
PeluangNews, Jakarta-Kekayaan minuman tradisional Nusantara dinilai memiliki peluang besar untuk naik kelas menjadi produk berstandar internasional. Salah satunya Arak Bali yang didorong tidak hanya sebagai produk lokal, tetapi juga sebagai substitusi minuman beralkohol impor untuk memenuhi kebutuhan industri pariwisata.
Direktur PT Desa Poetera Bali sekaligus penggerak “Rumah UMKM Kita”, I Wayan Sumerta, mengatakan Indonesia memiliki beragam minuman hasil fermentasi dan distilasi dengan cita rasa khas yang tidak kalah dibandingkan produk dari luar negeri. Karena itu, ketergantungan terhadap produk alkohol impor dengan merek asing dinilai perlu dikurangi secara bertahap dengan memperkuat produk lokal yang memiliki identitas dan keunggulan tersendiri.
“Setiap daerah di Indonesia punya minuman hasil fermentasi dan atau distilasi yang punya cita rasa tidak kalah dengan produk luar negeri. Di Sulawesi ada Tjap Tikus, di NTT ada Sopi, di Bali ada Arak Bali dengan puluhan merek dengan cita rasa khas, seperti Arak Salak Dhadi San ini,” kata Sumerta.
Menurut dia, Arak Bali memiliki keunikan karena diproduksi dari bahan-bahan alami yang berasal dari kekayaan alam lokal. Bahan bakunya antara lain nira dari pohon kelapa, enau, dan lontar yang banyak tumbuh di kawasan pedesaan di sekitar lembah Gunung Agung, Bali.
Dalam proses fermentasinya, para produsen juga memanfaatkan gula lokal, seperti gula jawa atau gula Bali. Proses tersebut, kata Sumerta, menjadi salah satu kekuatan produk Arak Bali karena tidak menggunakan gula pasir, molase, maupun etanol pabrikan.
“Ini murni karya dari kreativitas dan kearifan lokal petani di Bali,” ujar Sumerta yang juga menjabat sebagai Ketua Koperasi Poetera Desa Wisata yang menaungi para petani Arak Bali.
Sumerta berharap Arak Bali dapat mengikuti jejak minuman khas sejumlah negara yang telah berkembang menjadi produk dengan identitas global. Jepang, misalnya, dikenal dengan sake, Korea Selatan dengan soju, dan Meksiko dengan tequila.
Melalui kerja sama dengan Export Center Surabaya yang merupakan bagian dari Kementerian Perdagangan, produk Arak Bali diharapkan dapat memperluas pasar hingga mancanegara.
Menurut Sumerta, Indonesia memiliki peluang besar untuk membangun merek minuman khas yang mampu menjadi bagian dari kebutuhan industri pariwisata internasional.
“Indonesia perlu mempunyai brand internasional untuk mengisi kebutuhan pariwisata, bukan untuk konsumsi rakyat Indonesia,” lanjutnya.
Ia menilai perkembangan industri pariwisata global menunjukkan adanya kebutuhan terhadap produk minuman khas yang menjadi bagian dari pengalaman wisatawan ketika mengunjungi sebuah negara atau daerah.
Sumerta menegaskan Arak Bali kini telah mengalami transformasi dari produk tradisional menjadi produk yang semakin modern dan memiliki standar legalitas.
Produk Arak Bali, menurut dia, telah mengikuti ketentuan yang berlaku, termasuk memiliki izin edar, menggunakan pita cukai, serta dikemas dalam botol kaca dengan desain dan kemasan yang semakin menarik.
“Arak Bali sekarang bukan lagi merupakan produk murahan. Produk ini sudah mengikuti aturan yang ada, dengan kemasan yang menarik dan tidak kalah dengan merek asing,” ujarnya.
Transformasi tersebut dinilai penting untuk meningkatkan kepercayaan pasar sekaligus memperkuat posisi Arak Bali sebagai produk premium yang dapat bersaing di sektor pariwisata dan pasar ekspor.
Selain sebagai produk minuman, Arak Bali juga dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi bagian dari wisata gastronomi berbasis warisan budaya atau gastronomy heritage tourism.
Sumerta mengatakan wisatawan tidak hanya dapat menikmati produk akhirnya, tetapi juga memperoleh pengalaman untuk mengenal proses pembuatan Arak Bali, mulai dari pengambilan bahan baku, proses fermentasi dan distilasi, hingga penyimpanan produk selama bertahun-tahun sebelum dipasarkan.
Menurut dia, pengalaman tersebut dapat dipadukan dengan sajian kuliner lokal untuk menghadirkan pengalaman gastronomi yang khas dan eksklusif.
“Wisata Gastronomy Heritage dengan Arak Bali menjadi tagline-nya. Wisatawan dapat mengetahui proses pembuatan Arak Bali, disimpan tahunan sebelum dipasarkan atau dinikmati merupakan keunikan tersendiri. Dipadukan dengan makanan lokal, tentu lebih memberikan cita rasa lokal yang eksklusif,” jelas Sumerta.
Ia menambahkan, Arak Bali memiliki jejak sejarah yang panjang. Minuman tersebut disebut telah menjadi suguhan istimewa sejak masa kerajaan di Bali, termasuk di wilayah Kerajaan Karangasem di Bali Timur.
Potensi tersebut juga mulai terlihat dari meningkatnya penggunaan Arak Bali dalam industri perhotelan dan pariwisata. Dalam sejumlah acara cocktail party, Arak Bali mulai menjadi salah satu suguhan bagi para tamu hotel.
Bahkan, Sumerta mendorong pengembangan minuman koktail khas Bali berbahan dasar Arak Bali, salah satunya yang disebut “Drink Balining”.
“Kalau Singapura punya Singapore Sling yang berbahan dasar rum atau gin, Bali atau Indonesia juga bisa punya minuman khas sendiri yang berbahan dasar Arak Bali,” ungkapnya.
Koperasi Dorong Produk Lokal Menembus Ekspor
Sumerta yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) menilai koperasi memiliki peran strategis dalam memperkuat rantai produksi dan pemasaran produk lokal.
Pengelolaan produk-produk unggulan daerah melalui koperasi diharapkan dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi para petani dan pelaku usaha lokal.
Menurut dia, pengembangan produk lokal melalui penguatan koperasi sejalan dengan semangat pemerintah untuk membangun ekonomi dari tingkat akar rumput dan memperkuat produk unggulan dalam negeri.
“Sudah saatnya produk lokal bangkit menuju pasar ekspor,” tambah Sumerta.
Dengan kekayaan bahan baku, sejarah, cita rasa, serta identitas budaya yang kuat, Arak Bali dinilai memiliki peluang untuk berkembang bukan hanya sebagai produk khas daerah, tetapi juga menjadi salah satu wajah Indonesia di pasar pariwisata dan perdagangan internasional.








