hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Ekspor Nonmigas Melonjak, Neraca Dagang Mulai Pulih

Menteri Perdagangan RI, Budi Santoso

PeluangNews, Jakarta — Ekspor nonmigas Indonesia menunjukkan penguatan di tengah tekanan kenaikan harga minyak dunia yang masih membebani neraca perdagangan. Pada Juni 2026, nilai ekspor nonmigas mencapai USD 24,39 miliar atau melonjak 8,68 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Kenaikan ekspor tersebut ikut mendorong perbaikan neraca perdagangan Indonesia. Defisit neraca perdagangan pada Juni 2026 menyusut menjadi USD 0,45 miliar, dari sebelumnya USD 1,61 miliar pada Mei 2026.

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan peningkatan ekspor menjadi sinyal positif bagi perekonomian nasional. Pemerintah pun akan terus memperkuat kinerja ekspor nonmigas melalui perluasan pasar dan penambahan eksportir baru.

“Defisit pada Juni 2026 sebesar USD 0,45 miliar menunjukkan penurunan dibanding defisit Mei 2026. Artinya, neraca perdagangan kita mulai membaik seiring dengan peningkatan ekspor,” kata Budi Santoso.

Dia menegaskan Kementerian Perdagangan akan terus mendorong peningkatan ekspor, termasuk melalui perluasan pasar ekspor dan pencetakan eksportir baru untuk menjaga surplus perdagangan.

Secara keseluruhan, nilai ekspor Indonesia yang mencakup migas dan nonmigas pada Juni 2026 mencapai USD 25,46 miliar. Angka tersebut naik 9,72 persen dibandingkan Mei 2026 yang tercatat sebesar USD 23,20 miliar.

Dari sisi volume, ekspor Indonesia juga mengalami peningkatan. Volume ekspor pada Juni mencapai 56,52 juta ton, naik 3,31 persen dibandingkan Mei yang sebesar 54,71 juta ton.

Secara kumulatif, total ekspor Indonesia sepanjang Januari-Juni 2026 mencapai USD 140,81 miliar. Nilai tersebut tumbuh 4,13 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebesar USD 135,23 miliar.

Sementara itu, neraca perdagangan Indonesia pada semester I 2026 masih mencatatkan surplus USD 3,58 miliar. Surplus tersebut terutama ditopang perdagangan nonmigas yang mencatatkan surplus USD 19,35 miliar, sedangkan sektor migas masih mengalami defisit USD 15,77 miliar.

“Ekspor kita pada Januari-Juni 2026 tumbuh 4,13 persen dan secara kumulatif kita masih surplus sebesar USD 3,58 miliar,” ujar Budi.

Meski kinerja ekspor membaik, neraca perdagangan Indonesia masih menghadapi tekanan dari sisi impor, khususnya akibat kenaikan harga minyak dunia.

Budi menjelaskan, eskalasi konflik di Selat Hormuz menjadi salah satu faktor signifikan yang mendorong kenaikan harga minyak dunia. Pada Februari 2026, harga minyak masih berada di kisaran USD 60–65 per barel.

Namun, setelah eskalasi pada Maret 2026, harga minyak bergerak naik dan berfluktuasi. Berdasarkan data Bank Dunia per 2 Juli 2026, harga minyak dunia pada April-Mei 2026 bahkan sempat melampaui USD 100 per barel.

Kenaikan harga tersebut berdampak langsung terhadap nilai satuan impor. Pada Maret 2026, nilai satuan impor komoditas migas tercatat USD 689 per ton. Angka itu meningkat menjadi USD 1.042 per ton pada Mei dan berada di level USD 869 per ton pada Juni.

Untuk komoditas nonmigas, nilai satuan impor juga meningkat dari USD 968 per ton pada Maret menjadi USD 1.081 per ton pada Juni 2026.

Secara total, nilai satuan impor Indonesia meningkat dari USD 907 per ton pada Maret menjadi USD 1.036 per ton pada Juni, atau naik 14,24 persen.

“April-Mei merupakan periode puncak tingginya harga minyak dunia, mencapai sekitar USD 110 per barel. Dengan situasi ini, nilai satuan impor per ton pada Mei mengalami peningkatan dan masih berlanjut hingga Juni,” kata Budi.

Untuk menjaga momentum ekspor, Kemendag terus mengoptimalkan berbagai program prioritas. Saat ini Indonesia telah mengimplementasikan 25 perjanjian perdagangan dengan negara mitra.

Selain itu, dua perjanjian perdagangan masih dalam proses ratifikasi, sedangkan 13 perjanjian lainnya berada dalam tahap perundingan.

Kemendag juga mengandalkan 46 perwakilan perdagangan RI di 33 negara untuk membuka akses pasar yang lebih luas, termasuk bagi pelaku UMKM.

Di sisi lain, pemerintah terus mendorong kemudahan pemanfaatan perjanjian dagang melalui otomatisasi Surat Keterangan Asal (e-SKA). Sistem tersebut saat ini telah diterapkan untuk ekspor ke Uni Emirat Arab, Hong Kong, Jepang, China, Korea Selatan, Australia, dan Pakistan.

Langkah tersebut diharapkan mampu memperluas basis eksportir sekaligus memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar global.

pasang iklan di sini
octa vaganza