
Anda pasti pernah membeli perabot yang harus dirakit sendiri di rumah. Prosesnya tidak terlalu rumit, anda bisa memesan melalui marketplace dan mengirimkannya via kurir, atau membeli dan langsung membawa sendiri dari toko IKEA, ya anda tidak salah baca, “IKEA” karena model tersebut memang diprakarsai oleh IKEA.
Pada tahun 1956, Gillis Lundgren, seorang manajer katalog, menemukan ide untuk mengemas meja dengan cara tersebut, dikenal sebagai flat pack. Inovasi ini berhasil menurunkan biaya pengiriman secara signifikan dan meningkatkan penjualan IKEA hingga sepuluh kali lipat. Upaya menurunkan biaya seperti ini merupakan salah satu contoh dari Subtractive Strategy.
Subtractive Strategy adalah pendekatan bisnis dan desain yang berfokus pada penciptaan nilai (creating value) dengan cara menghilangkan (removing), menyederhanakan (simplifying), atau merampingkan (streamlining) produk, proses, dan fitur dan lain-lain, bukan dengan menambahkannya. Strategi ini meningkatkan efisiensi sekaligus memperbaiki pengalaman pengguna dengan menghilangkan hal-hal yang tidak perlu.
Strategi ini menjadi semakin relevan dalam kondisi geopolitik global yang tidak menentu, di mana sumber daya semakin terbatas, harga meningkat, dan daya beli masyarakat menurun. Ditambah dengan perkembangan Artificial Intelligence, berbagai bentuk pengurangan (subtraction) yang sebelumnya sulit dilakukan kini menjadi semakin memungkinkan.
Namun demikian, Subtractive Strategy bukanlah jalan pintas untuk sekadar mencapai efisiensi biaya, strategi ini merupakan bentuk inovasi yang harus mempertimbangkan berbagai aspek. Vijay Govindarajan, Daniel J. Finkenstadt, dan Tojin T. Eapen dalam artikelnya di Harvard Business Review pada tanggal 17 Juni 2025 memperkenalkan konsep Triple Test untuk membantu kita agar Subtractive Strategy memberikan dampak positif terhadap kinerja organisasi.
Mereka menekankan tiga aspek yang saling berkaitan, yaitu:
- Efisiensi (Efficiency): Meminimalkan penggunaan sumber daya, waktu, dan tenaga
- Ketangguhan (Resilience): Kemampuan beradaptasi terhadap gangguan dengan tetap menjaga fungsi utama (core function)
- Keunggulan (Prominence): Menjaga visibilitas, transparansi, reputasi, serta daya tarik bagi para pemangku kepentingan
Perampingan sistem yang hanya berfokus pada efisiensi semata dapat membuat organisasi menjadi rapuh, mengikis tujuan jangka panjang, serta merusak budaya (culture) yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Sebagai ilustrasi, penerapan sistem Just-in-Time yang hanya berorientasi pada penghematan biaya mengalami kegagalan saat pandemi COVID-19. Banyak pabrik berhenti beroperasi, menyebabkan kelangkaan barang dan rendahnya ketersediaan (availability) produk. Efisiensi tanpa resilence (ketangguhan) akan berujung pada kelumpuhan operasional dan hilangnya potensi pendapatan.
Contoh lain adalah cost cutting (pengurangan biaya) yang dilakukan oleh Boeing pada program 737 Max. Pemangkasan anggaran desain dan pengujian selama bertahun-tahun berkontribusi pada terjadinya kecelakaan fatal, yang menyebabkan kerugian lebih dari 20 miliar dolar. Dampaknya tidak hanya finansial, tetapi juga merusak reputasi, kredibilitas, dan kepercayaan pemangku kepentingan dalam jangka panjang.
Subtraction yang tidak memenuhi tiga kriteria, Efficiency, Resilience and Prominence dapat mengubah keberhasilan jangka pendek menjadi bencana dalam jangka panjang.
Terdapat enam bentuk transformasi Subtraction yang dapat diterapkan:
- Elimination (Eliminasi)
Menghapus komponen, langkah, atau opsi yang tidak diperlukan. Ini mencakup penghapusan aktivitas bernilai rendah, aturan yang tidak relevan, maupun pekerjaan berulang. Contohnya adalah penerapan sistem paperless dan katalog digital yang meningkatkan efisiensi dan ketangguhan, sekaligus memperkuat citra merek di kalangan generasi muda. Contoh lain adalah penghapusan denda atau larangan pelunasan dipercepat, justru hargai anggota yang mampu untuk segera melunasi pinjamannya, penghapusan jaminan untuk pinjaman mikro, serta penerapan auto-debit untuk mengurangi kebutuhan tenaga penagihan.
- Substitution (Substitusi)
Mengganti elemen kompleks dengan alternatif yang lebih sederhana. Sistem yang rumit dapat digantikan dengan solusi yang lebih sederhana namun tetap efektif. Contohnya adalah penggunaan platform digital atau chatbot (seperti WhatsApp bot) untuk menggantikan sebagian fungsi layanan pelanggan. Selain itu, penerapan jalur layanan “cepat” dan “lengkap” berdasarkan profil risiko juga merupakan bentuk substitusi. Terapkan layanan cepat untuk pinjaman mikro dan peminjam yang dikenal bereputasi baik sedang pinjaman yang cukup besar tetap harus melalui jalur lengkap
- Consolidation (Konsolidasi)
Menggabungkan berbagai fungsi menjadi solusi terpadu. Pendekatan ini tidak hanya mempertahankan, tetapi juga meningkatkan kepuasan pengguna. Contohnya adalah penggunaan e-money, QRIS, dan NIK untuk berbagai kebutuhan dalam satu sistem.
- Hiding (Penyembunyian Kompleksitas)
Menyederhanakan tampilan dengan menyembunyikan kerumitan proses. Antarmuka (interface) pengguna harus sederhana dan mudah digunakan meskipun sistem di baliknya kompleks. Contohnya adalah kendaraan: pengemudi hanya melihat setir, pedal, dan panel indikator, sementara sistem mesin bekerja secara kompleks di belakang layar, oli yang mengalir dan sistem kelistrikan yang rumit.
- Pausing (Penundaan Sementara)
Menghentikan sementara fitur atau layanan dalam kondisi tertentu. Fitur tidak dihapus, tetapi dihentikan sementara dan diaktifkan kembali saat kondisi membaik. Contohnya adalah penundaan kegiatan “family day” saat kinerja menurun, atau penggunaan sensor pada lampu yang akan otomatis mati saat tidak ada orang dan akan menyala kembali saat ada yang masuk
- Abstraction (Abstraksi)
Menyederhanakan konsep kompleks agar mudah dipahami. Gunakan bahasa yang sederhana dibandingkan istilah teknis yang rumit. Contohnya adalah aplikasi ojek online yang langsung menampilkan harga tanpa memperlihatkan perhitungan di baliknya, kalkulasi jarak, sistem pembagian orderdan segala perhitungan yang rumit. Contoh lain adalah penyederhanaan informasi pinjaman agar lebih mudah dipahami oleh anggota, misalnya pinjaman sebesar satu juta akan mendapatkan dana satu juta dengan angsuran sebesar seratus sebelas ribu per bulan selama sepuluh bulan, tidak perlu menampilkan bunga flat dan efektif, provisi, diskon, pinjam satu juta akan dicairkan sembilan ratus tiga puluh ribu dan lain sebagainya yang membuat anggota menjadi bingung
Subtractive Strategy merupakan proses yang berkelanjutan (continuous improvement). Keberhasilan implementasi perlu diapresiasi melalui penghargaan kepada individu atau tim yang berkontribusi, serta didukung oleh pemanfaatan Artificial Intelligence untuk mengidentifikasi peluang baru.
Lin Yutang (Hanzi, 10 Oktober 1895 – 26 Maret 1976), seorang Filsuf asal Tiongkok mengatakan:
“Besides the noble art of getting things done, there is the noble art of leaving things undone. The wisdom of life consists in the elimination of non-essentials”. Jadikan Subtraction bagian dari working style dalam anda bekerja dan lifestyle dalam kehidupan anda sehari-hari





