hayed consulting
hayed consulting
umkm insigh
Bisnis  

Jims Honey, Brand Lokal yang Bidik Pasar ASEAN

Marketing Communication Jims Honey, Aksa. Foto: Ratih/peluangnews
Marketing Communication Jims Honey, Aksa. Foto: Ratih/peluangnews

PeluangNews, Jakarta-Sekilas terlihat seperti merek fashion dari luar negeri, Jims Honey ternyata merupakan brand lokal Indonesia yang telah bertahan lebih dari satu dekade. Setelah memperkuat pasar domestik, merek fashion accessories ini kini mulai membidik peluang ekspansi ke kawasan ASEAN.

Marketing Communication Jims Honey, Aksa, mengatakan Jims Honey telah berdiri sejak 2014. Dalam perjalanannya, perusahaan sempat mencoba berbagai jenis produk fashion accessories sebelum akhirnya fokus pada tas, dompet, dan jam tangan.

“Jims Honey merupakan brand lokal yang berdiri sejak 2014. Sampai sekarang sudah hampir 12 tahun dan menuju 13 tahun,” ujar Aksa saat ditemui PeluangNews dalam acara Musyawarah Kota Kadin Jakarta Pusat, di Jakarta, Kamis (7/10/2026).

Menurut Aksa, tas menjadi salah satu produk yang paling identik dengan Jims Honey. Produk tersebut dirancang sebagai daily bag yang dapat digunakan untuk berbagai aktivitas, mulai dari bekerja hingga bepergian. Jims Honey juga menghadirkan backpack atau ransel untuk kebutuhan sekolah dan aktivitas sehari-hari.

Dalam mengembangkan produknya, Jims Honey memiliki tim desain sendiri. Meski demikian, desain yang dihasilkan tetap mempertimbangkan perkembangan tren fashion, mulai dari model, bahan, hingga warna yang sedang diminati konsumen.

“Kami membuat desain sendiri dan memiliki tim desain. Namun, kami tetap melihat perkembangan tren tas dan fashion saat ini, mulai dari model, bahan, hingga warna,” kata Aksa.

Dari sisi produksi, saat ini Jims Honey masih menjalankan produksinya di Bogor. Namun, perusahaan tengah menyiapkan fasilitas produksi yang lebih besar di Majalengka. Rencananya, proses perpindahan produksi ke pabrik tersebut akan mulai dilakukan tahun depan.

Untuk bahan baku, Jims Honey mengutamakan bahan dari dalam negeri. Kendati demikian, sejumlah komponen masih diimpor dari luar negeri demi menjaga kualitas produk.

“Kami menggunakan bahan dari dalam negeri. Meskipun ada beberapa bagian yang masih kami impor dari luar negeri karena kami tetap mengutamakan kualitas,” ujarnya.

Aksa menilai industri fashion, khususnya fashion accessories, memiliki tantangan tersendiri karena perubahan tren berlangsung sangat cepat. Kondisi tersebut membuat Jims Honey harus mampu beradaptasi dengan perkembangan pasar tanpa kehilangan identitas brand.

Menurut dia, mengikuti tren bukan berarti meninggalkan karakter Jims Honey. Perusahaan tetap berupaya menghadirkan inovasi yang sesuai dengan karakter dan kebutuhan konsumennya.

“Mencoba hal-hal baru tentu bisa kami lakukan, tetapi tetap berada di ranah dan area yang menjadi ciri khas Jims Honey,” katanya.

Di tengah perubahan karakter konsumen, Jims Honey juga terus berupaya memperluas awareness terhadap brand. Regenerasi pasar dinilai penting karena konsumen yang mengenal Jims Honey sejak awal kini telah memasuki kelompok usia yang berbeda.

“Generasi terus berubah. Yang dulu masih berusia belasan tahun sekarang sudah memasuki usia 20-an atau 30-an. Karena itu, kami perlu melakukan regenerasi pasar dan memperkenalkan model-model baru,” jelas Aksa.

Saat ini, Jims Honey telah memiliki lebih dari 50 toko resmi yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Jumlah tersebut belum termasuk reseller kecil yang melakukan penjualan melalui kanal seperti WhatsApp.

Selain jaringan offline, produk Jims Honey juga tersedia di berbagai marketplace untuk memperluas akses konsumen.

Dari sisi harga, produk Jims Honey menyasar pasar yang cukup luas. Tas dibanderol sekitar Rp200 ribu hingga Rp300 ribuan, dompet berada di bawah Rp100 ribu, sedangkan jam tangan tersedia dengan kisaran harga Rp100 ribu hingga Rp200 ribuan.

Tak berhenti di pasar domestik, Jims Honey mulai melihat peluang untuk memperluas pasar ke luar negeri. Kawasan ASEAN menjadi pintu masuk yang dinilai potensial, terutama Malaysia dan Singapura yang disebut telah memiliki peminat terhadap produk Jims Honey.

“Kami sudah memiliki niat untuk mengeksplorasi pasar luar negeri. Kami berencana mencoba dari kawasan ASEAN terlebih dahulu. Peminat dari beberapa negara ASEAN cukup banyak, seperti Malaysia dan Singapura,” kata Aksa.

Meski demikian, Jims Honey masih mencari wadah dan strategi yang tepat untuk melakukan ekspansi ke pasar regional.

Ke depan, perusahaan berharap dapat mempertahankan eksistensi sekaligus memperluas basis konsumennya. Dengan usia yang mendekati 13 tahun, Jims Honey ingin membangun brand lokal yang tidak hanya bertahan dalam jangka pendek, tetapi mampu berkembang hingga puluhan bahkan ratusan tahun.

“Kami berharap Jims Honey tetap eksis. Kami ingin seperti brand-brand lain yang mampu bertahan selama puluhan bahkan ratusan tahun,” pungkas Aksa.

pasang iklan di sini
lpdb.go.id