
PeluangNews, Jakarta – Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mengalami defisit sebesar Rp164,4 triliun hingga akhir April 2026.
Angka ini setara dengan 0,64% terhadap produk domestik bruto (PDB). Demikian diungkapkan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat konferensi pers APBN KiTa di Kemenkeu, Jakarta Pusat, Selasa (19/5/2026).
“Defisit April jauh lebih baik dari bulan sebelumnya di angka 0,93% terhadap PDB,” kata Purbaya.
Hal tersebut sekaligus membantah ekonom dan analis yang menyebutkan defisit bulan sebelumnya tidak baik.
“Sampai April 2026, defisitnya tinggal 164,4 triliun atau 0,64% dari PDB,” ujarnya.
Purbaya meyakini bahwa APBN ke depan akan semakin membaik didukung oleh keseimbangan primer hingga dorongan dari pendapatan negara yang kian menunjukan kinerja solid.
Dari sisi penerimaan, realisasi pendapatan negara tercatat mencapai Rp 918,4 triliun atau 29,1% dari target APBN. Penerimaan ini masih didominasi oleh sektor perpajakan yang menjadi tulang punggung kas negara.
Dia mengatakan, penerimaan perpajakan tercatat sebesar Rp 746,9 triliun atau 27,7% dari target. Rinciannya, penerimaan pajak mencapai Rp 646,3 triliun atau 27,4%. Sedangkan kepabeanan dan cukai menyumbang Rp100,6 triliun atau 29,9%.
Purbaya menambahkan, PNBP hingga April 2026 di angka Rp 171,3 triliun atau 37,3% dari target APBN. Di sisi lain, belanja negara tercatat lebih tinggi dibandingkan pendapatan, sehingga mendorong terbentuknya defisit.
Hingga akhir April 2026, realisasi belanja negara mencapai Rp 1.082,8 triliun atau 28,2% dari pagu APBN.
Belanja itu terdiri dari belanja pemerintah pusat sebesar Rp826 triliun atau 26,2%, serta transfer ke daerah sebesar Rp256,8 triliun atau 37,1%.
Lainnya yakni belanja kementerian/lembaga (K/L) terealisasi Rp400,5 triliun atau 26,5%. Sedangkan belanja non-K/L mencapai Rp425,5 triliun atau 26%.
Sementara keseimbangan primer di angka Rp 28 triliun atau 31,2%. Pembiayaan anggaran di angka Rp298,5 atau 43,3%. []







