hayed consulting
hayed consulting
umkm insigh

Kemendag Bidik Pasar Ekspor Batik, 46 Perwadag Disiapkan

Foto dok. Humas Kemendag – peluangnews

PeluangNews, Sukoharjo – Pemerintah terus membuka peluang bagi produk batik Indonesia untuk memperluas jangkauan pasar internasional. Kementerian Perdagangan (Kemendag) mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memanfaatkan jaringan perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri guna mempertemukan produk unggulan nasional dengan pembeli potensial.

Upaya tersebut menjadi salah satu agenda Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri saat mengunjungi fasilitas produksi Batik Keris di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Jumat (6/11/2026). Kunjungan ini sekaligus untuk melihat perkembangan industri batik, kontribusinya terhadap penyerapan tenaga kerja lokal, serta potensi perluasan pasar ekspor produk fesyen berbasis budaya Indonesia.

“Kunjungan ini dimaksudkan untuk meninjau secara langsung proses produksi batik dan dampak penyerapan tenaga kerja lokal (multiplier effect). Selain itu, sebagai upaya memetakan potensi perluasan pasar ekspor bagi produk busana berbasis budaya Indonesia,” jelas Wamendag Roro.

Dalam kesempatan tersebut, Roro mengapresiasi kemampuan Batik Keris membangun jaringan ritel secara nasional melalui gerai di pusat perbelanjaan dan berbagai bandara. Selain memperkuat distribusi produk, perusahaan tersebut dinilai konsisten menjaga keberlanjutan keterampilan membatik melalui kaderisasi lintas generasi.

“Kami sangat mengapresiasi upaya kaderisasi dan pelestarian budaya yang berjalan di pabrik Batik Keris. Pekerja senior yang sudah mengabdi belasan hingga puluhan tahun bersanding dengan pekerja junior. Ini bukti nyata penguatan ekosistem industri berbasis budaya agar batik tidak punah ditelan zaman. Proses produksi Batik Keris ternyata juga banyak memberdayakan masyarakat sekitar. Dampak bergandanya terasa,” ujar Wamendag Roro.

Roro menilai batik memiliki peluang besar untuk memperkuat posisi produk budaya Indonesia di pasar internasional. Selain menjadi identitas dan kebanggaan nasional, produk batik berpotensi dikembangkan di kawasan Asia Tenggara yang memiliki kedekatan sejarah dan budaya.

Untuk merealisasikan peluang tersebut, Kemendag menyiapkan dukungan melalui pembinaan pelaku usaha, promosi periklanan, serta penyelenggaraan ajang peragaan busana (fashion show) sebagai sarana memperkenalkan produk batik Indonesia ke pasar mancanegara.

“Pemerintah hadir sebagai fasilitator. Kami melihat bagaimana bisnis yang berawal dari kesederhanaan dapat berkembang menjadi skala besar. Selebihnya, terkait perluasan pasar, baik pasar domestik maupun ekspor, Kemendag siap memfasilitasi dan mendampingi hingga terealisasi,” tegas Wamendag Roro.

Salah satu peluang yang didorong pemerintah adalah pemanfaatan jaringan 46 perwakilan perdagangan Indonesia yang tersebar di 33 negara. Roro mengajak Batik Keris dan pelaku UMKM lainnya menjalin komunikasi dengan perwakilan perdagangan tersebut untuk memperoleh informasi pasar dan membuka akses kepada calon pembeli melalui kegiatan penjajakan bisnis (business matching).

Melalui fasilitas tersebut, pelaku usaha diharapkan dapat mengenali kebutuhan pasar negara tujuan sekaligus membangun hubungan bisnis dengan buyer potensial.

Chief Executive Officer (CEO) Batik Keris Andy Rusli menyambut positif kunjungan Wamendag Roro. Ia menilai kehadiran pemerintah memberikan inspirasi dan dorongan bagi perusahaan untuk terus mengembangkan usaha batik nasional.

Andy berharap batik Indonesia dapat terus berkembang dan memperoleh dukungan akses pasar yang lebih luas. Ia juga menyampaikan minat Batik Keris untuk mengikuti Trade Expo Indonesia mendatang guna menjaring calon pembeli.

“Kami berminat untuk berpartisipasi dalam Trade Expo Indonesia mendatang guna menarik buyer. Untuk saat ini, Batik Keris masih berfokus pada pemenuhan kebutuhan dalam negeri paralel dengan pembinaan perajin batik baru,” ujar Andy.

Dalam rangkaian kunjungan, Wamendag Roro turut meninjau Heritage Istana Batik Keris, galeri historis yang menggambarkan perjalanan panjang Batik Keris sejak 1920. Bangunan yang sebelumnya bernama Liberty Villa atau lebih dikenal sebagai Omah Lowo (Rumah Kelelawar) tersebut dibangun pada awal 1900-an dan dipugar pada 2020.

Selain menampilkan koleksi Batik Keris, tempat ini juga menghadirkan kerajinan tangan hasil karya UMKM lokal yang didukung perusahaan serta berbagai makanan dan minuman khas Jawa Tengah.

Turut mendampingi kunjungan tersebut Plt. Direktur Pengembangan Ekspor Jasa dan Produk Kreatif Kementerian Perdagangan Deden M. Fajar Siddiq serta Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, dan Perdagangan Kabupaten Sukoharjo Sumarno.

Batik Keris yang berdiri sejak 1947 merupakan perusahaan ritel fesyen ternama Indonesia yang mengintegrasikan kegiatan produksi, pengembangan, dan distribusi busana serta tekstil batik tradisional.

Perusahaan ini didukung 435 tenaga kerja profesional dan 311 unit mesin produksi terpasang. Kapasitas produksinya mencapai 60 ribu potong per bulan, meliputi kemeja pria (shirts), blus (blouses), rok (skirts), pakaian luar (outerwear), dan busana anak (kids).

Di tingkat nasional, kinerja ekspor batik menunjukkan pertumbuhan positif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor batik Indonesia pada 2025 mencapai USD 30,62 juta, meningkat 13,03 persen dibandingkan 2024 yang tercatat sebesar USD 26,63 juta. Adapun pada semester I-2026, nilai ekspor batik Indonesia tercatat mencapai USD 4,39 juta.

Pertumbuhan tersebut menjadi salah satu indikator potensi industri batik nasional dalam memperluas kontribusi terhadap perdagangan internasional. Penguatan akses pasar, promosi, dan pembinaan perajin diharapkan dapat mendukung keberlanjutan industri sekaligus meningkatkan daya saing produk batik Indonesia di pasar global.

pasang iklan di sini
lpdb.go.id