
PeluangNews, Jakarta-Merasa sehat dan tetap aktif tidak selalu berarti seseorang terbebas dari risiko penyakit jantung. Hipertensi, misalnya, kerap tidak menimbulkan gejala sehingga seseorang bisa tidak menyadari kondisi tekanan darahnya hingga muncul komplikasi.
Menjelang World Heart Day 2026 pada 29 September, OMRON Healthcare Indonesia mengajak masyarakat lebih proaktif mengenali risiko dan melakukan pemantauan kesehatan secara rutin.
Tahun ini, World Heart Federation mengangkat tema “Heart Disease Can Hide in Plain Sight: Don’t Miss a Beat”. Tema tersebut mengajak masyarakat lebih peka terhadap tanda dan faktor risiko penyakit kardiovaskular yang kerap terlewatkan.
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi hipertensi pada penduduk usia 18 tahun ke atas mencapai 30,8 persen berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah. Sementara berdasarkan diagnosis dokter hanya 8,6 persen. Kesenjangan tersebut menunjukkan masih banyak masyarakat yang belum mengetahui status hipertensinya.
Direktur OMRON Healthcare Indonesia Tomoaki Watanabe mengatakan menjaga kesehatan seharusnya menjadi kebiasaan sehari-hari, bukan hanya dilakukan ketika seseorang membutuhkan perawatan.
“Kami percaya bahwa menjaga kesehatan merupakan perjalanan yang dilakukan setiap hari, bukan hanya ketika seseorang membutuhkan perawatan. Karena itu, penting bagi masyarakat untuk memahami faktor risiko, membangun kebiasaan yang mendukung kesehatan, dan memiliki akses terhadap solusi yang dapat membantu mereka melakukan pemantauan secara rutin,” ujar Tomoaki.
Melalui kampanye “Keep On, Life On”, OMRON mengajak masyarakat membangun kebiasaan sehat sekaligus tetap menjalani aktivitas yang bermakna bagi keluarga dan lingkungan sekitar.
Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal-Hipertensi Dr. Decsa Medika Hertanto menjelaskan, hipertensi yang berlangsung dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kardiovaskular, termasuk atrial fibrillation (AFib), yakni gangguan irama jantung yang menyebabkan detak jantung tidak teratur.
“Hipertensi yang berlangsung dalam jangka panjang dapat memberikan beban pada jantung dan pembuluh darah, sehingga meningkatkan risiko terjadinya gangguan irama seperti AFib,” katanya.
Menurut Decsa, AFib dapat meningkatkan risiko terbentuknya bekuan darah. Jika bekuan tersebut terbawa ke otak, kondisi itu dapat memicu stroke. Karena itu, pengendalian tekanan darah dan pemahaman terhadap kondisi irama jantung menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan kardiovaskular.
Pentingnya pemantauan kesehatan juga dirasakan Iwet Ramadhan, penyintas stroke sekaligus Head of Communications Yayasan Jantung Indonesia dan OMRON Brand Ambassador. Ia mengaku pengalaman tersebut membuatnya lebih konsisten memperhatikan kondisi tubuh.
“Saya pernah mengalami sendiri bagaimana sebuah masalah kesehatan bisa mengubah hidup kita. Setelah mengalami stroke, saya sadar bahwa merasa sehat dan tetap aktif bukan berarti kita sudah mengetahui kondisi kesehatan kita secara keseluruhan,” ujar Iwet.
Sementara itu, aktor dan presenter Dion Wiyoko menilai gaya hidup sehat perlu dibangun secara realistis dan berkelanjutan.
“Menurut saya, hidup sehat itu tidak harus selalu berat atau ekstrem. Yang penting adalah bagaimana kita bisa menemukan aktivitas yang kita nikmati dan menjadikannya bagian dari keseharian,” kata Dion.
Dalam kampanye tersebut, OMRON juga memperkenalkan solusi ECG portabel untuk membantu pemantauan irama jantung di rumah, termasuk kemungkinan AFib. Perangkat yang diperkenalkan meliputi OMRON Portable 1-Lead ECG Heart Rate Monitor HCG-8011B dan Portable 6-Lead ECG Heart Rate Monitor HCG-8060T.
OMRON menegaskan hasil ECG yang menunjukkan kemungkinan AFib bukan merupakan diagnosis dan tetap perlu dievaluasi tenaga kesehatan.
Pemantauan rutin dapat menjadi informasi tambahan agar masyarakat lebih cepat mengenali perubahan kondisi kesehatan dan berkonsultasi dengan dokter bila diperlukan.








