hayed consulting
hayed consulting
umkm insigh

Serangan Siber Tembus 1,52 Miliar, Talenta Digital Indonesia Jadi Sorotan

Pendiri Institut Teknologi Del (IT Del) sekaligus Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan.
Pendiri Institut Teknologi Del (IT Del) sekaligus Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan

PeluangNews, Jakarta-Lonjakan serangan siber di Indonesia menjadi alarm bagi kebutuhan tenaga ahli keamanan digital. Di tengah perkembangan kecerdasan artifisial (AI) yang semakin pesat, Indonesia masih menghadapi kesenjangan antara kebutuhan industri dan ketersediaan sumber daya manusia (SDM) keamanan siber.

Berdasarkan data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), tercatat 1,52 miliar serangan siber sepanjang 1 Januari hingga 15 April 2026. Kondisi tersebut menunjukkan semakin pentingnya penguatan kapasitas SDM yang mampu mencegah sekaligus merespons berbagai ancaman di ruang digital.

Pendiri Institut Teknologi Del (IT Del) sekaligus Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan, mengatakan perkembangan ancaman siber dan AI harus diikuti dengan kesiapan generasi muda yang memiliki kompetensi di bidang keamanan siber.

“Ancaman keamanan siber semakin meningkat, sementara teknologi kecerdasan artifisial terus berkembang. Kita perlu fokus membangun sumber daya manusia yang memiliki kemampuan keamanan siber. IT Del juga memberi perhatian pada pengajaran kecerdasan artifisial agar generasi muda siap menghadapi perkembangan teknologi,” kata Luhut.

Dorongan untuk memperbanyak talenta keamanan siber juga dilakukan Spentera Group melalui kompetisi hacking tahunan Hacktrace Independence Day Competition (HIDC) 2026. Grand final kompetisi tersebut digelar di IT Del, Balige, Sumatera Utara, Kamis (24/9/2026).

Co-Founder & Owner Spentera Group, Royke Lumban Tobing, mengatakan kebutuhan industri terhadap tenaga ahli keamanan siber saat ini masih jauh lebih besar dibandingkan ketersediaan talenta.

“Kita membutuhkan jauh lebih banyak tenaga ahli keamanan siber yang beretika. Kebutuhan dan ketersediaan SDM kesenjangannya masih terlalu besar. Keamanan siber adalah bagian penting dari keamanan nasional. Menjaga keamanan siber berarti ikut menjaga kedaulatan nasional dan melindungi warga negara,” ujar Royke.

HIDC 2026 diikuti 410 peserta yang tergabung dalam 136 tim sejak babak penyisihan pada 17 Agustus 2026. Kompetisi tersebut akhirnya menyisakan tiga tim dengan total sembilan peserta yang berlaga di babak final, yakni Boys Who ChatGPT, Petir Pemecut Handal, dan HIB Hoshiyomis.

Para finalis berusia di bawah 30 tahun dengan latar belakang mahasiswa hingga profesional. Sejumlah peserta bahkan telah bekerja di luar negeri.

Salah satunya Ahmad Zainuri yang bekerja di salah satu perusahaan di Rusia. Menurut dia, perkembangan AI membuat teknik peretasan semakin mudah dilakukan sehingga kebutuhan terhadap tenaga ahli yang mampu membangun pertahanan siber semakin mendesak.

“Di zaman AI ini memudahkan orang untuk melakukan hacking sehingga ancaman keamanan siber semakin tinggi. Maka kebutuhan SDM yang memiliki kemampuan bertahan dari serangan siber sangat perlu,” jelas Ahmad.

Peserta lainnya, Linuz Tri Eriyanto, yang bekerja di Singapura, menekankan pentingnya membangun etika di kalangan hacker muda. Menurutnya, kompetisi seperti HIDC dapat menjadi ruang untuk mengembangkan kemampuan sekaligus membentuk white hat hacker yang menggunakan keahliannya secara bertanggung jawab.

“White hat hacker, istilah untuk hacker yang menghormati etika, penting sekali untuk dibangun melalui lomba-lomba seperti ini, supaya para hacker muda tidak terjerumus dalam aksi-aksi yang merugikan,” tegas Linuz.

Tidak sekadar menguji kemampuan menemukan celah keamanan sistem digital, HIDC 2026 dirancang dengan delapan tahapan yang mensimulasikan berbagai kondisi di dunia nyata. Peserta antara lain menghadapi tantangan pengamanan fisik, membuka gembok dan brankas, menggunakan software-defined radio (SDR), hingga simulasi serangan melalui pendekatan red team dan pertahanan menggunakan blue team.

Royke mengatakan skenario tersebut disusun berdasarkan pengalaman Spentera dalam menangani kebutuhan keamanan siber klien. Peserta dituntut tidak hanya memiliki kemampuan teknis, tetapi juga mampu membaca risiko, menyusun strategi, bekerja dalam tim dan mengambil keputusan.

Total hadiah yang diperebutkan dalam kompetisi tersebut mencapai Rp170 juta.

“Kami berharap peserta tidak berhenti sebagai pemenang kompetisi. Mereka bisa berkembang menjadi cyber security engineer yang mampu membangun keamanan siber yang dibutuhkan perusahaan di Indonesia bahkan negara, serta mampu bersaing di pasar global,” kata Royke.

Menurut Royke, penyelenggaraan HIDC 2026 di Balige juga menjadi bagian dari upaya memperluas persebaran talenta keamanan siber agar tidak terkonsentrasi di Pulau Jawa.

“Semoga ke depan pasar global tidak lagi mencari talenta teknologi informasi ke India, tapi ke Indonesia,” tegasnya.

Selain kompetisi, penguatan ekosistem talenta keamanan siber dilakukan melalui kerja sama antara IT Del dan Spentera Group di bidang riset, inovasi, serta program magang.

Rektor IT Del, Prof. Dr. Arnaldo Marulitua Sinaga, mengatakan kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri penting untuk mendekatkan pembelajaran dengan kebutuhan dunia kerja.

“Upaya kita adalah membentuk talenta-talenta keamanan siber. Kita melihat pentingnya keamanan dalam bidang teknologi. IT Del juga ingin berkontribusi di bidang tersebut,” ujar Arnaldo.

Spentera sebelumnya juga menjalin kerja sama riset keamanan siber dengan Universitas Indonesia dan Universitas Gadjah Mada. Ke depan, perusahaan tersebut tengah menyiapkan program sertifikasi untuk membantu talenta muda mengembangkan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri.

pasang iklan di sini
lpdb.go.id