
PeluangNews, Jakarta-Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia membidik peningkatan ekspor nasional sebesar 10 persen dari sekitar USD399 miliar menjadi USD439 miliar. Target tersebut akan didorong melalui perluasan pasar internasional, penguatan peran UMKM, serta peningkatan investasi untuk memperkuat daya saing ekonomi nasional.
Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie mengatakan, salah satu langkah yang disiapkan untuk mencapai target tersebut adalah melalui inisiatif We Buy from Indonesia.
Program ini diarahkan untuk memperluas pemasaran produk Indonesia sekaligus membuka akses lebih besar bagi pelaku usaha nasional ke pasar global.
Hal itu disampaikan Anindya dalam pembukaan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kadin Indonesia 2026 di Jakarta, Kamis (29/10/2026), yang mengangkat tema “Ekonomi Kerakyatan untuk Indonesia Mendunia”.
Menurut Anindya, peningkatan ekspor tidak bisa hanya mengandalkan komoditas unggulan yang selama ini menjadi penopang perdagangan Indonesia. Kadin juga ingin mendorong produk UMKM agar mampu menembus pasar internasional dan masuk dalam rantai pasok global.
“Kita tidak ingin hanya menjadi jago kandang. UMKM harus inklusif dan mendapatkan akses ke pasar global maupun rantai pasok internasional,” kata Anindya.
Dia menjelaskan, ekspor Indonesia saat ini masih ditopang sejumlah komoditas, seperti kelapa sawit, batu bara, dan stainless steel. Di luar komoditas tersebut, masih terdapat peluang besar untuk mengembangkan pasar ekspor baru, termasuk ke Uni Eropa, Asia Tengah, dan Kanada.
Anindya menilai perluasan pasar tersebut penting agar struktur ekspor Indonesia semakin beragam. Dengan begitu, peningkatan ekspor tidak hanya bergantung pada sejumlah komoditas utama, tetapi juga ditopang produk bernilai tambah dan keterlibatan lebih luas pelaku usaha nasional.
Peningkatan ekspor juga dinilai memiliki kaitan langsung dengan penguatan nilai tukar rupiah. Menurut Anindya, bertambahnya devisa dari aktivitas perdagangan internasional dapat membantu memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
Selain ekspor, Kadin mendorong peningkatan investasi sebagai salah satu sumber pertumbuhan ekonomi. Anindya menilai arus modal perlu diarahkan ke sektor-sektor produktif dan investasi jangka panjang agar memberikan dampak nyata terhadap perekonomian.
Dia juga menyoroti pentingnya menjaga kualitas pertumbuhan perusahaan, termasuk yang masuk ke pasar modal. Menurutnya, pergerakan harga saham harus mencerminkan kondisi fundamental dan prospek bisnis perusahaan.
“Pertumbuhan harus organik dan berdasarkan fakta. Pasar tentu melihat fundamental perusahaan dan ekspektasi pertumbuhannya,” ujarnya.
Anindya menambahkan, masih banyak perusahaan nasional yang memiliki peluang untuk berkembang dan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia. Namun, proses tersebut harus didukung kinerja usaha yang sehat dan berkelanjutan.
Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani mengapresiasi langkah Kadin di bawah kepemimpinan Anindya dalam memperkuat sinergi dengan pemerintah. Menurutnya, kolaborasi tersebut diperlukan agar kebijakan pemerintah dapat tersampaikan dan dijalankan secara efektif oleh dunia usaha.
Rosan mengatakan, Kadin memiliki posisi strategis dalam menyosialisasikan berbagai kebijakan dan regulasi kepada asosiasi pengusaha, kelompok usaha, hingga jajaran Kadin di daerah.
“Peran Kadin sangat penting untuk menyampaikan kebijakan dan regulasi pemerintah kepada asosiasi, kelompok pengusaha, maupun Kadin di daerah,” kata Rosan.
Dia menilai, penyampaian informasi yang lebih luas akan membantu mempercepat implementasi kebijakan sekaligus meningkatkan dampaknya terhadap masyarakat dan investasi.
Dengan sinergi tersebut, Rosan berharap berbagai inisiatif dunia usaha, termasuk upaya Kadin memperluas pasar ekspor dan mendorong investasi, dapat berjalan selaras dengan agenda pemerintah.
Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menegaskan pentingnya koordinasi antara otoritas moneter dan dunia usaha dalam menjaga stabilitas rupiah. Menurutnya, kebijakan BI perlu bersinergi dengan pelaku usaha agar dampaknya dapat dirasakan secara langsung oleh sektor riil.
“Sinergi dengan dunia usaha, termasuk Kadin, menjadi penting agar kebijakan yang kami ambil bisa memberikan dampak nyata,” papar Destry.
Dia menjelaskan, pergerakan rupiah dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari keseimbangan permintaan dan penawaran valuta asing, persepsi pasar, hingga perkembangan ekonomi global. Meski demikian, Destry menyebut fundamental ekonomi Indonesia relatif baik dibandingkan sejumlah negara dalam kelompok yang sama.
Menurutnya, stabilitas nilai tukar diperlukan untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif. Kondisi tersebut akan membantu dunia usaha menjalankan kegiatan produksi, memperluas investasi, serta menciptakan lapangan kerja.
Destry menambahkan, Bank Indonesia akan terus menerapkan kebijakan berdasarkan perkembangan data ekonomi dan berkoordinasi dengan pemerintah. Instrumen yang digunakan tidak hanya terbatas pada suku bunga, tetapi juga mencakup kebijakan makroprudensial, insentif biaya lindung nilai, dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
“Stabilitas rupiah menjadi salah satu hal yang harus terus dijaga karena sangat penting untuk mendukung pertumbuhan sektor riil dan penciptaan lapangan kerja,” pungkasnya.








