
PeluangNews, Jakarta-Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam penanggulangan tuberkulosis (TBC). Di tengah tingginya angka penularan dan kematian akibat penyakit TBC, pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mulai memperkuat upaya deteksi dini. Salah satunya melalui teknologi CAD4TB® yang telah digunakan untuk skrining lebih dari 2 juta orang di Indonesia.
Teknologi yang dikembangkan Delft Imaging tersebut membantu tenaga kesehatan mengidentifikasi indikasi TBC melalui analisis citra rontgen dada. Pencapaian ini merupakan hasil kolaborasi perusahaan dengan penyedia layanan kesehatan, program pemerintah, perusahaan pertambangan, serta berbagai mitra pelaksana dalam memperluas akses skrining di sejumlah wilayah Indonesia.
Besarnya kebutuhan deteksi dini tidak terlepas dari tingginya beban TBC di Tanah Air. Berdasarkan Global Tuberculosis Report 2024 yang diterbitkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Indonesia termasuk dalam delapan negara yang secara kolektif menyumbang sekitar dua pertiga kasus TBC global. Indonesia diperkirakan menyumbang sekitar 10% dari total kasus TBC dunia.
WHO memperkirakan lebih dari satu juta orang mengalami TBC di Indonesia pada 2025, dengan sekitar 134.000 kematian setiap tahun. Sementara itu, pada peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia 2026, Kementerian Kesehatan menyampaikan bahwa setiap menit dua orang terinfeksi TBC dan setiap empat menit satu orang meninggal akibat penyakit tersebut.
Kondisi ini memperlihatkan pentingnya memperluas skrining agar kasus yang selama ini belum terdeteksi dapat segera ditemukan. Keterlambatan diagnosis bukan hanya meningkatkan risiko penularan, tetapi juga membuat pasien kehilangan kesempatan memperoleh pengobatan lebih cepat.
CEO sekaligus Founder Delft Imaging, Guido Geerts, mengatakan penanggulangan TBC membutuhkan inovasi berkelanjutan, kolaborasi lintas sektor, serta komitmen memperluas akses layanan kesehatan hingga komunitas di wilayah terpencil.
“Tuberkulosis (TBC) masih menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat terbesar di Indonesia, yang berdampak pada ratusan ribu orang dan keluarga setiap tahunnya. Meskipun berbagai kemajuan telah dicapai, eliminasi TBC membutuhkan inovasi yang berkelanjutan, kolaborasi yang erat, serta komitmen untuk memperluas akses layanan kesehatan hingga ke komunitas di wilayah terpencil,” ujar Guido.
Menurut dia, keterlibatan Delft Imaging di Indonesia tidak hanya berorientasi pada penyediaan teknologi, tetapi juga penguatan kapasitas lokal dan transfer pengetahuan.
Perusahaan berupaya membangun kemitraan jangka panjang dengan pemerintah, fasilitas kesehatan, dan komunitas agar solusi yang diterapkan sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
Dari sisi medis, Guru Besar sekaligus Dokter Spesialis Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Konsultan Infeksi Paru, Prof. Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc., Sp.P(K), menilai tantangan penanggulangan TBC bukan hanya tingginya jumlah kasus, melainkan masih banyaknya penderita yang belum teridentifikasi.
Menurut Erlina, skrining aktif perlu diprioritaskan, terutama bagi kelompok berisiko, seperti orang yang tinggal serumah atau melakukan kontak erat dengan pasien TBC, orang dengan HIV, bayi, anak-anak, lansia, serta individu dengan kondisi yang melemahkan sistem kekebalan tubuh.
Dia menjelaskan, teknologi AI seperti CAD4TB berpotensi memperluas jangkauan skrining sekaligus meningkatkan efisiensi penemuan kasus. Melalui analisis citra rontgen dada, sistem dapat membantu mengidentifikasi kelainan yang mengindikasikan kemungkinan TBC sehingga tenaga kesehatan dapat menentukan individu yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan.
Teknologi tersebut juga berpotensi membantu pelaksanaan skrining di daerah yang memiliki keterbatasan tenaga ahli radiologi. Meski demikian, hasil analisis AI tidak dapat digunakan sebagai dasar diagnosis tunggal.
“Hasil analisis AI tetap perlu dikonfirmasi melalui pemeriksaan lanjutan dan penilaian tenaga kesehatan sebelum diagnosis dapat ditegakkan. Karena itu, penerapan teknologi ini perlu diimbangi dengan akurasi yang terjaga, infrastruktur yang memadai, serta kapasitas tenaga kesehatan dalam menggunakannya,” jelas Erlina.
Ia menegaskan, keberhasilan pengendalian TBC tidak cukup diukur dari jumlah masyarakat yang menjalani skrining. Setiap orang yang terindikasi harus memperoleh pemeriksaan diagnostik lanjutan, pengobatan sesuai anjuran, serta pendampingan selama menjalani terapi.
Dengan demikian, pencapaian skrining lebih dari 2 juta orang melalui CAD4TB menjadi salah satu kontribusi pemanfaatan teknologi dalam memperkuat penanggulangan TBC di Indonesia.
Namun, perluasan infrastruktur skrining, akses pengobatan, dan kolaborasi pemerintah dengan sektor swasta tetap diperlukan untuk menemukan kasus yang belum terdeteksi dan mendukung target eliminasi TBC pada 2030.








