hayed consulting
hayed consulting
umkm insigh
Opini  

Siapa Kita Ketika Tidak Ada yang Melihat?

siapa kita ketika tidak ada yang melihat
Siapa Kita Ketika Tidak Ada yang Melihat?Oleh: Bambang Wijarnako
Pemerhati Manajemen Koperasi

PERNAH melihat video seorang pelamar kerja yang diterima di sebuah perusahaan bukan karena jawaban mengesankan saat wawancara atau sederet sertifikat keahlian yang dimilikinya? Ia justru mendapatkan pekerjaan setelah melakukan tindakan sederhana: memungut sampah yang berserakan di lantai gedung perusahaan.

Tanpa disadari, tindakannya terekam kamera CCTV dan diperhatikan pimpinan perusahaan. Sang pimpinan kemudian memutuskan menerimanya karena menilai sikap atau attitude jauh lebih penting daripada sekadar skill. Keterampilan bisa dipelajari dan ditingkatkan, sedangkan pembentukan karakter membutuhkan proses panjang.

Terlepas dari benar tidaknya kisah tersebut, ada pesan menarik yang layak direnungkan. Mengapa tindakan sederhana seperti memungut sampah bisa memiliki nilai lebih besar daripada kemampuan teknis seseorang?

Skill menunjukkan apa yang mampu dilakukan seseorang, sedangkan attitude mencerminkan bagaimana ia menggunakan kemampuannya. Karyawan yang sangat terampil, tetapi tidak jujur, tidak bertanggung jawab, atau sulit bekerja sama, justru berpotensi menimbulkan masalah bagi organisasi.

Sebaliknya, seseorang yang belum sepenuhnya menguasai pekerjaan, tetapi memiliki kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemauan belajar, mempunyai peluang besar untuk berkembang. Tentu saja, kompetensi tetap penting. Seorang dokter harus menguasai ilmu kedokteran dan pilot harus memiliki kemampuan menerbangkan pesawat. Namun, kompetensi tanpa integritas dapat menjadi sesuatu yang berbahaya.

Lifestyle Membentuk Work Style

Lantas, dari mana attitude seseorang terbentuk? Apakah dari pendidikan, keluarga, lingkungan pergaulan, atau pengalaman kerja?

Pada dasarnya, karakter seseorang tumbuh melalui berbagai kebiasaan yang dijalani dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang terbiasa menjaga kebersihan di rumah cenderung lebih mudah menerapkan kebiasaan serupa di tempat kerja. Mereka yang terbiasa menepati janji dalam kehidupan pribadi juga memiliki bekal untuk menghargai komitmen profesional.

Begitu pula kepedulian terhadap orang lain. Seseorang yang terbiasa membantu dan menghargai sesama akan lebih mudah membangun kerja sama dalam organisasi.

Dengan demikian, lifestyle dan work style memiliki hubungan timbal balik. Kebiasaan hidup memengaruhi perilaku di tempat kerja, sementara budaya organisasi juga dapat membentuk kebiasaan seseorang dalam kehidupan pribadi.

Lingkungan kerja yang menjunjung tinggi disiplin, kejujuran, dan saling menghormati dapat memperkuat karakter positif. Sebaliknya, lingkungan yang permisif terhadap pelanggaran berpotensi mengikis nilai-nilai baik yang sebelumnya dimiliki seseorang.

Menariknya, perbedaan karakter juga dapat ditemukan di dalam satu keluarga. Anak-anak yang lahir dari orang tua yang sama, tinggal di rumah yang sama, dan memperoleh pendidikan agama relatif serupa, belum tentu memiliki attitude yang identik.

Ada yang sangat peduli kepada orang tua, ada yang bertanggung jawab, tetapi ada pula yang cenderung egois atau kurang menghargai orang lain.

Hal ini menunjukkan bahwa pembentukan karakter tidak hanya ditentukan oleh pola asuh orang tua. Temperamen, pengalaman hidup, lingkungan pergaulan, dan pilihan pribadi turut memengaruhinya. Pendidikan keluarga memang memberikan fondasi, tetapi setiap individu tetap bertanggung jawab atas perilaku dan keputusan yang diambilnya.

Karena itu, membangun karakter tidak cukup hanya melalui nasihat. Keteladanan, pembiasaan, lingkungan yang mendukung, serta kesediaan mengevaluasi diri merupakan bagian penting dari proses tersebut.

Lingkungan Bisa Mengubah Karakter

Rasulullah SAW memberikan perumpamaan yang sangat indah mengenai pengaruh lingkungan pergaulan. Beliau mengibaratkan teman yang baik seperti penjual minyak wangi, sedangkan teman yang buruk seperti pandai besi.

Dari penjual minyak wangi, seseorang mungkin memperoleh minyak wangi, membelinya, atau setidaknya mencium aroma harum. Sebaliknya, dari pandai besi, seseorang mungkin terkena percikan api atau mencium bau yang tidak menyenangkan. (HR. Bukhari dan Muslim).

Perumpamaan ini menggambarkan bahwa lingkungan sosial memiliki pengaruh besar terhadap perilaku seseorang.

Bayangkan seorang karyawan yang dibesarkan dalam keluarga yang menjunjung tinggi kejujuran. Ketika memasuki dunia kerja, ia menemukan praktik manipulasi laporan, penerimaan komisi tidak resmi, atau penyalahgunaan fasilitas dianggap sebagai sesuatu yang biasa.

Awalnya, ia mungkin menolak. Namun, ketika terus-menerus mendengar ungkapan seperti, “Di sini memang sudah biasa begitu,” atau “Kalau terlalu jujur, pekerjaan tidak akan selesai,” perlahan-lahan ia bisa mulai menoleransi perilaku yang sebelumnya dianggap salah.

Sebaliknya, seseorang yang bekerja dalam organisasi dengan budaya integritas kuat dapat terdorong untuk memperbaiki perilakunya.

pasang iklan di sini
lpdb.go.id