Spiritualitas, kejujuran, dan taat aturan merupakan kunci utama keberhasilan pengembangan usaha KSP Balo’ta.

Saat dipercaya memimpin KSP Balotoraja (Balo’ta) tiga tahun silam, Dedi Bongga merasa tertantang. Pasalnya, Koperasi yang berusia lebih tua dari republik ini didirikan dengan semangat membebaskan masyarakat dari belenggu rentenir. Para founding fathers menginginkan sokoguru ekonomi sebagai sarana untuk memberikan manfaat nyata.
Semangat itu menyala hingga kini. Dedi dan jajarannya berkomitmen untuk memberikan layanan terbaik dan menebar manfaat bagi anggota dan masyarakat. Ia punya tiga jurus jitu untuk menjaga kelangsungan usaha koperasi, yakni: spiritualitas, kejujuran, dan taat aturan. Komitmen yang sejauh ini mewujud dalam setiap aktivitas operasional koperasi.
Spiritualitas diimplementasikan pada sikap berserah diri pada Tuhan setelah melakukan usaha secara optimal. Selain itu direfleksikan pada layanan tanpa diskriminasi dalam bentuk apapun karena semua adalah makhluk ciptaan-Nya.
Pilar kejujuran menekankan pada sikap keterbukaan dan transparansi produk dan layanan. Jujur juga berarti menerima masukan dari pihak manapun untuk menjadikan layanan KSP Balo’ta semakin berkembang. Sementara menaati aturan merupakan komitmen untuk mematuhi regulasi perkoperasian maupun aturan lain yang berlaku.
Pelaksanaan tiga komitmen itu manjur dalam menopang pengembangan usaha koperasi. Ini tercermin dari capaian kinerja koperasi yang didirikan pada 1 Mei 1941 itu. Per 31 Desember 2025, aset sebesar Rp1,91 triliun, tumbub dibanding tahun sebelumnya senilai Rp1,83 triliun. Simpanan sebesar Rp1,62 triliun dan kredit yang disalurkan mencapai Rp752,33 miliar.
Masyarakat juga semakin menaruh kepercayaan pada koperasi yang berkantor pusat di Jalan R.A. Kartini Nomor 7, Tondon Mamullu, Makale, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan itu. Hal ini tercermin dari kenaikan jumlah anggota dari 59.226 orang pada 2024 menjadi 63.893 orang di akhir 2025.
Secara historis, koperasi yang dibentuk pada 1 Mei 1941 ini berawal dari kegelisahan sembilan pemuda Toraja terhadap praktik rentenir. Saat itu, bunga pinjaman mencapai 20% per pekan yang sangat menyusahkan masyarakat.
Sembilan pendiri kemudian menyetor 25 Florin, yang nilainya saat itu setara dengan dua ekor kerbau remaja. Jika dikonversi sekarang, kurang lebih sekitar Rp50 juta per orang. Inisiatif pendirian koperasi merupakan simbol keberanian dan komitmen sosial. Nama Balo’ta bisa dimaknai sebagai ‘berkah kita’, yang berarti membawa manfaat bagi anggota dan masyarakat.
Melihat pencapaian kinerja KSP Balo’ta tersebut, Dedi Bongga dan jajarannya berhasil menjaga dan meneruskan idealisme para pendiri. (Dje).





