
PeluangNews, Jakarta-Tren pernikahan yang semakin intimate dan personal turut mendorong perubahan pada busana pengantin. Menjawab kebutuhan tersebut, desainer Sebastian Gunawan dan Cristina Panarese melalui lini bridal SEBASTIANsposa menghadirkan koleksi terbaru bertajuk La Belle.
Koleksi SEBASTIANsposa 2026/2027 tersebut dipresentasikan melalui 22 looks di Arena Lakeside Riviera Ballroom, Jakarta, Rabu (9/9/2026). La Belle merefleksikan karakter perempuan modern sekaligus cara pandang generasi muda terhadap pernikahan yang kini semakin mengutamakan pengalaman personal dan penuh makna.
Sudah seharusnya sebuah karya diciptakan bukan untuk generasi lalu, melainkan untuk generasi yang akan datang. Berangkat dari pemikiran tersebut, Sebastian Gunawan dan Cristina Panarese menerjemahkan sosok pengantin masa kini melalui busana yang tetap mewah dan detail, namun terasa lebih ringan, fleksibel, dan modern.
Sebastian mengatakan, perubahan konsep pesta pernikahan membuat pilihan busana pengantin juga semakin beragam. Menurutnya, pasangan masa kini tidak selalu menggelar satu pesta besar, tetapi dapat memiliki sejumlah perayaan yang lebih kecil dan intim bersama keluarga maupun kerabat dekat.
“Pertimbangan kami berdua adalah karena saat ini pengantin cenderung mengadakan resepsi pernikahan yang lebih intim. Mereka memang bisa mengadakan pesta besar, tetapi terkadang juga memiliki acara yang lebih kecil dan intim, hanya bersama keluarga ataupun rekan-rekan,” kata Sebastian Gunawan saat ditemui usai acara.

Karena itu, Sebastian Sposa menawarkan alternatif siluet yang lebih loose dan tidak selalu mengikuti pakem gaun pengantin klasik. Koleksi tersebut menghadirkan busana dengan karakter lepas badan, lebih lebar, hingga material yang lembut seperti chiffon.
“Kami memberikan alternatif dari sisi siluet yang lebih loose. Ada yang lepas badan, ada yang lebih lebar, dan ada juga yang soft seperti chiffon. Jadi, kami memberikan berbagai pilihan bentuk kepada calon pengantin,” katanya.
Eksplorasi tersebut berpadu dengan penggunaan berbagai material, seperti lace, satin, duchess, hingga material yang dikembangkan sendiri. Salah satu eksplorasi unik hadir melalui pita-pita kecil berukuran sekitar satu jari kelingking yang disusun menjadi motif pada busana.
Dalam proses kreatifnya, Sebastian dan Cristina juga mengedepankan kolaborasi. Keduanya saling memberikan masukan untuk memastikan bentuk dan detail busana memiliki karakter yang kuat sekaligus tetap harmonis.
“Ketika saya sedang menggarap bentuknya, Cristina akan memberikan masukan. Begitu juga ketika saya sedang menggarap detailnya, Cristina bisa memberikan masukan. Jadi, kami saling mengisi dan melengkapi dalam prosesnya,” ujar Sebastian.
La Belle: Sebuah Transformasi
Dipilih dari bahasa Prancis yang berarti the beautiful one atau “yang cantik”, La Belle menjadi representasi perjalanan seorang perempuan ketika meninggalkan satu fase kehidupan dan bersiap melangkah menuju babak baru.
Lebih dari sekadar kecantikan visual, La Belle menjadi perayaan atas kepercayaan diri, kebebasan, dan transformasi seorang perempuan. Koleksi ini menggambarkan momen ketika seorang perempuan memilih melangkah menuju masa depan dengan versi dirinya yang baru.
Sebastian dan Cristina juga membawa kembali romantisme Jazz Age era 1920-an melalui siluet drop waist, untaian mutiara, serta sentuhan estetika Art Deco. Referensi tersebut menjadi penghormatan terhadap perempuan di masa lalu sekaligus membuktikan bahwa elemen klasik tetap dapat berdialog dengan modernitas.
La Belle menjadi pertemuan antara kelembutan dan kekuatan, romantisme dan kemandirian, serta keabadian dan perubahan.
Setiap gaun memiliki karakter tersendiri melalui permainan drapery, tumpukan ruffles, struktur, hingga eksplorasi siluet. Detail tersebut dirancang untuk memberikan identitas pada setiap busana sekaligus membangun narasi visual yang utuh.
Palet warna pun tidak berhenti pada putih sebagai warna klasik busana pengantin. Sebastian Sposa memperluasnya melalui nuansa cream, nude, hingga champagne yang memberikan kesan lebih lembut dan modern.
Eksplorasi material juga menjadi kekuatan koleksi ini. Lace, satin, dan duchess dipadukan untuk menciptakan tekstur serta siluet yang berbeda pada setiap tampilan.
Aplikasi bunga pada sejumlah busana memberikan sentuhan feminin dan romantis. Sementara itu, pengaruh era 1920-an diperkuat melalui motif geometris yang digubah dan diaplikasikan pada gaun sehingga menghadirkan nuansa Art Deco yang lebih kontemporer.
Meski mengakomodasi keinginan generasi muda terhadap pesta pernikahan yang intimate dan personal, Sebastian menegaskan bahwa detail tetap menjadi bagian penting dari kemewahan sebuah busana.
Permainan payet dan embellishment hadir secara terukur pada bagian-bagian tertentu. Kilau yang muncul mengikuti gerak tubuh sekaligus mempertegas titik fokus pada masing-masing gaun.
“Pada dasarnya setiap baju memberikan satu karakter bagi pemakainya. Hiasan rambut pun berbeda-beda. Ada yang hanya menggunakan sebuah bunga, ada yang memakai veil, dan ada juga yang hanya menggunakan penutup mata,” ungkap Sebastian.
Menurutnya, keberagaman tersebut pada akhirnya memberikan ruang bagi calon pengantin untuk menentukan busana sesuai karakter dan keinginan masing-masing.
“Pada akhirnya, semua itu memberikan pilihan kepada calon pengantin. Pada dasarnya mereka sudah tahu apa yang mereka inginkan,” paparnya.
Melalui La Belle, Sebastian Sposa melihat pernikahan bukan semata-mata sebagai sebuah permulaan, melainkan sebagai ambang transformasi. Sebuah pertemuan antara sosok perempuan yang pernah ia kenal dengan sosok dirinya yang sedang ia bentuk untuk masa depan.
La Belle pun menjadi tentang kecantikan dalam arti yang lebih luas: keberanian untuk berubah, kebebasan untuk memilih, dan keyakinan untuk melangkah maju sebagai diri sendiri.
Koleksi SEBASTIANsposa 2026/2027 La Belle akhirnya merayakan sosok perempuan sebagaimana ia jalani hari ini, sekaligus perempuan yang sedang ia bentuk untuk masa depan.








