hayed consulting
hayed consulting
umkm insigh
Bisnis  

Laba Pegadaian Melejit 78,7 Persen, IPO Masih Menunggu

Foto: bisnis.com
Foto: bisnis.com

PeluangNews, Jakarta-Kinerja PT Pegadaian hingga Juli 2026 menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Laba bersih perusahaan tercatat melonjak 78,7 persen secara tahunan menjadi Rp7,5 triliun, jauh melampaui pertumbuhan aset yang mencapai 50,6 persen menjadi Rp185 triliun.

Direktur Keuangan dan Perencanaan Strategis Pegadaian Ferdian Timur Satyagraha mengatakan, capaian tersebut mencerminkan penguatan kinerja perusahaan sepanjang tahun berjalan.

“Kalau kita lihat, aset itu menjadi Rp185 triliun per Juli. Jadi untuk asetnya tumbuh 50,6 persen year-on-year. Tapi yang menarik, laba bersihnya naik 78,7 persen, jadi Rp7,5 triliun,” ujar Ferdian di Jakarta, dikutip Selasa (8/9/2026).

Pertumbuhan laba yang lebih tinggi dibandingkan aset menunjukkan kemampuan Pegadaian dalam menghasilkan keuntungan meningkat lebih cepat dibandingkan ekspansi aset. Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator positif terhadap kinerja perusahaan di tengah pengembangan bisnisnya.

Di sisi lain, Pegadaian menjadi salah satu perusahaan BUMN yang masuk dalam radar potensi penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO). Namun, hingga kini belum ada kepastian mengenai waktu maupun tahapan IPO perusahaan.

Ferdian mengatakan keputusan terkait rencana tersebut berada dalam kewenangan Danantara Indonesia.

“(Kalau yang IPO) itu ikut Danantara saja,” kata Ferdian.

Sebelumnya, Kepala Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN) sekaligus COO Danantara Indonesia Dony Oskaria menyebut sejumlah perusahaan negara memiliki kapitalisasi pasar yang cukup kuat untuk ditawarkan kepada publik.

Selain Pegadaian, perusahaan yang disebut berpotensi melakukan IPO antara lain PT Pupuk Indonesia (Persero), PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo, serta PT Angkasa Pura Indonesia atau InJourney Airports.

“Banyak perusahaan-perusahaan kita yang bagus yang akan segera IPO. Contohnya masih ada Pegadaian, Pupuk Indonesia, Pelindo, Angkasa Pura, dan banyak sekali perusahaan-perusahaan yang secara market cap bagus untuk IPO nanti,” ujar Dony.

Rencana tersebut merupakan bagian dari peta jalan lima tahun transformasi BUMN yang disusun BP BUMN bersama Danantara Indonesia. IPO tidak hanya ditujukan untuk menambah jumlah perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), tetapi juga menjadi instrumen penciptaan nilai, peningkatan transparansi, dan penguatan tata kelola perusahaan negara.

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai IPO sejumlah BUMN dapat membantu memperdalam pasar modal Indonesia. Masuknya perusahaan dari berbagai sektor juga berpotensi mengurangi konsentrasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang selama ini relatif kuat di sektor perbankan dan komoditas.

Menurut Wafi, Pegadaian termasuk entitas yang relatif siap untuk melantai di bursa karena memiliki model bisnis matang dan pendapatan yang relatif terprediksi.

“Namun, pendalaman pasar butuh lebih dari sekadar menambah jumlah emiten. Harus diimbangi dengan quality free float serta tata kelola yang kredibel, bukan sekadar listing administratif,” paparnya.

Ia menambahkan, kesiapan IPO juga dipengaruhi karakteristik bisnis masing-masing perusahaan. Pupuk Indonesia, misalnya, masih memiliki keterlibatan dalam penyaluran subsidi pupuk. Sementara Pelindo dan InJourney Airports membutuhkan kejelasan mengenai konsesi jangka panjang serta struktur tarif untuk mendukung kepastian valuasi.

Dalam peta transformasi BUMN, IPO menjadi salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk menciptakan nilai sekaligus mendorong perusahaan negara memiliki tata kelola dan transparansi yang lebih baik.

pasang iklan di sini
lpdb.go.id