
PeluangNews, Badung – Wakil Menteri UMKM, Helvi Yuni Moraza melakukan kunjungan kerja ke Koperasi Simpan Pinjam Guna Prima Dana di Kabupaten Badung, Bali, untuk meninjau langsung praktik penyaluran pembiayaan usaha mikro serta implementasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) berbasis koperasi.
Dalam kunjungan tersebut, Helvi bersama rombongan melihat aktivitas pelayanan anggota, mekanisme pembiayaan usaha produktif, hingga berdialog dengan pengurus dan anggota penerima KUR. KSP Guna Prima Dana dikenal sebagai salah satu koperasi simpan pinjam terbesar dan berkembang di Bali yang berfokus pada pemberdayaan pelaku UMKM melalui akses pembiayaan yang cepat, mudah, dan terjangkau.
KSP GDP juga menjadi salah satu pelopor penyaluran KUR melalui koperasi di Bali. Skema tersebut dinilai efektif menjangkau pelaku usaha mikro yang selama ini masih kesulitan memperoleh akses pembiayaan formal. Melalui fasilitas KUR, anggota koperasi dapat memperoleh modal usaha berbunga ringan untuk mengembangkan berbagai sektor usaha produktif, mulai dari perdagangan, pertanian, jasa, kuliner, hingga usaha rumahan.
Manajer KSP GDP, I Wayan Suyatna, menjelaskan bahwa penyaluran KUR melalui koperasi telah memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan usaha anggota. Menurutnya, banyak anggota yang sebelumnya menjalankan usaha berskala kecil kini mampu meningkatkan omzet, memperluas usaha, menambah tenaga kerja, hingga memperbaiki kesejahteraan keluarga.
“Kami melayani lebih dari 6.000 anggota dengan plafon KUR dari pemerintah sebesar Rp128 miliar untuk tahun 2026,” ujarnya.
Baca Juga: Kementerian UMKM Komitmen Wujudkan Swasembada Pangan Melalui Pemberdayaan
Turut mendampingi kunjungan tersebut, Faisal Anwar selaku Tenaga Ahli Menteri UMKM Bidang Pembiayaan dan Skema UMKM. Ia mengapresiasi tata kelola serta kontribusi KSP GDP dalam memperkuat sektor UMKM di Bali.
“KSP Guna Prima Dana membuktikan bahwa koperasi dapat tumbuh menjadi lembaga pembiayaan yang profesional, sehat, dan benar-benar hadir membantu anggota. Ini luar biasa, tingkat NPL-nya hanya 0,11 persen. Selain itu, penyaluran KUR ke sektor produksi mencapai 82 persen, melampaui target pemerintah sebesar 60 persen,” kata Faisal.
Ia menilai keberhasilan KSP GDP dalam mengelola penyaluran KUR layak dijadikan contoh bagi koperasi simpan pinjam lain di Indonesia, terutama dalam aspek tata kelola kelembagaan, kedekatan dengan anggota, prinsip kehati-hatian dalam pembiayaan, serta kemampuan menjaga kualitas kredit tetap sehat.
“Ini membuktikan bahwa koperasi mampu menjadi instrumen penting dalam penguatan ekonomi rakyat,” tambahnya.
Faisal juga menegaskan bahwa pembiayaan yang sehat perlu diimbangi dengan pendampingan usaha dan pembukaan akses pasar bagi UMKM agar pembiayaan yang disalurkan benar-benar produktif, berkelanjutan, dan berdampak pada pertumbuhan usaha anggota. (RO)








