hayed consulting
hayed consulting
umkm insigh
Opini  

UMKM Tak Cukup Bertahan, Ini Kunci agar Naik Kelas

strategi umkm naik kelas

UMKM Tak Cukup Bertahan, Ini Kunci agar Naik Kelas
Dok.Peluangnews/HO-pribadi

Prof. Dr. Dita Amanah, MBA
Dosen Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pendidikan Indonesia

USAHA mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi penggerak penting perekonomian Indonesia. Di balik produk makanan, fesyen, kerajinan, dan usaha lokal lainnya, ada jutaan pelaku usaha yang menghidupkan ekonomi masyarakat. Namun, ketidakpastian ekonomi, kenaikan biaya operasional, perubahan daya beli, dan persaingan digital membuat perjalanan mereka kian menantang.

Karena itu, persoalannya bukan hanya bagaimana UMKM bertahan, tetapi juga bagaimana mereka beradaptasi dan tetap meraih keuntungan. Usaha yang terus berjalan belum tentu sehat secara keuangan. Bertahan memang penting, tetapi UMKM juga perlu membangun ketahanan dan daya saing.

Salah satu pelajaran dapat dilihat dari Makaroni Ngehe, usaha makanan ringan yang didirikan Ali Muharam pada 11 Maret 2013. Berawal dari makaroni yang terinspirasi camilan masa kecil, usaha ini berkembang dengan menghadirkan beragam produk, seperti makaroni kering, makaroni basah, dan bihun renyah.

Kisah tersebut menunjukkan pentingnya inovasi untuk menjangkau kebutuhan konsumen yang beragam. UMKM tidak harus meniru produk yang sedang populer. Mereka perlu menemukan keunikan yang membuat produknya berbeda sekaligus tetap relevan bagi pelanggan.

Produsen keripik singkong di Jawa Barat, misalnya, bisa menawarkan variasi rasa, memperbaiki kemasan agar produk lebih aman selama pengiriman, atau menyediakan ukuran sesuai daya beli konsumen. Namun, inovasi harus disertai perhitungan biaya dan uji pasar. Produk baru yang tidak diminati justru berisiko menumpuk sebagai persediaan dan membebani modal kerja.

Pelajaran lain datang dari Sambal Bu Rudy di Surabaya. Menurut situs resminya, usaha kuliner ini bermula pada 2 Juli 1995 dengan menjual nasi bungkus. Sambal bawang yang disukai pelanggan kemudian berkembang menjadi produk oleh-oleh dengan identitas merek yang kuat.

Pengalaman itu menegaskan bahwa konsistensi produk, identitas merek, dan pengalaman pelanggan sama pentingnya. Konsumen tidak selalu memilih harga termurah. Cita rasa, kepercayaan, kemudahan memperoleh produk, dan pengalaman sebelumnya juga memengaruhi keputusan pembelian.

Baca Juga:Berkoperasi Bukan Sekadar Pinjam Uang, Kambara: Menabung dan Gotong Royong Ubah Hidup Anggota

Prinsip tersebut bisa diterapkan oleh UMKM sesuai skala usahanya. Produsen sambal rumahan, misalnya, dapat menjaga konsistensi rasa, mencantumkan informasi produk dengan jelas, memperhatikan keamanan pangan, dan berkomunikasi secara baik dengan pelanggan. Media sosial dan lokapasar dapat memperluas jangkauan, tetapi loyalitas tetap dibangun melalui kualitas dan kepercayaan.

Transformasi digital juga terlihat dalam perjalanan Dimsum Inmons, usaha kuliner asal Bandung yang dirintis Ani Andriyani pada 2017. Laporan LinkUMKM BRI yang terbit pada September 2026 menyebutkan, usaha ini bermula dari garasi rumah, lalu berkembang melalui jaringan reseller, kemitraan, lokapasar, perdagangan melalui media sosial, pameran, dan penjualan produk beku.

Contoh tersebut memperlihatkan bahwa digitalisasi dapat memperluas pasar jika terhubung dengan distribusi dan pengembangan usaha. Namun, UMKM tidak harus hadir di semua platform sekaligus. Saluran pemasaran perlu dipilih berdasarkan karakter produk, kapasitas operasional, dan biaya yang sanggup ditanggung. strategi umkm naik kelas

Usaha makanan rumahan, misalnya, dapat memulai pemasaran melalui WhatsApp Business untuk menerima pesanan dan mencatat pelanggan. Jika permintaan mulai stabil, pemilik usaha bisa mempertimbangkan lokapasar atau jaringan reseller. Keberhasilan bukan sekadar banyaknya pengikut atau tayangan konten, melainkan transaksi yang menghasilkan keuntungan, pembelian ulang, dan biaya pemasaran yang efisien.

Inovasi dan pemasaran juga tidak akan optimal tanpa pengelolaan keuangan yang baik. Pelaku UMKM perlu memahami perbedaan omzet dan laba, memisahkan uang pribadi dari uang usaha, serta memantau arus kas secara rutin.

Bayangkan sebuah usaha kuliner yang menerima lebih banyak pesanan, tetapi labanya justru turun karena harga bahan baku dan biaya layanan platform meningkat. Pemilik usaha perlu menghitung biaya tiap produk, mengurangi pemborosan, meninjau harga jual, dan mengenali menu dengan margin terbaik. Menambah promosi tanpa memahami struktur biaya justru bisa memperbesar kerugian.

Pencatatan sederhana membantu pelaku usaha mengambil keputusan berdasarkan kondisi nyata. Sebelum membuka cabang atau menambah pinjaman, mereka perlu menguji permintaan pasar dan menghitung kemampuan membayar. Ketahanan tidak dibangun lewat ekspansi terburu-buru, melainkan pertumbuhan yang terukur.

Penguatan UMKM bukan hanya tanggung jawab pelaku usaha. Pemerintah perlu memperluas akses pembiayaan yang sesuai, menyederhanakan perizinan, dan membuka peluang pasar. Lembaga keuangan dapat membantu meningkatkan literasi keuangan serta menyediakan pembiayaan produktif. Sementara itu, perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui riset pasar, pendampingan manajemen, inovasi produk, dan pemasaran digital. strategi umkm naik kelas

Pendampingan juga tidak boleh berhenti pada pelatihan satu kali. Hasilnya perlu diukur melalui indikator nyata, seperti kualitas pencatatan keuangan, margin keuntungan, pembelian ulang, produktivitas, dan perluasan pasar. Dengan begitu, keberhasilan program pemberdayaan tidak hanya dihitung dari jumlah peserta, tetapi juga dari peningkatan kemampuan dan kinerja usaha.

Makaroni Ngehe, Sambal Bu Rudy, dan Dimsum Inmons menunjukkan jalur pengembangan yang berbeda: inovasi produk, penguatan merek, serta perluasan pemasaran dan distribusi. Pengalaman mereka tentu tidak menjamin semua UMKM akan meraih hasil serupa. Namun, kisah tersebut memberi pelajaran tentang pentingnya konsistensi, kepekaan membaca pasar, dan pertumbuhan bertahap.

Di tengah ketidakpastian ekonomi, UMKM membutuhkan lebih dari tambahan modal dan kehadiran di platform digital. Mereka memerlukan kemampuan manajerial, disiplin keuangan, pemasaran yang berorientasi pada pelanggan, serta keberanian berinovasi berdasarkan kebutuhan pasar.

Pada akhirnya, UMKM tangguh bukanlah usaha yang tak pernah menghadapi kesulitan, melainkan usaha yang mampu belajar dan menyesuaikan strategi ketika keadaan berubah. Agenda pengembangan UMKM Indonesia perlu bergerak melampaui upaya membantu usaha bertahan. Tujuannya adalah membangun usaha yang sehat, adaptif, menguntungkan, dan berdaya saing. Sebab, saat badai ekonomi datang, yang menentukan bukan sekadar kemampuan bertahan, tetapi kesiapan untuk menghadapi perubahan berikutnya. (*)

pasang iklan di sini
lpdb.go.id