PeluangNews, Jakarta – Kondisi ekonomi Indonesia yang sedang tidak baik, salah satunya disebabkan konflik di Timur Tengah yang belum mereda.
Eskalasi geopolitik itu memicu kenaikan harga minyak dunia yang diikuti harga komoditas lainnya di tanah air.
Harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi melambung. Nilai tukar rupiah melorot di angka Rp17.600 per dolar Amerika Serikat. Daya beli masyarakat dirasakan mulai menurun.
Namun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengklaim kondisi ekonomi Indonesia masih stabil di tengah pelemahan pasar keuangan dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Purbaya memastikan pemerintah telah menghitung seluruh kebutuhan anggaran negara, termasuk untuk sektor pertahanan hingga program makan bergizi gratis (MBG), tanpa mengganggu struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Dia menegaskan bahwa defisit APBN tetap dijaga di bawah batas aman, yakni di bawah 3% terhadap produk domestik bruto (PDB).
“Sudah kita hitung anggarannya di bawah 3%, defisitnya di bawah 3% untuk PDB. Jadi enggak usah khawatir,” kata Purbaya di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (18/5/2026).
Dia menambahkan, pemerintah telah mengatur belanja negara secara cermat, termasuk untuk subsidi BBM dan berbagai program pembangunan lainnya.
Di sisi lain, Purbaya juga menanggapi pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan pre opening IHSG turun 94,344 poin atau 1,40% ke level 6.628,976, Senin pagi kemarin.
Menurut dia, penurunan tersebut hanya dipengaruhi sentimen jangka pendek dan bukan mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia.
“Enggak apa-apa nanti kita perbaiki. Kan fondasi ekonominya kan bagus. Itu masalah sentimen jangka pendek,” tegas Purbaya.
Dia menjelaskan, pemerintah akan menjaga stabilitas pasar obligasi agar investor asing tidak menarik dananya dari Indonesia. Pemerintah mulai meningkatkan intervensi di pasar obligasi untuk menjaga harga surat utang tetap stabil.
“Nanti kita juga akan masuk ke bond market mulai hari ini. Minggu lalu sudah masuk, tapi hanya sedikit, mulai hari ini akan kita masuk dengan lebih signifikan lagi sehingga pasar obligasinya terkendali,” tuturnya.
Saat ditanya terkait kekhawatiran kondisi ekonomi Indonesia mirip krisis 1997-1998 akibat pelemahan rupiah, Purbaya menilai situasi saat ini sangat berbeda.
Pada masa krisis 1998, lanjutnya, Indonesia sudah mengalami resesi dan gejolak sosial politik yang berkepanjangan. Sementara saat ini ekonomi nasional masih tumbuh sehingga pemerintah memiliki ruang untuk melakukan perbaikan.
“Kita kan sekarang belum resesi, ekonomi masih tumbuh kencang. Jadi masih ada ruang untuk memperbaiki semuanya,” ujar dia.
Purbaya berharap investor pasar saham tidak panik menghadapi pelemahan IHSG.
“Kalau saya bilang jangan takut, serok bawah sekarang. Kalau saya lihat teknikalnya, sehari dua hari sudah balik. Jadi jangan lupa beli saham,” kata Purbaya.
Purbaya juga menanggapi kritik media internasional terhadap kebijakan fiskal pemerintah, termasuk program Koperasi Desa Merah Putih dan MBG yang disebut membebani fiskal negara.
Menurut Menkeu, kondisi fiskal Indonesia masih jauh lebih sehat dibandingkan sejumlah negara Eropa karena rasio utang pemerintah Indonesia masih berada di kisaran 40% terhadap PDB.
“Jadi kalau The Economist memandang kebijakan fiskal kita berantakan, mereka suruh lihat deh kebijakan negara-negara Eropa berapa defisitnya. Utangnya berapa? Itu mendekati 100% semua dari PDB, utang kita masih 40. Kita masih bagus, harusnya The Economist puji kita,” ucap Purbaya, mengakhiri. []








