
PeluangNews, Jakarta – Di tengah ancaman berkurangnya ketersediaan air akibat musim kemarau dan fenomena El Nino, Bendungan Tapin di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, menjadi salah satu tumpuan penting untuk menjaga pasokan air. Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mengoptimalkan pengoperasian bendungan tersebut agar kebutuhan masyarakat, pertanian, dan lingkungan tetap terpenuhi.
Optimalisasi Bendungan Tapin yang berada di Kecamatan Piani tersebut merupakan bagian dari strategi Menteri PU Dody Hanggodo dalam mendukung target Swasembada Pangan, khususnya melalui upaya menjaga ketersediaan air irigasi ketika ancaman kekeringan meningkat.
“Kementerian PU terus mengoptimalkan operasi bendungan dan infrastruktur sumber daya air agar kebutuhan air baku, irigasi, dan pengendalian banjir tetap terjaga. Dengan pengelolaan yang optimal, kami memastikan pasokan air bagi masyarakat tetap aman dan berkelanjutan,” kata Menteri Dody.
Secara teknis, Bendungan Tapin yang dikelola Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III memiliki peran sebagai infrastruktur penyangga utama dalam menghadapi deviasi iklim ekstrem akibat fenomena El Niño di wilayah Kalimantan Selatan.
Saat ini, volume tampungan Bendungan Tapin tercatat sebesar 35.957.287 m³ atau 68,12 persen dari kapasitas Tampungan Muka Air Normal.
Menghadapi puncak musim kemarau dan fenomena El Nino, Bendungan Tapin menjalankan lima peran strategis dalam menjaga ketersediaan dan keberlanjutan pemanfaatan air.
Pertama, optimasi pola operasi waduk atau maximum storage retention. Pengelola Bendungan Tapin menerapkan pola operasi dengan mempertahankan ketersediaan air sesuai Rencana Tahunan Operasi Waduk serta menjaga elevasi muka air pada batas operasi normal.
Kedua, menjaga kontinuitas air baku dan aliran sungai. Dengan suplai konstan pada Potensi Air Baku sebesar 500 L/s, bendungan berfungsi menjaga pasokan air baku sekaligus mempertahankan debit pemeliharaan sungai.
Ketiga, pemantauan hidrologi presisi berbasis real-time data. Operasi pengeluaran air atau outflow release disesuaikan secara dinamis dengan memperhitungkan inflow dari wilayah hulu serta pemodelan cuaca dari BMKG dan BRIN.
Langkah tersebut memungkinkan pengelola menyesuaikan pelepasan air berdasarkan kondisi aktual di lapangan, sehingga pemanfaatan tampungan dapat dilakukan secara lebih terukur menghadapi perubahan kondisi hidrologi.
Keempat, penyesuaian pemanfaatan air di wilayah hilir berdasarkan skala prioritas pemenuhan kebutuhan air. Kebutuhan air baku ditempatkan sebagai prioritas utama, kemudian diikuti kebutuhan irigasi, industri, energi listrik, dan pariwisata.
Kelima, mitigasi dampak sekunder, termasuk penurunan risiko kebakaran hutan dan lahan atau karhutla. Rilis air secara teratur ke alur sungai dan saluran irigasi membantu memperkecil penurunan tinggi muka air tanah atau water table di wilayah sekitarnya.
Optimalisasi Bendungan Tapin tidak hanya diarahkan untuk memastikan ketersediaan air selama musim kemarau. Pengelolaan tersebut juga menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat sektor-sektor produktif yang bergantung pada keberlanjutan sumber daya air.
Langkah ini selaras dengan Visi PU 608 melalui pembangunan dan pengelolaan infrastruktur yang tepat sasaran serta mampu memberikan nilai tambah bagi berbagai sektor produktif.
Dengan pengelolaan sumber daya air yang optimal, Bendungan Tapin diharapkan mampu menjaga keberlanjutan pasokan air, mendukung kebutuhan irigasi dan ketahanan pangan, sekaligus memperkuat aktivitas ekonomi masyarakat.
Pada saat yang sama, pengoperasian bendungan secara terukur menjadi bagian penting dalam menghadapi tekanan perubahan iklim dan fenomena El Nino, sehingga ketersediaan air tetap dapat dijaga untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan sektor produktif di Kalimantan Selatan.








