
PeluangNews, Jakarta-Bukan sekadar meningkatkan hasil panen, Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI) mendorong para petani membangun kekuatan ekonomi melalui komunitas dan ekosistem usaha berbasis koperasi.
Pendekatan ini dinilai penting agar manfaat usaha pertanian tidak hanya dirasakan secara individu, tetapi juga memberikan dampak lebih luas bagi anggota dan masyarakat.
Presiden Direktur Koperasi BMI Group, Kamaruddin Batubara, menyampaikan hal tersebut saat memberikan pembekalan kepada para petani dalam kegiatan Bootcamp dan Pembekalan Petani Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia di Villa Intania Cawene, Bogor, Rabu-Kamis (23-24 September 2026).
Kegiatan bertema “Membangun Komunitas dalam Menciptakan Ekosistem Bisnis dengan Semangat Koperasi untuk Pemerataan Ekonomi” itu diikuti 44 petani dari total 50 petani BMI yang terdaftar sebagai peserta.
Kamaruddin yang akrab disapa Kambara mengajak para petani untuk tidak berjalan sendiri-sendiri. Menurut dia, kekuatan komunitas dapat menjadi fondasi untuk membangun ekosistem usaha yang saling mendukung.
“Kita ingin membangun sebuah komunitas untuk kita jadikan ekosistem. Sejahtera sendiri itu biasa, tetapi sejahtera bersama itu baru luar biasa,” ujar Kambara.
Menurut Kambara, semangat berkoperasi tidak sebatas aktivitas ekonomi. Koperasi juga perlu menjadi ruang untuk membangun kebersamaan, kepedulian, dan nilai-nilai kehidupan di antara anggota.
Ia juga mengingatkan para petani agar kesibukan bertani tidak menjadi alasan untuk mengabaikan kewajiban ibadah.
“Lebih utama salat berjamaah daripada sendiri-sendiri. Kita ingin petani kita, ketika sedang bertani dan terdengar azan, langsung salat dulu. Ini juga menjadi pengingat dan introspeksi bagi kita bersama,” katanya.
Dalam membangun komunitas, Kambara menekankan pentingnya hubungan yang sehat antaranggotanya. Ia meminta para petani saling menghargai dan tidak menjadikan komunitas sebagai ruang untuk mengambil keuntungan dari anggota lain.
“Saling menghargai, jangan saling memanfaatkan,” tegasnya.
Kambara mengatakan, koperasi juga harus mampu hadir dalam berbagai kondisi yang dihadapi anggotanya. Kehadiran koperasi, kata dia, tidak semestinya hanya dirasakan ketika anggota berada dalam kondisi baik, tetapi juga saat menghadapi kesulitan.
“Koperasi harus mengatasi, koperasi harus hadir kalau anggotanya senang, apalagi susah. Murni kita ingin membangun diri kita sendiri lewat koperasi,” ujarnya.
Ia menambahkan, ekosistem pertanian hanya dapat dibangun melalui kekompakan seluruh pihak, mulai dari petani hingga pengelola koperasi.
“Pak Roni (manajer pemberdayaan) tidak bisa sendirian. Kami juga tidak bisa sendirian kalau Bapak dan Ibu tidak kompak,” kata Kambara.
Karena itu, ia meminta para petani menjaga semangat dan memperkuat ikhtiar dalam menjalankan usaha, sekaligus menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT.
“Yang paling penting kita semangat, tawakal, Allah yang akan membantu. Kita niatkan kita membantu sesama,” pesannya.
Kambara juga mengajak petani melihat profesinya dalam perspektif yang lebih luas. Menurut dia, hasil pertanian menjadi bagian dari rantai kehidupan masyarakat sehingga pekerjaan petani memiliki nilai sosial yang besar.
“Kita bukan sekadar petani, kita memberikan kehidupan kepada banyak orang,” katanya.
Selain itu, ia mengingatkan pentingnya kejujuran dalam setiap aktivitas pertanian dan usaha. Menurutnya, keberkahan harus menjadi bagian dari orientasi dalam membangun usaha bersama.
“Allah berikan keberkahan agar kita terhindar dari perbuatan curang,” tuturnya.
Bootcamp berlangsung selama dua hari. Pada hari pertama, peserta mendapatkan materi Program Toko BMI terkait penyediaan sarana produksi pertanian yang disampaikan Radius Usman.
Kegiatan dilanjutkan dengan panel diskusi yang dimoderatori Manajer Pemberdayaan Muhammad Suproni dengan menghadirkan Direktur Operasional Kopsyah BMI Sondari serta Direktur Bisnis dan Pemberdayaan Akhmad Jauhari sebagai narasumber.
Pada hari kedua, peserta bertolak ke kawasan wisata Bukit Manik Indonesia. Di Aula Jembatan Kaca Bukit Manik Indonesia, mereka memperoleh pembekalan lanjutan dari Johan David Wetik, peneliti, tenaga ahli, sekaligus Kepala Divisi Asesmen Pusat Pengembangan Sumberdaya Manusia (P2SDM) LPPM IPB University.
Kegiatan turut dihadiri Koordinator Regional dari lima regional wilayah pelayanan BMI untuk memperkuat koordinasi dan pendampingan petani di masing-masing wilayah.
Melalui kegiatan tersebut, Kopsyah BMI menempatkan petani tidak hanya sebagai pelaku usaha pertanian, tetapi sebagai bagian dari komunitas yang diharapkan tumbuh dalam ekosistem ekonomi berbasis koperasi. Dengan pendekatan tersebut, manfaat usaha diharapkan tidak berhenti pada individu, melainkan dapat dirasakan anggota, keluarga, dan masyarakat secara lebih luas.








