
PeluangNews, Jakarta-Pemerintah menyiapkan tambahan pasokan hingga 1 juta ton beras melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) untuk menghadapi periode paceklik produksi pangan akibat kemarau kering. Langkah ini diambil untuk menahan kenaikan harga beras sekaligus memastikan pasokan tetap tersedia di pasar hingga akhir 2026.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan kondisi pangan tahun ini berbeda dibandingkan 2025. Pada September hingga Desember 2025, Indonesia masih mengalami kemarau basah sehingga hujan tetap memungkinkan petani melakukan penanaman padi dan menjaga pasokan beras.
“Kalau harga naik Rp100 sampai Rp200, kita respons dengan menambah supply. Kita banjiri pasar dengan beras SPHP sehingga harga bisa kita turunkan kembali,” kata Zulkifli dalam keterangannya, Senin (7/9/2026).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Badan Pangan Nasional (Bapanas), harga beras medium pada periode Januari-September 2026 naik dari Rp13.857 per kilogram menjadi Rp14.060 per kilogram. Sementara harga beras premium meningkat dari Rp15.505 per kilogram menjadi Rp15.794 per kilogram.
Kenaikan harga tersebut turut dipengaruhi kelangkaan beras premium yang kemudian memberikan tekanan terhadap harga beras secara umum.
Untuk meredam tekanan harga, pemerintah memutuskan menambah penyaluran SPHP beras medium sebanyak 1 juta ton hingga Desember 2026. Beras tersebut akan dipasarkan terutama melalui pasar tradisional dengan harga sekitar Rp12.000-Rp12.500 per kilogram.
Selain memperkuat pasokan di pasar, pemerintah mempercepat penyaluran bantuan pangan kepada masyarakat berpendapatan rendah. Bulog diminta segera menyalurkan bantuan kepada penerima manfaat desil 1 hingga desil 4 yang jumlahnya mencapai sekitar 33,2 juta penerima.
Bantuan tersebut berupa beras sebanyak 10 kilogram per bulan selama tiga bulan, yakni Juli-September 2026. Penyalurannya akan dirapel sehingga masyarakat menerima 30 kilogram sekaligus.
“Ini kita minta Bulog selesaikan dalam bulan ini. Jadi masyarakat menerima sekaligus 30 kilogram. Kita ingin beras benar-benar sampai ke masyarakat,” ujar Zulkifli.
Tak berhenti pada penyaluran bantuan untuk periode Juli-September, pemerintah juga menyiapkan tambahan bantuan pangan sebanyak 1 juta ton untuk periode Oktober-Desember 2026.
Kebijakan tersebut diharapkan tidak hanya menjaga ketersediaan pangan, tetapi juga membantu mempertahankan daya beli masyarakat berpendapatan rendah. Dengan demikian, konsumsi pangan masyarakat tetap terjaga di tengah potensi kenaikan harga akibat tekanan produksi.
Di sisi lain, pemerintah juga mengantisipasi dampak kemarau terhadap produksi jagung yang menjadi salah satu bahan baku penting bagi peternak.
Bulog saat ini memiliki sekitar 130 ribu ton stok Cadangan Jagung Pemerintah (CJP) dari realisasi pengadaan sekitar 234 ribu ton. Jumlah tersebut akan terus ditingkatkan dengan target pengadaan mencapai 1 juta ton.
Dari stok tersebut, pemerintah menyiapkan sekitar 150 ribu ton jagung untuk disalurkan melalui program SPHP Jagung. Pasokan ini secara khusus ditujukan bagi peternak kecil berskala UMKM, bukan industri peternakan besar.
“Kita ingin peternak-peternak UMKM tidak terkena dampak kenaikan harga jagung. Musim kemarau membuat produksi turun dan harga naik, sehingga supply untuk peternak harus kita jaga,” jelas Zulkifli.
Pemerintah juga menyiapkan strategi untuk mengatasi kenaikan harga tepung beras. Salah satunya dengan memanfaatkan stok beras yang telah berusia lebih dari 12 bulan dan mengalami penurunan mutu, tetapi masih layak digunakan sebagai bahan baku tepung beras.
Kementerian Perindustrian memperkirakan kebutuhan bahan baku industri tepung beras mencapai sekitar 380 ribu ton. Pemerintah kemudian memutuskan beras dengan mutu yang menurun tersebut dapat dilelang dengan harga minimal Rp11.000 per kilogram untuk selanjutnya diolah menjadi tepung beras.
“Beras yang kurang mutu ini bisa dibeli oleh pabrik tepung untuk dijadikan tepung. Jadi kita harapkan kenaikan harga tepung beras juga bisa kita tekan,” kata Zulkifli.
Melalui kombinasi penambahan pasokan SPHP, percepatan bantuan pangan, penguatan stok jagung, dan pemanfaatan beras untuk industri tepung, pemerintah berharap tekanan harga pangan selama periode paceklik dapat dikendalikan sekaligus menjaga akses masyarakat terhadap pangan dengan harga terjangkau.








