hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Cengkeh Indonesia Tembus Pasar Arab Saudi, Ekspor Rp1,3 Miliar

Penandatanganan kontrak pembelian atau Sales Purchase Agreement (SPA) antara PT Navva Nusantara Commodities dari Indonesia dan Al Nafea Foods Co. dari Arab Saudi. Foto: kemendag/peluangnews
Penandatanganan kontrak pembelian atau Sales Purchase Agreement (SPA) antara PT Navva Nusantara Commodities dari Indonesia dan Al Nafea Foods Co. dari Arab Saudi. Foto: kemendag/peluangnews

PeluangNews, Jakarta-Cengkeh Indonesia kembali mencuri perhatian pasar Timur Tengah. Sebanyak 10 ton cengkeh senilai USD78 ribu atau sekitar Rp1,3 miliar resmi dipesan pembeli dari Arab Saudi, menandai peluang baru bagi komoditas rempah Indonesia untuk memperluas pasar ekspor global.

Kesepakatan tersebut dituangkan dalam penandatanganan kontrak pembelian atau Sales Purchase Agreement (SPA) antara PT Navva Nusantara Commodities dari Indonesia dan Al Nafea Foods Co. dari Arab Saudi pada Kamis (13/8/2026) secara virtual.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Fajarini Puntodewi, mengatakan kesepakatan tersebut menunjukkan produk Indonesia semakin mampu bersaing di pasar internasional.

“Penandatanganan kontrak pembelian cengkeh ke Arab Saudi makin menunjukkan Indonesia memiliki produk berkualitas internasional. Kami harap, penandatanganan kontrak pembelian ini dapat makin membuka akses produk Indonesia di pasar global, khususnya kawasan Teluk,” ujar Fajarini.

Kontrak pembelian ditandatangani Direktur sekaligus pemilik PT Navva Nusantara Commodities Ati Hernawati Dani dan Purchasing Manager Al Nafea Foods Co. Kamal E. Ozaz.

Kesepakatan tersebut merupakan hasil fasilitasi penjajakan bisnis (business matching) yang dilakukan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) Jeddah pada Juni 2026.

Kepala ITPC Jeddah Bagas Haryotejo mengatakan tantangan perdagangan di kawasan Teluk saat ini tidak ringan. Konflik regional turut mendorong kenaikan biaya pengapalan dari Indonesia ke Arab Saudi hingga tiga kali lipat.

Meski demikian, kondisi tersebut tidak menyurutkan upaya pemerintah untuk membuka dan mempertahankan akses pasar bagi eksportir Indonesia, termasuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Kami akan terus mendorong kesepakatan bisnis antara eksportir Indonesia dan para importir di Arab Saudi. Kami berharap eksportir yang telah mendapatkan pasar di Arab Saudi terus mempertahankan kualitasnya agar kepercayaan terhadap Indonesia terus terjaga dan dapat membuka peluang yang lebih besar dengan para importir Arab Saudi meski di tengah tantangan perdagangan,” ujar Bagas.

Direktur PT Navva Nusantara Commodities Ati Hernawati Dani mengapresiasi fasilitasi ITPC Jeddah yang mempertemukan perusahaannya dengan calon pembeli di Arab Saudi hingga menghasilkan kesepakatan dagang.

Menurut Ati, ini merupakan kali kedua PT Navva Nusantara Commodities mendapatkan fasilitasi ITPC Jeddah untuk menyasar pasar Jeddah.

“Kami berterima kasih kepada ITPC Jeddah yang telah memfasilitasi hingga terjadi kesepakatan. Meski saat ini masih terdapat tantangan pada biaya pengapalan dari Indonesia ke Arab Saudi, kami berkomitmen untuk memberikan kualitas dan harga yang terbaik untuk menjaga agar hubungan bisnis dapat terjaga untuk jangka panjang,” kata Ati.

Peluang ekspor pun tidak berhenti pada komoditas cengkeh. Unit Sales Manager Al Nafea Foods Co. Abdallah Al Nahdi menilai produk Indonesia memiliki kualitas yang baik dan membuka peluang kerja sama untuk berbagai komoditas lainnya.

“Kami berharap dapat mengakses lebih banyak lagi produk Indonesia dalam waktu dekat, terutama untuk komoditas kayu manis, biji kopi, kapulaga, dan minyak goreng dengan kualitas yang baik dan harga yang kompetitif,” ujar Abdallah.

Al Nafea Foods Co. sendiri merupakan perusahaan perdagangan makanan yang telah berdiri selama 60 tahun di Arab Saudi. Perusahaan tersebut memperdagangkan berbagai produk, mulai dari beras, biji-bijian, susu, tuna kaleng, kopi, minyak masak hingga rempah-rempah.

Perdagangan Indonesia-Arab Saudi Surplus

Kesepakatan ekspor cengkeh tersebut turut memperkuat hubungan perdagangan Indonesia dengan Arab Saudi.

Pada Januari-Juni 2026, total perdagangan nonmigas Indonesia dengan Arab Saudi mencapai USD1,69 miliar. Nilai ekspor Indonesia tercatat USD1,02 miliar, sedangkan impor dari Arab Saudi sebesar USD665,10 juta.

Dengan demikian, Indonesia mencatat surplus perdagangan nonmigas sebesar USD357,3 juta terhadap Arab Saudi pada periode tersebut.

Sementara itu, sepanjang 2025, total perdagangan nonmigas kedua negara mencapai USD3,94 miliar. Ekspor Indonesia mencapai USD2,88 miliar, sedangkan impor sebesar USD1,06 miliar. Indonesia pun membukukan surplus perdagangan nonmigas sebesar USD1,82 miliar.

Sejumlah produk utama Indonesia yang diekspor ke Arab Saudi antara lain kendaraan dan bagiannya, lemak dan minyak hewani atau nabati, kapal laut, berbagai makanan olahan, serta kayu dan barang dari kayu.

Adapun komoditas utama yang diimpor Indonesia dari Arab Saudi meliputi garam, belerang, kapur, plastik dan barang dari plastik, bahan kimia organik, berbagai produk kimia, serta buah-buahan.

Kesepakatan ekspor 10 ton cengkeh tersebut menjadi sinyal bahwa peluang pasar produk Indonesia di Arab Saudi masih terbuka lebar, terutama bagi komoditas rempah dan produk pangan berkualitas yang mampu memenuhi standar pasar internasional.

pasang iklan di sini
octa vaganza