hayed consulting
hayed consulting
umkm insigh
Berita  

BMKG Prediksi Hujan Lebat 6–12 November

Sumber:I nfoBMKG

PeluangNews, Jakarta – Pengaruh fenomena El Nino dengan intensitas sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif belum sepenuhnya menghilangkan potensi hujan lebat hingga ekstrem di Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan adanya potensi cuaca ekstrem di sejumlah wilayah selama periode 6–12 November 2026.

Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya bencana hidrometeorologi, mulai dari banjir, tanah longsor hingga angin kencang. Pasalnya, kondisi cuaca di Indonesia masih menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan antara satu wilayah dan wilayah lainnya.

Prakirawan BMKG, Sentia, dalam pembaruan informasi cuaca pada Jumat (6/11/2026), menyampaikan bahwa dinamika atmosfer saat ini masih mendukung pembentukan awan hujan dengan intensitas tinggi di beberapa daerah.

Gambaran kondisi tersebut tercermin dari kejadian hujan ekstrem pada 1–4 November 2026. Jawa Timur mencatat curah hujan harian tertinggi mencapai 358 milimeter, disusul Bali sebesar 300 milimeter. Sementara itu, curah hujan di Aceh mencapai 167 milimeter dan Kalimantan Barat 101 milimeter.

Selain hujan dengan intensitas ekstrem, BMKG juga mengamati kejadian angin kencang di Lampung dengan kecepatan mencapai 35 knot.

Di tengah tingginya curah hujan di sejumlah daerah, ancaman kekeringan masih membayangi wilayah lainnya. Hasil pemantauan BMKG menunjukkan terdapat 543 titik pengamatan yang masuk kategori Hari Tanpa Hujan (HTH) sangat panjang hingga ekstrem panjang.

Sementara itu, pemantauan titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi mencatat 615 titik di Papua Selatan, 255 titik di Kalimantan Tengah, dan 223 titik di Kalimantan Timur.

Perbedaan kondisi tersebut memperlihatkan bahwa ancaman cuaca ekstrem berupa hujan lebat dan kekeringan masih dapat terjadi secara bersamaan di berbagai wilayah Indonesia. Oleh karena itu, langkah antisipasi perlu disesuaikan dengan potensi risiko di masing-masing daerah.

BMKG menjelaskan, peluang terjadinya hujan signifikan berkaitan dengan aktivitas sejumlah gelombang atmosfer. Meski demikian, secara umum curah hujan dasarian masih diprakirakan berada dalam kategori rendah hingga menengah.

Salah satu fenomena yang terpantau adalah Madden-Julian Oscillation (MJO) yang diprakirakan aktif pada fase 2 hingga 3 di sekitar Samudra Hindia. Aktivitasnya melintasi Kalimantan bagian selatan, Sulawesi bagian tengah hingga selatan, Maluku, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Selain MJO, gelombang Rossby Ekuatorial juga terpantau aktif di sebagian wilayah Sumatra bagian utara hingga tengah serta Maluku Utara. Adapun gelombang Kelvin melintasi Sumatra bagian utara hingga tengah, Kalimantan bagian utara hingga tengah, Sulawesi Utara, dan Maluku Utara.

“Aktivitas gelombang atmosfer tersebut, ditambah adanya pertemuan dan perlambatan angin serta kelembapan udara yang tinggi, mendukung pertumbuhan awan hujan konvektif di sejumlah wilayah,” ungkapnya.

Dalam prakiraan cuaca periode 6–8 November 2026, sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mengalami hujan ringan. Kendati demikian, masyarakat di sejumlah daerah diminta tetap waspada terhadap kemungkinan hujan lebat hingga sangat lebat.

Wilayah yang perlu meningkatkan kesiapsiagaan meliputi Aceh, Jawa Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua. Pada periode yang sama, potensi angin kencang juga diprakirakan terjadi di Lampung, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan.

Potensi cuaca ekstrem berlanjut pada periode 9–12 November 2026 dengan peningkatan tingkat kewaspadaan di sejumlah wilayah Sumatra.

BMKG menetapkan status AWAS untuk potensi hujan sangat lebat hingga ekstrem di Sumatra Utara. Sementara itu, status SIAGA diberlakukan untuk potensi hujan lebat hingga sangat lebat di Aceh dan Sumatra Barat.Adapun potensi angin kencang pada periode tersebut diprakirakan terjadi di Papua Selatan.

Memasuki masa peralihan menuju musim hujan, masyarakat perlu mengantisipasi perubahan cuaca yang dapat berlangsung secara tiba-tiba. Hujan deras dalam durasi singkat yang disertai angin kencang, kilat, dan petir menjadi salah satu kondisi yang perlu diwaspadai.

BMKG mengingatkan masyarakat agar secara berkala memantau perkembangan informasi cuaca melalui aplikasi Info BMKG, laman resmi BMKG, maupun akun media sosial @infobmkg.

Selain memantau informasi cuaca, masyarakat juga diminta melakukan langkah pencegahan di lingkungan masing-masing. Upaya tersebut antara lain membersihkan saluran air, memeriksa kondisi pohon dan bangunan yang berpotensi terdampak angin kencang, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman banjir dan tanah longsor.

Perhatian khusus perlu diberikan kepada masyarakat yang bermukim di kawasan rawan bencana hidrometeorologi.

Kesiapsiagaan dan langkah antisipasi sejak dini menjadi penting untuk mengurangi risiko serta meminimalkan dampak bencana akibat perubahan kondisi cuaca di berbagai wilayah Indonesia.

pasang iklan di sini
lpdb.go.id