
PeluangNews, Yogyakarta – Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi mendorong penguatan koperasi pertanian di kawasan ASEAN melalui akses pembiayaan terjangkau, pemberdayaan koperasi perempuan, dan pemanfaatan teknologi digital. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas petani, memperluas akses pasar, serta memperkuat ketahanan pangan regional.
Komitmen tersebut disampaikan Direktur Umum dan Hukum LPDB Koperasi, Deva Rachman, dalam pertemuan ke-32 ASEAN Centre for the Development of Agricultural Cooperatives (ACEDAC) dan pertemuan ke-27 ASEAN Sectoral Working Group on Agricultural Cooperatives (ASWGAC) di Yogyakarta, 12–13 Oktober 2026.
Dalam forum yang dihadiri delegasi negara-negara anggota ASEAN itu, Deva memaparkan pengalaman Indonesia dalam mengembangkan pembiayaan dana bergulir bagi koperasi, terutama di sektor pertanian serta koperasi yang melibatkan dan dipimpin perempuan.
Menurutnya, penguatan koperasi membutuhkan dukungan pemerintah, akses permodalan yang adil, dan ekosistem usaha yang mampu menghubungkan petani dengan pasar. Dengan demikian, koperasi tidak hanya menjadi wadah usaha bersama, tetapi juga penggerak produktivitas dan kesejahteraan anggotanya.
Salah satu program yang menarik perhatian delegasi ASEAN adalah Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Model ini menempatkan koperasi sebagai penghubung antara petani, pasar, dan rantai pasok melalui fungsi agregator, konsolidator, serta pembeli hasil produksi (off-taker).
Sejumlah delegasi ASEAN mengapresiasi pendekatan tersebut dan menyatakan ketertarikan untuk mempelajarinya sebagai referensi pengembangan koperasi di negara masing-masing.
“Ketahanan pangan tidak hanya dibangun di lahan pertanian, tetapi juga melalui akses pembiayaan yang adil dan terjangkau bagi para pelaku yang menggerakkannya. Koperasi memiliki peran penting untuk menghubungkan produksi petani dengan pasar sekaligus memastikan manfaat ekonomi dapat dirasakan oleh masyarakat,” demikian pesan Deva dalam paparannya.
LPDB Salurkan Rp22,91 Triliun kepada 3.930 Koperasi
Sebagai Badan Layanan Umum (BLU) di bawah Kementerian Koperasi, LPDB Koperasi menjalankan fungsi pembiayaan dan pemberdayaan koperasi. Pelaksanaannya berlandaskan tiga prinsip, yakni keberhasilan penyaluran pembiayaan, pemanfaatan dana secara produktif, serta pengembalian dana agar dapat disalurkan kembali kepada koperasi lainnya.
Untuk mendukung kegiatan usaha di sektor riil, LPDB Koperasi menawarkan pembiayaan dengan tarif jasa mulai dari 3 persen menggunakan metode perhitungan sliding rate. Skema tersebut juga tidak mengenakan biaya administrasi dan provisi.
Berdasarkan data yang dipaparkan dalam forum ACEDAC dan ASWGAC, sejak 2008 hingga Oktober 2026, LPDB Koperasi telah menyalurkan dana bergulir sebesar Rp22,91 triliun kepada 3.930 koperasi mitra yang tersebar di 36 provinsi. Penyaluran tersebut memberikan manfaat kepada lebih dari 529.000 pengguna akhir.
Khusus sektor pertanian, pembiayaan LPDB Koperasi pada 2026 mencapai sekitar Rp379,28 miliar, meningkat tujuh kali lipat dibandingkan 2021.
Pembiayaan tersebut menjangkau berbagai bidang usaha, mulai dari tebu dan gula, tembakau, sarana produksi dan pupuk pertanian, peternakan dan susu, hingga perikanan. Cakupan ini memperlihatkan peran koperasi dalam menggerakkan ekonomi perdesaan sekaligus mendukung rantai pasok pangan.
Pembiayaan Koperasi Perempuan Tembus Rp542,64 Miliar
Selain memperkuat sektor pertanian, LPDB Koperasi turut mendorong pemberdayaan ekonomi perempuan melalui akses pembiayaan bagi koperasi yang berfokus pada perempuan maupun dipimpin perempuan.
Hingga Oktober 2026, pembiayaan untuk kelompok koperasi tersebut mencapai sekitar Rp542,64 miliar dan menjangkau lebih dari 363.000 anggota perempuan.
Dukungan itu mencakup beragam kegiatan produktif, mulai dari usaha petani kopi Gayo di Aceh hingga pertanian berbasis komunitas di berbagai daerah. Melalui pembiayaan tersebut, koperasi perempuan diharapkan mampu memperkuat kapasitas usaha, memperluas pasar, dan meningkatkan kontribusi ekonomi bagi masyarakat.
Lima Agenda Strategis Koperasi Pertanian ASEAN
Dalam pembahasan Plan of Action (POA) ACEDAC 2027, Deva juga menyampaikan lima agenda strategis untuk memperkuat kolaborasi pengembangan koperasi pertanian dan kehutanan di kawasan ASEAN.
Pertama, pengembangan dan pemanfaatan teknologi digital serta kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing sektor pertanian dan kehutanan.
Kedua, penyusunan strategi menghadapi fenomena El Niño dan dampak perubahan iklim terhadap keberlanjutan usaha pertanian.
Ketiga, peningkatan keterlibatan generasi muda melalui program youth camp dan pertukaran pemuda (exchange programs).
Keempat, penyusunan strategi untuk menjawab tantangan penuaan generasi atau aging generation dalam koperasi pertanian.
Kelima, integrasi data koperasi pertanian di ASEAN guna mendukung perdagangan, investasi, dan pengembangan pasar melalui platform marketplace ACEDAC.
Kelima agenda tersebut diharapkan memperkuat pertukaran pengetahuan dan kolaborasi lintas negara. Selain itu, koperasi pertanian ASEAN didorong agar lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi, perubahan iklim, dan dinamika pasar.
Pertemuan ACEDAC ke-32 dan ASWGAC ke-27 menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis bagi pengembangan koperasi pertanian di kawasan ASEAN. Hasil pembahasan tersebut akan menjadi landasan bagi penguatan kerja sama dan pelaksanaan program pada periode berikutnya.
Indonesia dijadwalkan menjadi tuan rumah Business Forum ACEDAC 2027. Sementara itu, pertemuan Dewan ACEDAC berikutnya akan diselenggarakan di Republik Demokratik Rakyat Laos pada 2027.
Melalui forum regional ini, LPDB Koperasi menegaskan komitmennya memperkuat koperasi melalui pembiayaan produktif, pemberdayaan anggota, dan pengembangan kemitraan. Kerja sama antarnegara ASEAN diharapkan dapat memperluas akses pasar, memperkuat ekonomi perdesaan, serta mendukung ketahanan pangan yang berkelanjutan. (RO/Aji)








