
PeluangNews, Malang – Pengembangan energi surya terapung di Jawa Timur memasuki tahap penting. PT PLN Nusantara Power (PLN NP) mencatat pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Karangkates di Waduk Sutami/Karangkates, Kabupaten Malang, telah mencapai 70 persen progres konstruksi infrastruktur. Proyek berkapasitas 133 megawatt peak (MWp) ini ditargetkan mulai menghasilkan listrik pada awal Desember 2026.
Capaian tersebut menempatkan pembangunan PLTS Terapung Karangkates 13 persen lebih cepat dibandingkan target yang ditetapkan. Proyek ini diproyeksikan menjadi PLTS terapung terbesar kedua di Indonesia dan terbesar di Jawa Timur, sekaligus menambah kapasitas pembangkit berbasis energi baru terbarukan (EBT) nasional.
Direktur Utama PLN Nusantara Power, Ruly Firmansyah, mengatakan percepatan pembangunan menjadi bagian dari upaya perusahaan mendukung transisi energi melalui penyediaan infrastruktur pembangkit yang memanfaatkan sumber energi bersih.
“PLTS Terapung Karangkates kini telah memasuki 70 persen progres konstruksi infrastruktur. Capaian ini menjadi bukti keseriusan PLN Nusantara Power dalam menghadirkan pembangkit energi bersih yang andal dan berkelanjutan. Bahkan, berdasarkan sistem monitoring kami, progres pembangunan tercatat 13 persen lebih cepat dari target yang telah ditetapkan,” ujar Ruly.
Menurut Ruly, pengembangan proyek ini turut ditopang pengalaman PLN Nusantara Power dalam membangun PLTS Terapung Cirata berkapasitas 192 MWp. Pengalaman tersebut menjadi salah satu landasan perusahaan untuk melanjutkan pengembangan pembangkit surya terapung di wilayah lain.
“Kami senantiasa mendukung program pemerintah, khususnya dalam pengembangan infrastruktur energi baru terbarukan. Setelah keberhasilan PLTS Terapung Cirata, kehadiran PLTS Terapung Karangkates diharapkan menjadi pionir pengembangan energi bersih di Jawa Timur sekaligus mendorong hadirnya proyek-proyek EBT lainnya,” terang Ruly.
PLTS Terapung Karangkates dibangun di permukaan Waduk Sutami/Karangkates yang berada di wilayah Kecamatan Sumberpucung dan Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang. Pemanfaatan permukaan waduk menjadi salah satu pendekatan untuk mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya tanpa membutuhkan pembukaan lahan daratan dalam skala besar.
Dari total luas perairan waduk sekitar 1.905 hektare pada kondisi normal, area yang digunakan untuk penempatan modul surya mencapai 71,435 hektare atau sekitar 3,7 persen. Berdasarkan kajian yang dilakukan, modul photovoltaic (PV) ditempatkan pada area Low Water Level (LWL) waduk.
Secara teknis, pembangkit ini dirancang dengan delapan PV island dan rata-rata rasio DC/AC sebesar 1,33. Konfigurasi tersebut ditujukan untuk mengoptimalkan pemanfaatan energi matahari sekaligus mendukung keandalan operasional pembangkit.
Untuk menyalurkan listrik yang dihasilkan, proyek ini juga dilengkapi jaringan transmisi 150 kilovolt (kV) sepanjang sekitar 4,6 kilometer sirkuit atau 2,3 kilometer rute. Infrastruktur tersebut menghubungkan gardu induk PLTS dengan titik interkoneksi ke jaringan kelistrikan.
Selain itu, pembangunan extension bay di Gardu Induk Sutami 150 kV menjadi bagian dari persiapan sistem penyaluran daya agar pembangkit dapat terhubung dengan jaringan listrik.
Waduk Karangkates sendiri merupakan aset negara yang dikelola Perum Jasa Tirta I. Lokasi pembangunan PLTS berada di Zona Umum Waduk Karangkates, dengan pemanfaatan area yang tetap memperhatikan fungsi waduk, aspek lingkungan, dan keselamatan operasional.
Memasuki tahap lanjutan konstruksi, PLN Nusantara Power memfokuskan pekerjaan pada penyelesaian fasilitas utama, infrastruktur pendukung, serta kesiapan pengujian sistem. Tahapan tersebut mencakup pelaksanaan backfeeding power sebelum pembangkit menjalani proses sinkronisasi dengan jaringan listrik.
PLN Nusantara Power menargetkan inisiasi produksi listrik pertama pada awal Desember 2026, sebelum pembangkit diarahkan menuju pengoperasian pada awal 2027.
Ruly menegaskan, percepatan pekerjaan tidak boleh mengesampingkan keselamatan tenaga kerja, kualitas konstruksi, maupun keandalan sistem. Seluruh tahapan pembangunan harus dipastikan berjalan sesuai kebutuhan teknis agar pembangkit dapat memberikan kontribusi optimal ketika beroperasi.
“Percepatan pembangunan ini tetap kami jalankan dengan mengedepankan aspek keselamatan kerja, kualitas konstruksi, dan keandalan sistem. Kami ingin memastikan bahwa setiap tahapan pembangunan berjalan optimal sehingga PLTS Terapung Karangkates nantinya mampu memberikan kontribusi nyata bagi penguatan pasokan energi bersih nasional,” tambah Ruly.
Dengan kapasitas 133 MWp dan progres konstruksi yang telah melampaui target, PLTS Terapung Karangkates diharapkan menjadi salah satu proyek penting dalam pengembangan energi surya terapung di Indonesia. Proyek ini juga memperkuat upaya pemanfaatan aset waduk untuk mendukung penambahan pasokan listrik berbasis energi bersih dan mempercepat transisi energi nasional.








