
Setelah mencatat reli spektakuler sepanjang 2024 hingga awal 2026, prospek harga emas dunia memasuki kuartal IV (Q4) 2026 dengan tingkat ketidakpastian yang tinggi. Emas masih ditopang statusnya sebagai aset safe haven, pembelian agresif bank sentral, serta risiko geopolitik yang belum mereda. Namun, kenaikan suku bunga riil, penguatan dolar AS, dan aksi ambil untung setelah lonjakan harga ekstrem berpotensi menekan pergerakannya.
Arah harga emas pada akhir 2026 diperkirakan tidak ditentukan oleh satu faktor, melainkan kombinasi kebijakan moneter, kondisi ekonomi global, dinamika permintaan, dan perkembangan geopolitik.
Kebijakan Federal Reserve tetap menjadi salah satu faktor utama. Harga emas yang sempat menembus 5.000 dolar AS per troy ounce pada awal 2026 didorong ekspektasi pelonggaran moneter. Namun, inflasi yang masih relatif tinggi memunculkan kembali kemungkinan suku bunga bertahan lebih lama atau higher for longer. Kondisi ini mendorong sejumlah bank investasi, termasuk JPMorgan dan Deutsche Bank, memangkas proyeksi harga emas pada akhir tahun.
Ketegangan geopolitik juga menciptakan dinamika yang kompleks. Konflik di Timur Tengah dan potensi gangguan di Selat Hormuz dapat meningkatkan permintaan emas sebagai aset pelindung nilai. Di sisi lain, kenaikan harga energi berisiko memperkuat inflasi dan mendorong bank sentral mempertahankan kebijakan moneter ketat.
Dari sisi permintaan, bank-bank sentral masih konsisten menambah cadangan emas sebagai bagian dari strategi diversifikasi. Sebaliknya, investor institusi melalui ETF dan pasar berjangka mulai melakukan aksi ambil untung setelah harga emas melonjak lebih dari 50 persen dalam setahun terakhir. Jika pembelian bank sentral mampu mengimbangi tekanan jual, harga berpeluang bertahan stabil. Namun, koreksi dapat terjadi apabila aksi jual meningkat.
Sejumlah lembaga memproyeksikan harga emas berada pada kisaran 4.500–5.500 dolar AS per troy ounce pada Q4 2026, dengan skenario optimistis mendekati 6.000 dolar AS. Secara umum, emas diperkirakan tetap berada di level tinggi, meski volatilitas dan risiko koreksi masih membayangi.
Dengan berbagai faktor tersebut, konsensus pasar saat ini mengarah pada satu kesimpulan: harga emas diperkirakan tetap berada di level yang tinggi hingga akhir 2026, tetapi volatilitas masih akan mewarnai pergerakannya. Koreksi dari level ekstrem tetap berpotensi terjadi, namun selama ketidakpastian ekonomi global dan risiko geopolitik belum mereda, emas diperkirakan tetap menjadi salah satu aset yang paling diminati investor. (Adv)
———————
- Octa Investama Berjangka (OIB) menyediakan pelatihan tanpa dikenakan biaya, disamping itu Anda akan mendapatkan AKUN DEMO yang dapat digunakan untuk latihan bertransaksi terhadap produk komoditas, index saham global maupun pasar keuangan melalui Bursa Berjangka secara live.OIB merupakan perusahaan yang resmi terdaftar di Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti). Kunjungi website kami untuk informasi lebih lanjut: octa.co.id (WA: 0813 8571 2101)
Disclaimer : Perdagangan berjangka komoditi memiliki potensi keuntungan dan risiko kerugian.





