
PeluangNews, Jakarta — Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) mulai diarahkan untuk tidak hanya menggerakkan ekonomi di tingkat desa, tetapi juga menembus pasar internasional. Kementerian Perdagangan (Kemendag) membuka peluang bagi KDKMP untuk masuk ke pasar ekspor melalui program Desa Bisa Ekspor.
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan, Kemendag bersama Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) telah memetakan sekitar 2.600 desa yang memiliki potensi ekspor. Dari jumlah tersebut, sebanyak 747 desa dinilai telah siap melakukan ekspor.
Menurut Budi, pemerintah memberikan pelatihan dan pendampingan kepada pelaku usaha di desa agar mampu memenuhi berbagai kebutuhan perdagangan internasional. Sejumlah desa bahkan telah mulai mengirimkan produknya ke pasar luar negeri.
“Kita lakukan pelatihan, kemudian kita ajari ekspor, dan sudah ada beberapa yang ekspor, termasuk Koperasi Desa Merah Putih yang memang ada di desa. Dia bagian dari program Desa Bisa Ekspor dan sudah melakukan ekspor ke berbagai negara,” kata Budi di Jakarta, Selasa (22/9/2026).
KDKMP Mulai Disiapkan Masuk Pasar Global
Budi menjelaskan, pengembangan KDKMP menuju pasar ekspor dilakukan secara bertahap. Skema tersebut berjalan bersamaan dengan pembinaan terhadap koperasi yang telah lebih dulu beroperasi dan memiliki pengalaman dalam perdagangan internasional.
Ia mencontohkan sejumlah koperasi yang sudah berstatus existing dan sebelumnya berhasil menjalankan kegiatan ekspor. Menurut dia, pengalaman koperasi-koperasi tersebut dapat menjadi bagian dari pengembangan ekosistem ekspor berbasis desa.
“Memang ini kan koperasi juga sedang berjalan, sedang proses. Tetapi selain Koperasi Desa Merah Putih, ada juga koperasi yang lama atau yang sudah existing, seperti di Jembrana. Kemarin yang di Jember itu Koperasi Desa,” ujarnya.
Program Desa Bisa Ekspor tidak hanya ditujukan kepada KDKMP. Kemendag juga menyasar pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di desa serta Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Dorong Ekonomi Desa Naik Kelas
Budi menilai pengembangan ekspor berbasis desa penting untuk memperluas pusat pertumbuhan ekonomi. Selama ini, aktivitas perdagangan dan bisnis cenderung terkonsentrasi di kawasan perkotaan, sementara desa memiliki beragam komoditas yang berpotensi dipasarkan ke mancanegara.
Karena itu, pemerintah ingin aktivitas ekonomi di desa tidak berhenti pada produksi dan perdagangan lokal, tetapi berkembang hingga masuk rantai perdagangan global.
“Kita prioritaskan yang aktivitasnya itu di desa karena kita ingin perputaran ekonominya tidak hanya di kota, tapi di desa pun berkembang. Kalau kita lihat, banyak potensi yang ada di desa,” kata Budi.
Selain memberikan pelatihan, Kemendag juga memfasilitasi pelaku usaha desa untuk bertemu langsung dengan calon pembeli dari luar negeri. Fasilitasi tersebut dilakukan melalui jaringan perwakilan perdagangan Indonesia yang tersebar di berbagai negara.
Budi menekankan, keberadaan pembeli atau buyer menjadi salah satu faktor penting dalam membuka akses ekspor bagi pelaku usaha desa dan UMKM.
“Ekspor itu kuncinya adalah buyer. Kalau sudah dapat buyer, nanti belajarnya gampang, pasti kita ajari. Tapi bagaimana mendapat buyer itu yang tidak mudah,” ujarnya.
Karena itu, Kemendag mendorong kegiatan business matching antara pelaku usaha desa dan calon pembeli dari luar negeri dengan melibatkan perwakilan perdagangan Indonesia di berbagai negara.
“Kita terutama untuk desa dan UMKM ini fasilitasi melalui business matching dengan perwakilan kita di luar negeri,” kata Budi. (Aji)








