
Credit Union di Negeri Paman Sam hari-hari ini tengah berjuang keras membatalkan rencana pemerintahan Donald Trump yang akan memangkas dana hibah untuk pelaku UMKM dan koperasi kecil di negara tersebut.
Sebagai bagian dari proposal anggaran federal tahun fiskal 2027, Pemerintahan Amerika Serikat telah mengusulkan pemotongan dana Community Development Financial Institutions (CDFI) sebesar USD 204,5 juta.
CDFI Fund merupakan sebuah program Departemen Keuangan AS yang mendukung lembaga keuangan dan pemberi pinjaman komunitas di wilayah yang tidak terjangkau oleh perbankan.
Seperti dikutip dari thenews.coop, kalangan Credit union di Amerika Serikat mengingatkan bahwa rencana pemotongan dana CDFI tersebut dapat melemahkan penyaluran pembiayaan kepada usaha kecil di komunitas yang belum terlayani.
Rencana Trump tersebut sebetulnya melanjutkan usulan Gedung Putih sebelumnya yang juga mengupayakan pengurangan pendanaan. Sejumlah pelaku industri buru-buru mengingatkan bahwa hal ini dapat secara signifikan mengurangi—bahkan mengancam keberlangsungan—program hibah utama yang mendukung lembaga pembiayaan di wilayah pedesaan dan berpendapatan rendah.
Asosiasi nasional America’s Credit Unions mengecam usulan tersebut dan mengingatkan bahwa CDFI—yang mencakup banyak credit union—memainkan peran penting dalam menyediakan layanan keuangan di area yang biasanya tidak dilayani oleh bank konvensional.
“Usulan untuk mengurangi pendanaan CDFI Fund sangat mengkhawatirkan, terutama di saat masyarakat di seluruh negeri sangat bergantung pada akses terhadap layanan keuangan yang aman dan terjangkau,” ujar Presiden dan CEO Scott Simpson.
“CDFI memiliki peran krusial dalam memperluas peluang ekonomi, khususnya di wilayah yang kurang terlayani. Setiap pengurangan dukungan berisiko membatasi dampak tersebut.”
“Dengan hampir 900 cabang credit union yang menjadi satu-satunya lembaga keuangan di wilayah sensus tertentu, credit union sering kali menjadi satu-satunya akses layanan keuangan dan tetap berkomitmen untuk menjangkau masyarakat yang kurang terlayani di mana pun mereka berada.”
Inclusiv, organisasi nasional yang menaungi credit union pengembangan komunitas di AS, juga menyuarakan penolakan terhadap usulan tersebut. Presiden/CEO Inclusiv, Cathie Mahon, mengatakan bahwa pada saat masyarakat Amerika Serikat menaruh harapanterhadap pemerintah untuk menghadirkan keterjangkauan dan peluang ekonomi, maka usulan pemotongan dana CDFI sangat mengkhawatirkan.
“Lebih dari 70% credit union CDFI melayani komunitas pedesaan, dan mereka terbukti mampu mengelola dana federal secara efektif, dengan memanfaatkan hibah CDFI hingga minimal 8:1 melalui modal swasta. Investasi pada CDFI berarti investasi pada peluang ekonomi bagi seluruh masyarakat Amerika.”
Inclusiv juga membandingkan situasi ini dengan usulan serupa dari Gedung Putih pada tahun sebelumnya, yang juga mengupayakan pemotongan signifikan terhadap dana CDFI. Berkat upaya lobi dan dukungan bipartisan dari anggota Kongres, dana tersebut tetap dipertahankan penuh sebesar USD 324 juta untuk tahun 2026.
Kongres kerap mengembalikan pendanaan CDFI meskipun ada usulan pemotongan. Namun, sebagaimana diperingatkan oleh Inclusiv dan America’s Credit Unions, dana hibah yang telah disetujui secara federal untuk tahun fiskal 2025 dan 2026 masih ditahan oleh Gedung Putih meskipun telah mendapat persetujuan Kongres.
Begitulah, di tengah situasi perang dan tingginya tekanan ekonomi di Amerika Serikat, pelaku UMKM dan koperasi di Negeri Paman Sam itu ternyata juga harus berjuang keras agar tetap survive, situasi yang semakin suram jika dana bantuan CDFI jadi dipangkas oleh Kongres. (drp)





