hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi
Opini  

Senjakala Trumperium

Dua kali diproses pemakzulan. Dua kali lolos di House. Dua kali pula gagal di Senat. Itu di era pertama Donald Trump (2017-21). Fatsalnya kasus Ukraina, Des 2019, dengan tuduhan abuse of power dan mengganjal penyelidikan DPR. Hasilnya, lolos di House gagal di Senat (kurang 19 suara), 10 bulan jelang Pemilu 2020. Impeachment kedua: 6 Jan 2021, tuduhan menghasut massa menyerbu Capitol. Hasilnya, lolos di House gagal di Senat (kurang 10 suara), sepekan jelang lengser.

Ambang 2/3 Senat itu muskil ditembus. Syarat 67 dari 100 senator kudu acc itu amanat konstitusi. Dalih founding fathers negeri itu, demi stabilitas. Konstalasi saat ini, Republik : Demokrat 53:47. Sepanjang usia AS, sejak 4 Juli 1776, belum ada presiden lengser karena di-impeach. Spirit impeachment itu seutuhnya perang partai. Senator umumnya takut kehilangan basis pemilih, lalu pilih main aman.

Proses impeachment sukses jika terhimpun 218 suara House + 67 suara Senat. Andai tidak, prosesnya jalan di tempat. Buat 218 suara House, jika semua Demokrat solid pun, butuh 5 suara Republik berbalik. Untuk 67 suara Senat lebih mustahil karena total Demokrat dan independen cuma 51 (perlu 16 Republik membelot).

Demo 8 juta massa di 30 kota seantero Amerika gak ngefek. Sebab, untuk meloloskan articles of impeachment murni proses politik di DPR dan Senat. Yang bikin politisi takut hanya kalah pemilu, bukan gempita referendum jalanan. Trump sendiri bilang 6 Jan 2026: “If we don’t win the midterms, I’ll get impeached”. Dia tahu penentunya kursi DPR Nov 2026 di Pemilhan Sela, bukan jutaan massa yang kibarkan panji “No Kings” April lalu.

Sejatinya, siapa pun presiden Amerika, tidak gampang tumbang cuma karena arus “gelombang populer”. Kecuali terjadi pembelotan besar-besaran atau bukti yang bikin partai berkuasa muak. Contohnya banyak. John Tyler, 1842, tak sampai didakwa dan gagal di House. James Buchanan, 1860 batal impeach karena kurang bukti. Terkait nama-nama Ulysses S. Grant, Warren G. Harding, Harry Truman, Ronald Reagan, George W. Bush, Barack Obama, Joe Biden; pernah ada resolusi impeachment masuk, tapi mati di Komite; tidak pernah voting full House. Jadi, levelnya masih “wacana”.

Tercatat tiga presiden AS yang benar-benar di-impeach DPR, dan beberapa lagi yang “hampir” tapi tidak sampai didakwa. Bedanya: impeached = sudah didakwa House, tapi belum tentu dicopot. Hingga kini, mekanisme impeachment belum memakan korban secara nyata.

Yang sudah di-impeach DPR ada 3 orang. Yakni Andrew Johnson, 1868, tapi dia selamat di Senat dengan selisih 1 suara; lalu Bill Clinton, 1998, Lolos di House gagal di Senat (jauh dari ambang). Donald Trump – 2019 & 2021,  Lolos di House gagal di Senat (kurang 10 suara). Yang “hampir” tapi tidak sampai di-impeach House adalah Richard Nixon, 1974. House sudah setujui 3 pasal impeachment: obstruction of justice, abuse of power, contempt of Congress. Pasti dicopot Senat, tapi ia memilih mundur 9 Agustus 1974, sebelum voting di DPR. Jadi, yang “hampir” dicopot: Johnson dan Nixon.

Akankah Trump lolos dari lobang jarum pemakzulan? Dia kini dipagari tiga jurus serius. Di dalam, keropos legitimasi di mata rakyat dan tekanan terhadap kekuasaan yang makin terbuka di lingkaran elite. Di luar, para sekutu Eropa dan Timur Tengah hengkang satu per satu. Semua berpangkal dari banalisme Trump sebagai satu-satunya presiden AS yang sukses diprovokasi Israel untuk menyerang Iran●(Mardanus)

pasang iklan di sini
octa vaganza