
PeluangNews, Jakarta-Koperasi Pegawai Indosat (Kopindosat) mempercepat transformasi bisnis dengan merambah sektor minyak dan gas (migas), pertambangan, hingga industri pupuk.
Langkah diversifikasi tersebut menjadi mesin pertumbuhan baru yang mengantarkan koperasi mencatatkan kinerja positif sepanjang 2025, sekaligus mengurangi ketergantungan pada sektor telekomunikasi.
Ekspansi tersebut menjadi sorotan dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT) Tahun Buku 2025 Kopindosat yang digelar di Jakarta, Rabu (24/6/2026).
Ketua Pengurus Kopindosat, Wahono, mengatakan seluruh perusahaan dalam Grup Kopindosat kembali membukukan kinerja positif setelah sempat menghadapi tekanan pada salah satu anak usaha pada tahun sebelumnya.

“Pada 2025 seluruh entitas dalam Grup Kopindosat, baik Kopindosat, Persada, JST, maupun anak-anak perusahaan lainnya, kembali mencatatkan kinerja positif. Jadi seluruh grup kembali membukukan keuntungan,” ujar Wahono, saat berbincang dengan PeluangNews, usai pembukaan RAT Tahun Buku 2025 Kopindosat.
Berdasarkan laporan kinerja, Kopindosat Group mencatat laba sebesar Rp5.8 miliar. Hingga akhir 2025, jumlah anggota koperasi tercatat sebanyak 2.652 orang.
Dari sisi neraca, aset koperasi induk telah melampaui Rp400 miliar. Sementara jika digabungkan dengan seluruh anak perusahaan, total aset grup berada di kisaran Rp600 miliar.
Wahono menjelaskan, strategi diversifikasi menjadi langkah penting untuk memperkuat ketahanan bisnis koperasi dalam jangka panjang. Selama ini sebagian besar pelanggan Kopindosat berasal dari sektor telekomunikasi, namun kini perusahaan mulai membangun sumber pendapatan baru dari sektor riil.
“Kami merupakan koperasi yang bergerak di sektor riil. Selama ini pelanggan kami didominasi telekomunikasi, namun ke depan kami memperluas ke sektor migas, pertambangan, dan industri pupuk,” katanya.
Sejumlah proyek strategis telah berjalan, di antaranya proyek compressed natural gas (CNG) di Jawa Barat dan Jawa Tengah, kerja sama sektor pupuk di Kalimantan Timur bersama PSE dan PKT, serta proyek pertambangan batu bara di Kalimantan melalui kerja sama dengan PT WIS untuk proyek PT BAUMA.
Selain itu, Kopindosat juga memperluas bisnis ritel melalui pembukaan gerai Kopi Kenangan di kawasan Kebagusan, Jakarta Selatan. Di sektor telekomunikasi, perusahaan mengembangkan proyek BTS Recovery melalui PT JST sebagai bagian dari penguatan bisnis afiliasi.
Meski melakukan diversifikasi, Kopindosat tetap memperkuat bisnis intinya di bidang infrastruktur digital.
Salah satu proyek unggulan yang tengah dikembangkan adalah pembangunan jaringan fiber optic backbone sepanjang 4.683 kilometer yang memanfaatkan jalur rel kereta api, serta pengembangan layanan FTTH Internet Rakyat (IRA).
Menurut Wahono, proyek backbone internet tersebut menjadi salah satu pilar utama pertumbuhan bisnis sekaligus mendukung pemerataan konektivitas nasional.
Pengembangan proyek tersebut turut didukung pembiayaan dari Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB). Secara akumulatif, Kopindosat telah memperoleh fasilitas pembiayaan sekitar Rp300 miliar.
“Top up terakhir sekitar Rp80 miliar digunakan untuk mendukung proyek pembangunan backbone internet murah yang memperluas konektivitas di wilayah yang belum terjangkau,” ujarnya.
Di saat yang sama, Kopindosat juga melakukan penataan portofolio usaha melalui divestasi PT Persada kepada INET sebagai bagian dari strategi korporasi untuk meningkatkan fokus bisnis dan efisiensi.
Wahono menegaskan bahwa ekspansi usaha yang dijalankan tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan kinerja keuangan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.
“Proyek backbone ini memberikan nilai tambah yang besar, tidak hanya bagi koperasi tetapi juga masyarakat. Ada penyerapan tenaga kerja dan keterlibatan UMKM di dalamnya,” papar Wahono.
Sementara itu, Asisten Deputi Tata Kelola dan Manajemen Risiko Kementerian Koperasi, Trias Sujatmiko, mengapresiasi kinerja Kopindosat yang mampu bertahan dan tumbuh di tengah tantangan ekonomi sepanjang 2025.
Menurutnya, koperasi dengan usia lebih dari empat dekade tersebut menunjukkan perkembangan yang positif, terutama dari sisi aset.
“Meski 2025 merupakan tahun yang penuh dinamika, pertumbuhan aset koperasi cukup baik, mencapai sekitar 5,1 persen,” ungkap Trias.
Ia menegaskan pemerintah akan terus mendukung pengembangan koperasi melalui berbagai instrumen pembiayaan, termasuk LPDB, sekaligus membuka ruang konsultasi bagi koperasi yang membutuhkan pendampingan.
“Pemerintah saat ini tidak lagi hanya berperan sebagai regulator, tetapi juga menjadi mitra bagi koperasi. Oleh karena itu, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan kami apabila menghadapi kendala atau membutuhkan pendampingan,” jelas Trias.
Di tengah dinamika ekonomi dan persaingan bisnis yang semakin ketat, koperasi yang berdiri sejak 1983 itu berhasil menjaga profitabilitas seluruh entitas usahanya.








