hayed consulting
hayed consulting
umkm insigh

YJI dan PERKI Luncurkan Kampanye Hari Jantung Sedunia 2026

Peluncuran kampanye Hari Jantung Sedunia 2026. Foto: Feby/peluangnews
Peluncuran kampanye Hari Jantung Sedunia 2026. Foto: Feby/peluangnews

PeluangNews, Jakarta – Ajakan untuk tidak mengabaikan sinyal tubuh menjadi pesan utama Yayasan Jantung Indonesia (YJI) bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) dalam meluncurkan kampanye nasional Hari Jantung Sedunia 2026.

Mengusung tema “Don’t Miss A Beat”, kampanye ini mendorong masyarakat lebih peka terhadap kesehatan jantung dan melakukan langkah nyata untuk mencegah penyakit kardiovaskular.

Kampanye tersebut resmi diluncurkan melalui konferensi pers di Kantor YJI, Jakarta Pusat, Rabu (23/9/2026), menjelang puncak peringatan Hari Jantung Sedunia pada 29 September 2026.

Salah satu fokus utama kampanye tahun ini adalah skrining Penyakit Jantung Rematik (PJR), terutama untuk mendeteksi penyakit tersebut sejak dini pada anak dan remaja. Program skrining telah dan akan dilaksanakan di empat lokasi, yakni Malang, Tulang Bawang, Lampung, Bekasi, dan Minahasa Utara.

Ketua Umum YJI Annisa Pohan Yudhoyono mengatakan skrining PJR merupakan bentuk deteksi dini sekaligus intervensi yang diharapkan dapat mencegah dampak jangka panjang penyakit jantung pada anak.

“Skrining PJR adalah bentuk deteksi dini dan intervensi tepat sasaran. Kami ingin memastikan tidak ada anak Indonesia yang kehilangan masa depannya karena penyakit jantung yang seharusnya bisa dicegah,” ujar Annisa.

Menurut dia, upaya menjaga kesehatan jantung membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, tidak hanya sektor kesehatan. Karena itu, YJI mengajak pemerintah, sektor swasta, akademisi, hingga masyarakat untuk membangun ekosistem yang mendukung pola hidup sehat.

“Kami mengajak pemerintah, swasta, akademisi, dan seluruh masyarakat untuk bersinergi menciptakan ekosistem sehat. Kampanye ini tidak boleh hanya seremonial — ia harus menjadi gerakan berkelanjutan yang mengubah gaya hidup masyarakat Indonesia,” katanya.

Pesan kesehatan jantung juga akan disampaikan melalui pendekatan yang lebih dekat dengan masyarakat. Salah satunya melalui Fashion Nation 20th Edition yang digelar di Senayan City pada 25 September 2026.

Kampanye tersebut dikemas dalam bentuk charity fashion show yang menampilkan sejumlah desainer, antara lain Amot Syamsuri Muda, Rinda Salmun, dan Glashka. Para dokter spesialis jantung serta sejumlah figur publik juga akan terlibat sebagai muse. Sebagian hasil penjualan akan didonasikan untuk anak-anak dengan penyakit jantung bawaan dari keluarga pra-sejahtera.

Ketua Bidang Komunikasi YJI Iwet Ramadhan mengatakan kampanye Hari Jantung Sedunia tahun ini menggunakan pendekatan 3E, yakni Educate, Engage, dan Activate.

“Educate — informasi kesehatan yang kredibel dan mudah dicerna. Engage — melibatkan publik figur, komunitas, dan media. Activate — dorong aksi nyata seperti olahraga dan pola hidup sehat,” jelas Iwet.

Menurut dia, media memiliki peran penting dalam memperluas edukasi mengenai kesehatan jantung sekaligus mendorong perubahan perilaku masyarakat.

“Komunikasi yang baik adalah kunci perubahan perilaku,” ujarnya.

Sementara itu, puncak rangkaian Hari Jantung Sedunia 2026 akan digelar melalui World Heart Day Run 2026 di Gelora Bung Karno, Jakarta, pada 27 September 2026. Kegiatan tersebut mencakup 5K Fun Run, Senam Jantung Sehat, serta pengumuman pemenang Body Transformation Competition (BTC).

BTC merupakan tantangan hidup sehat selama tiga bulan sejak Juni 2026 yang menilai sejumlah indikator kesehatan, mulai dari indeks massa tubuh (IMT), lingkar perut, tekanan darah, profil lipid, hingga gula darah. Perubahan tersebut didorong melalui aktivitas olahraga, pola makan seimbang, dan pemantauan kesehatan secara berkala.

Rangkaian kampanye juga memberikan edukasi mengenai Atrial Fibrillation (AF) atau fibrilasi atrium. Salah satu pesan yang disampaikan adalah gerakan MENARI atau Meraba Nadi Sendiri. Masyarakat diajak memeriksa denyut nadi secara mandiri dan segera mencari pertolongan medis jika menemukan irama tidak teratur yang disertai gejala seperti berdebar, lemas, atau sesak.

Selain itu, masyarakat juga diperkenalkan dengan pentingnya Basic Life Support (BLS) atau Bantuan Hidup Dasar, termasuk mengenali kondisi henti jantung, menghubungi layanan gawat darurat, melakukan resusitasi jantung paru (RJP/CPR), dan menggunakan automated external defibrillator (AED).

Ketua Panitia World Heart Day Run 2026, dr. Rizky Aulia Fanani, Sp.JP, Subsp. Ar. (K), mengatakan kegiatan tersebut diharapkan menjadi momentum bagi masyarakat untuk memulai kebiasaan hidup sehat.

“Aktivitas fisik terukur dan skrining rutin adalah kunci pencegahan penyakit kardiovaskular,” ujarnya.

Kampanye nasional ini turut didukung OMRON Healthcare Indonesia. Direktur OMRON Healthcare Indonesia Tomoaki Watanabe mengatakan dukungan tersebut sejalan dengan visi global “Going for Zero” yang mendorong pencegahan untuk menekan risiko komplikasi stroke dan serangan jantung melalui deteksi dini serta pemantauan kesehatan secara berkala.

“Sejalan dengan visi ‘Going for Zero’, OMRON percaya bahwa pencegahan penyakit kardiovaskular perlu dimulai dari kesadaran dan langkah nyata yang dapat dilakukan setiap hari. Karena itu, kami tidak hanya menghadirkan perangkat kesehatan, tetapi juga membangun ekosistem yang dapat mendukung masyarakat dalam memantau dan menjaga kesehatan jantung secara berkelanjutan,” ujar Tomoaki.

Marketing Manager OMRON Healthcare Indonesia Fanny Himawan menambahkan, pemantauan kesehatan perlu menjadi bagian dari keseharian masyarakat, terutama untuk mengenali faktor risiko seperti hipertensi dan gangguan irama jantung.

“Melalui semangat ‘Keep On, Life On’, kami ingin membantu masyarakat menjadikan pemantauan kesehatan sebagai bagian dari keseharian. OMRON menghadirkan berbagai solusi, mulai dari tensimeter dengan teknologi IntelliSense AFib® hingga perangkat Home EKG (elektrokardiogram) yang dapat membantu pengguna memantau tekanan darah dan irama jantung serta mengenali kemungkinan AFib,” kata Fanny.

Dari sisi medis, Ketua Pengurus Pusat PERKI dr. Ade Meidian Ambari, SpJP(K), PhD, menegaskan pentingnya pencegahan dan deteksi dini dalam menghadapi penyakit kardiovaskular.

“Jantung Sehat Dimulai dari Mencegah dan Deteksi Dini,” kata Ade.

Ia mengajak masyarakat menerapkan pola hidup sehat, melakukan aktivitas fisik secara teratur, mengendalikan tekanan darah, kolesterol dan gula darah, berhenti merokok, menjaga berat badan, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.

“Jangan menunggu sakit untuk mulai peduli terhadap kesehatan jantung. Keren itu mencegah dan mendeteksi penyakit sejak dini,” tutupnya.

pasang iklan di sini
lpdb.go.id