitkan mencapai 945 sertifikat. Rinciannya terdiri dari 179 Ahli Bendungan Utama, 292 Ahli Bendungan Madya, 422 Ahli Bendungan Muda, 12 Pelaksana Bendungan Level 6, dan 40 Pelaksana Bendungan Level 5.

INACOLD juga memperluas cakupan sertifikasi pada 2026, dari sebelumnya tiga menjadi lima skema. Perluasan tersebut dilakukan melalui penambahan sertifikasi Pelaksana Bendungan Level 5 dan Level 6.

Selain membahas aspek keamanan dan peningkatan kompetensi, Seminar Nasional Bendungan Besar 2026 menjadi ruang pertukaran pengetahuan serta pengembangan inovasi di bidang pengelolaan bendungan.

Kegiatan ini diikuti 1.083 peserta, dengan komposisi 793 peserta luring dan 290 peserta daring. Forum tersebut juga menerima 203 makalah ilmiah, sebanyak 72 di antaranya dipresentasikan dalam sesi paralel.

Sementara itu, melalui kegiatan Young Engineers’ Dam Innovation Challenge, panitia menerima 115 poster ilmiah. Kegiatan ini turut menjadi bagian dari upaya mendorong pengembangan gagasan dan inovasi di bidang bendungan melalui kontribusi generasi muda.

pasang iklan di sini
lpdb.go.id