
Oleh: Edy Mulyadi
SABTU, 19 September 2026. Pagi yang cerah menjelang siang, sekitar pukul 10.21 WIB, Presiden Prabowo Subianto memasuki ruangan acara di Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM) Ponorogo. Kedatangannya memang ditunggu. Beberapa menit ke depan, acara inti resepsi syukuran 100 Tahun Pondok Pesantren Modern Gontor Darussalam, Jawa Timur, dimulai.
Kiai dan para pengasuh Pondok punya cara sendiri menyambut Presiden. Ada lantunan Al-Qur’an Surah Al-Ahzab ayat 70-73 mengiringi langkah Prabowo. Kebetulankah? Ayat yang dibacakan dipilih acak? Saya yakin, tidak.
Ayat-ayat ini sengaja dipilih. Mereka menyimpan makna spiritual dan kebangsaan — kalau boleh disebut begitu — yang sangat dalam. Di hadapan ribuan santri dan jajaran pengasuh, pesan yang terucap bukan lewat pidato politik. Pesannya langsung melalui wahyu Allah SWT, Sang Pencipta dan Penguasa Alam Raya!
Bagi tradisi pesantren yang memegang teguh adab, pemilihan ayat Al-Qur’an dalam acara formal tidak pernah lahir dari kebetulan. Ada pesan substantif yang disampaikan. Hebatnya lagi, pesan itu dikirim secara elegan, santun. Tapi menghujam langsung ke jantung kekuasaan.
Berikut petikan lengkap terjemahan Surah Al-Ahzab ayat 70–73:
Ayat 70: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”
Ayat 71: “Niscaya Allah akan memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung.”
Ayat 72: “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat). Lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh.”
Ayat 73: “Agar Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan; dan agar Allah menerima tobat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Jika ditelaah secara mendalam, rangkaian ayat ini memberikan tiga pijakan moral sekaligus cermin bagi realitas berbangsa kita hari ini.
Qaulan Sadida
Ini tentang menjaga kebenaran lisan di tengah riuh narasi. Ayat 70 dan 71 menekankan perintah qaulan sadida: perkataan yang benar, jujur, dan lurus. Dalam konteks kepemimpinan nasional, lisan penguasa adalah kompas publik. Pemimpin yang bijak paham bahwa retorika di podium harus selaras dengan realitas di lapangan.
Tapi faktanya, kita sering menyaksikan jurang pemisah antara klaim keberhasilan dan penderitaan rakyat. Pidato-pidato kenegaraan dijejali cerita pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan. Di sisi lain, akar rumput masyarakat justru terhimpit oleh lonjakan harga bahan pokok, gelombang PHK, serta minimnya lapangan kerja yang layak.
Qaulan sadida menuntut akuntabilitas narasi. Berhentilah menutupi kesulitan rakyat dengan bahasa statistik yang dipercantik. Namun, mulailah mengakui kenyataan apa adanya demi perbaikan yang sesungguhnya.
Diksi dan frasa yang digunakan pun harus dipilah dan dipilih. Pidato Kepala Negara, apalagi disampaikan di forum resmi dan terhormat, tentu sangat berbeda dengan obrolan rakyat di warung kopi. Diksi “ndasmu”, “bajingan”, “goblok”, dan seterusnya adalah hal teramat tabu. Pidato Presiden ditonton jutaan, puluhan juta, bahkan ratusan juta rakyat. Ia diedit, dipotong-potong, lalu diputar ulang berkali-kali. Viral di media. Jika tidak bagus, jadi bahan ejekan, hujatan…
Zaluman Jahula
Pesan ini bicara soal beban amanah kekuasaan dan realitas keadilan. Pada ayat 72, Al-Qur’an menyajikan gambaran yang sangat kontemplatif. Langit, bumi, dan gunung-gunung—entitas alam yang begitu kokoh—gentar dan menolak ketika ditawari amanah/kekuasaan. Mereka paham betapa dahsyatnya konsekuensi dari sebuah pertanggungjawaban. Namun, manusia justru bersedia memikulnya. Ayat ini ditutup dengan kalimat penegas yang menghentak: “Innahu kana zaluman jahula”. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh.
Kezaliman dan kebodohan (zaluman jahula) dalam bernegara tampak nyata tatkala kekuasaan disalahgunakan untuk kepentingan segelintir elite. Di Indonesia hari ini, kita mendapati ironi keadilan. Hukum sering kali tampak tajam ke bawah namun tumpul ke atas. Rakyat kecil dihukum berat hanya karena pelanggaran sepele. Sebaliknya, para pencuri uang negara, perusak alam, dan atau oligarki yang dekat dengan kekuasaan dapat keistimewaan.
Berkhianat atas amanah yang diemban adalah bentuk kezaliman dan kebodohan kekuasaan yang nyata. Mengabaikan prinsip keadilan demi melindungi kelompok sendiri adalah bentuk konkret dari kezaliman dan kebodohan kepemimpinan yang disindir oleh Al-Ahzab ayat 72.
Bahaya Lingkaran ABS
Ayat 73 memperingatkan tentang sifat munafik dan bahaya pengkhianatan amanah. Dalam konteks kekuasaan, ayat ini menyindir penguasa dan para pembisik. Para pemberi laporan asal bapak senang (ABS) sejatinya adalah penjilat dan pengkhianat.
Pada tataran tata kelola pemerintahan, ancaman terbesar seorang pemimpin sering kali bukan berasal dari musuh politik. Mereka justru datang dari lingkaran dalamnya sendiri. Budaya ABS yang mengakar kuat di birokrasi kita membuat laporan-laporan yang sampai ke meja presiden mengalami penyaringan ketat.
Para pembisik dan penjilat politik menyodorkan angka-angka indah, tepuk tangan buatan, serta sanjungan palsu. Pada saat yang sama mereka menyembunyikan tangisan petani yang gagal panen atau ibu-ibu yang kesulitan membeli beras. Pemimpin yang terbuai oleh laporan ABS pada hakikatnya sedang diasingkan dari kenyataan oleh pembisiknya sendiri.
Hari itu, di tengah suasana haru karena syukuran 100 Tahun, Ponpes Gontor memberi tamparan santun. Cara kiai dan pengasuh Gontor memilih dan memperdengarkan Surah Al-Ahzab ayat 70–73 di depan Presiden Prabowo. Ini adalah wujud nasihatut tammah. Nasihat yang sempurna dari ulama kepada umara. Ini adalah kritik tingkat tinggi yang dikemas dalam keanggunan adab pesantren.
Kekuasaan senantiasa membutuhkan cermin yang jujur. Dan tidak ada cermin yang lebih jernih untuk mengevaluasi lisan, kebijakan, serta amanah kepemimpinan nasional selain firman Allah SWT, Zat Yang Maha Perkasa dan Berkuasa. Semoga pesan santun dan indah itu mendapat respon positif dari Istana… []
[Penulis adalah wartawan senior]








