hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi
Ragam  

Yogie Pratama Hidupkan Pesona 1950-an dalam Balutan Couture

Yogie Pratama. Foto: Ist/peluangnews
Yogie Pratama. Foto: Ist/peluangnews

PeluangNews, Jakarta-Pesona perempuan era 1950-an kembali hadir di panggung mode Indonesia, tetapi kali ini dengan wajah yang lebih modern. Desainer Yogie Pratama menerjemahkan siluet klasik dekade tersebut melalui permainan tekstur, detail manik, dan material mewah dalam koleksi couture terbarunya yang dipresentasikan di The Langham Fashion Soirée, (14/8/2026).

Sebanyak 30 set koleksi ditampilkan dalam peragaan tersebut. Yogie membawa eksplorasi mendalam tentang tekstur dan craftsmanship sebagai elemen utama yang membangun karakter setiap busana sekaligus menegaskan sisi feminin yang tak lekang oleh waktu.

Bagi Yogie, tekstur bukan sekadar ornamen untuk mempercantik busana. Elemen tersebut menjadi bahasa visual yang memberikan dimensi, kedalaman, sekaligus pengalaman estetika pada setiap rancangan.

Eksplorasi itu terlihat melalui teknik tambour beading, ketika helaian manik dirangkai dengan ketelitian tinggi hingga menciptakan permukaan busana yang hidup dan kaya karakter.

Kesan mewah sekaligus lembut diperkuat melalui palet warna emas, rose gold, merah muda, dan nude. Yogie juga memadukan beragam material, seperti chiffon yang ringan dan mengalir, silk taffeta yang lebih berstruktur, serta detail tambour beading yang menjadi aksen utama.

Inspirasi koleksi berangkat dari interpretasi modern terhadap gaya busana era 1950-an. Dekade tersebut dikenal dengan estetika feminin yang kuat, mulai dari tata rambut, riasan wajah, hingga siluet busana yang membentuk lekuk tubuh menyerupai jam pasir.

Namun, Yogie tidak sekadar membawa kembali nostalgia masa lalu. Ia mengolah karakter estetika 1950-an agar tetap relevan dengan perempuan masa kini.

Siluet klasik diterjemahkan melalui konstruksi yang lebih ringan, detail yang lebih kaya, serta permainan tekstur yang menjadi identitas utama koleksi. Hasilnya adalah busana yang mempertahankan kesan feminin dan elegan tanpa terlihat terjebak pada gaya vintage.

Pendekatan tersebut sekaligus memperlihatkan perhatian Yogie terhadap craftsmanship dalam industri couture Indonesia. Setiap rancangan dibangun melalui pertemuan antara teknik pengerjaan, material, dan estetika yang saling melengkapi.

Lewat koleksi ini, tekstur tidak hanya menjadi sesuatu yang terlihat, tetapi juga menjadi bagian dari karakter busana. Detail manik yang dikerjakan secara teliti memberikan kesan dimensional sekaligus menghadirkan pengalaman visual yang berbeda pada setiap tampilan.

Presentasi di The Langham Fashion Soirée pun menjadi penegasan konsistensi Yogie Pratama dalam mengeksplorasi keindahan kriya di ranah couture.

Koleksi tersebut pada akhirnya menjadi penghormatan terhadap keanggunan klasik sekaligus bentuk reinterpretasi yang lebih segar. Di tangan Yogie, perempuan era kini digambarkan sebagai sosok yang anggun, kuat, percaya diri, dan tetap relevan melintasi zaman.

pasang iklan di sini
octa vaganza