
PeluangNews, Jakarta – Pembelian bahan bakar minyak (BBM) subsidi oleh masyarakat ekonomi mampu ditengarai masih berlangsung.
Karena itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menekankan agar masyarakat berekonomi mampu tidak menggerogoti jatah BBM bersubsidi yang diperuntukkan bagi warga berhak.
“Saya mengimbau kepada saudara-saudara yang mampu, pendapatannya bagus, ekonominya menengah ke atas, mobilnya bagus, janganlah pakai BBM bersubsidi,” kata Bahlil usai menghadiri agenda Electricity Connect 2026 di Tangerang, Banten, dikutip Rabu (23/9/2026).
Penegasan Bahlil merujuk pada kasus antrean panjang SPBU di Makassar, Sulawesi Selatan. Di daerah ini, pihak kepolisian membongkar modus mobil mewah yang memodifikasi tangki hingga sanggup menampung hingga 700 liter BBM.
“Memang terjadi shifting (konsumen nonsubsidi ke subsidi), gimana nggak shifting kalau mobil bagus begitu saja diisi pakai minyak subsidi, habis itu dijual lagi,” ungkap Bahlil menyoroti modus tersebut.
Bahlil menjelaskan bahwa gejolak harga minyak dunia yang menembus di atas US $100 per barel memicu perpindahan konsumsi ini.
Tingginya harga minyak nonsubsidi mendorong sebagian pemilik kendaraan beralih memburu BBM bersubsidi.
Kendati demikian, persoalan kelangkaan BBM yang sempat memicu antrean mengular di Makassar pada Kamis (17/9) kini telah terurai dan pasokannya dipastikan kembali stabil.
Selain faktor kenaikan harga global, aksi borong dan dugaan pemakaian BBM subsidi secara berlebihan menjadi penyebab utama perpanjangan antrean di sejumlah lokasi.
Saat menanggapi fenomena ini, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah memberikan instruksi langsung untuk menertibkan penyimpangan distribusi di lapangan.
Disebutkan bahwa pemerintah terus menjalin koordinasi intensif bersama PT Pertamina (Persero) guna menata kembali implementasi aturan BBM bersubsidi secara ketat.
Di sisi lain, sebelumya Bahlil menegaskan pemerintah tidak akan menaikkan harga BBM subsidi hingga akhir 2026.
Penegasan ini disampaikan di tengah riuh isu kenaikan harga BBM di media sosial, sembari mengingatkan bahwa produk non-subsidi mengikuti dinamika pasar.
Bahlil meminta masyarakat cermat menyaring informasi soal harga BBM dan memahami bahwa penyesuaian untuk BBM non-subsidi bergantung pada fluktuasi Indonesian Crude Price (ICP). []








