
PeluangNews, Jakarta – Kenaikan harga hasil pertanian mulai memberikan ruang lebih besar bagi pendapatan petani. Nilai Tukar Petani (NTP) pada Oktober 2026 menembus rekor tertinggi, yakni 132,60 atau meningkat 1,13% dibandingkan bulan sebelumnya. Lonjakan ini menjadi sinyal membaiknya daya beli petani di tengah upaya pemerintah memperkuat produksi dan menjaga ketahanan pangan nasional.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, capaian tersebut mencerminkan perkembangan positif kesejahteraan petani selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
“Terbaru, (menurut data Badan Pusat Statistik) Nilai Tukar Petani pada Oktober 2026 mencatatkan rekor tertinggi 132,60, nilainya naik 1,13 persen dibandingkan September,” kata Amran di Jakarta, Senin (2/11).
Menurut Amran, peningkatan NTP menunjukkan harga hasil pertanian yang diterima petani tumbuh lebih tinggi dibandingkan pengeluaran untuk konsumsi rumah tangga maupun biaya produksi. Kondisi ini menjadi salah satu indikator membaiknya posisi ekonomi petani.
Dia menegaskan, peningkatan produksi pangan harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga harga hasil panen, memperluas akses pasar, dan meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian.
“Sesuai arahan Bapak Presiden Prabowo, swasembada pangan berkelanjutan harus beriringan dengan kesejahteraan petani yang semakin membaik. Kita ingin petani sejahtera, produksi meningkat, masyarakat mendapatkan pangan dengan harga yang stabil,” tuturnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis Senin (2/11), kenaikan NTP Oktober 2026 terutama ditopang peningkatan indeks harga yang diterima petani sebesar 1,55%.
Sementara itu, indeks harga yang dibayar petani, baik untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga maupun biaya produksi, hanya meningkat 0,41%. Selisih pertumbuhan tersebut menunjukkan nilai penjualan hasil pertanian meningkat lebih cepat dibandingkan pengeluaran petani.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan, sejumlah komoditas menjadi pendorong utama kenaikan harga di tingkat petani. Komoditas tersebut antara lain karet, jagung, cabai merah, dan gabah.
“Peningkatan NTP terjadi karena indeks harga yang diterima petani naik sebesar 1,55 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan indeks harga yang dibayar petani yang naik 0,41 persen,” kata Ateng.
Jika ditelusuri berdasarkan subsektor, hortikultura menjadi penyumbang penguatan NTP paling menonjol pada Oktober 2026. NTP hortikultura melonjak 6,88%, dari 129,50 pada September menjadi 138,41.
Kenaikan tersebut terutama didorong membaiknya harga cabai merah, tomat, dan cabai rawit yang memberikan kontribusi besar terhadap pendapatan petani hortikultura.
Ateng menjelaskan, indeks harga yang diterima petani hortikultura meningkat 7,12%, sedangkan indeks harga yang dibayar hanya naik 0,32%.
“Komoditas yang dominan mempengaruhi indeks harga yang diterima petani hortikultura terutama cabai merah, tomat, dan cabai rawit,” jelasnya.
Penguatan juga terjadi pada subsektor tanaman pangan. NTP subsektor ini meningkat 1,07%, dari 119,24 menjadi 120,52. Adapun NTP tanaman perkebunan rakyat naik 0,30%, dari 171,67 menjadi 172,18.
Di sisi kebijakan, Amran menyebut pemerintah terus mengarahkan berbagai program pertanian untuk meningkatkan produksi sekaligus memperbaiki kesejahteraan petani.
Sejumlah kebijakan yang ditempuh antara lain penyesuaian Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah dan jagung, penguatan kepastian penyerapan hasil panen, penyederhanaan regulasi penyaluran pupuk bersubsidi, hingga penurunan harga pupuk subsidi sebesar 20%.
Menurutnya, kepastian harga dan ketersediaan sarana produksi menjadi faktor penting agar petani memperoleh manfaat ekonomi dari peningkatan produksi.
“Kita ingin petani semakin sejahtera. Negara harus hadir melindungi dan memberikan jaminan bagi petani. Jika petani semangat untuk bertani, swasembada pangan berkelanjutan dapat terwujud,” ucap Amran.
Kementerian Pertanian juga terus mendorong pembangunan irigasi, mekanisasi pertanian, peningkatan produktivitas, serta penguatan akses pasar untuk memperbesar nilai ekonomi hasil pertanian.
Rekor NTP Oktober 2026 menjadi indikator positif bagi sektor pertanian. Namun, keberlanjutan peningkatan kesejahteraan petani tetap bergantung pada kemampuan menjaga harga hasil panen, mengendalikan biaya produksi, dan memastikan kebijakan perlindungan petani berjalan konsisten.
Dengan demikian, keberhasilan pembangunan pertanian tidak hanya diukur dari peningkatan produksi dan pencapaian swasembada pangan, tetapi juga dari seberapa besar nilai tambah ekonomi yang dapat dinikmati langsung oleh petani.








