
PeluangNews, Jakarta – Hari ini, Rabu (28/10/2026), Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98 dengan upacara dan semangat “Patriotik, Gigih, dan Berempati”.
Namun, di balik gegap gempita upacara di Balai Kota Depok dan Istana Negara, ada potret humanis yang menyayat: ribuan pemuda berjas toga dan ijazah sarjana masih berjuang mencari kerja.
Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) per Mei 2026 yang dirilis tahun ini mencatat jumlah penganggur Indonesia mencapai 7,22 juta orang.
Dari jumlah tersebut, sekitar 1,03 juta orang atau 14,31% adalah lulusan Diploma IV, S1, S2, hingga S3. Artinya, satu dari tujuh penganggur di Indonesia adalah sarjana. Angka ini naik tajam dari 628.800 orang pada Agustus 2023.
Fenomena ini juga dirasakan di Depok. Kota yang dijuluki Kota Seribu Komunitas dengan 70% penduduknya anak muda, setiap tahun meluluskan puluhan ribu sarjana dari Universitas Indonesia, Gunadarma, Universitas Pancasila, dan puluhan kampus lainnya. Namun, ijazah tak lagi menjadi jaminan pekerjaan.
“Aku lulus Manajemen tahun lalu, IPK 3,6. Sudah kirim 87 lamaran, panggilan cuma 4, yang keterima magang unpaid 3 bulan lalu disuruh selesai,” kata Rian (24), lulusan salah satu PTS di Margonda, Depok, yang ditemui di sebuah warung kopi di Beji, Selasa (27/10/2026).
Rian kini menjadi barista dengan gaji Rp2,2 juta, jauh dari impiannya menjadi analis keuangan.
Kisah Rian bukan satu-satunya. Kajian Labor Market Brief LPEM FEB UI yang mengolah data Sakernas BPS Agustus 2025 menemukan lima jurusan S1 penyumbang pengangguran terbanyak di Indonesia:
1. Manajemen: 10,3% dari total penganggur S1, dengan 140.132 lulusan pada 2025
2. Hukum: 9,0% dengan 51.407 lulusan
3. Ekonomi: 8,7%.
4. Pendidikan: 7,1%.
5. Akuntansi: 5,1% dengan 57.347 lulusan
Kelima jurusan tersebut menyumbang 40% dari seluruh penganggur berpendidikan minimal S1
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli dalam Seminar Nasional di Kuningan, Jakarta, Rabu (21/10/2026) lalu, berkilah penyebab utama bukan karena tidak ada lapangan kerja, tetapi karena kurangnya pengalaman kerja dan kompetensi bersertifikat.
“Masih banyak lulusan perguruan tinggi yang menganggur. Ternyata penyebabnya itu adalah kurangnya pengalaman terkait dengan dunia kerja,” kata Yassierli.
Ia juga menyebut banyak sarjana lulus hanya bermodalkan nilai di ijazah, sementara industri mencari kompetensi yang dibuktikan sertifikat keahlian.
Atas arahan Presiden Prabowo Subianto, Kemnaker menyiapkan program pemagangan nasional dengan kuota 150 ribu peserta pada 2027, setelah tahun pertama 2026 menyerap 100 ribu peserta sarjana.
Namun bagi para pemuda, solusi itu belum cukup. Di tengah IHSG yang melemah ke 5.357 dan rupiah ke Rp18.140, serta harga emas Antam yang tembus Rp2,55 juta per gram, daya beli menurun dan perusahaan menahan rekrutmen.
Di sinilah makna Sumpah Pemuda 1928 menjadi relevan. Dulu, pemuda bersatu untuk melawan penjajah. Hari ini, pemuda Indonesia bersatu untuk melawan pengangguran, ketidakpastian, dan sistem yang belum berpihak.
Jika pada 1928 mereka berikrar “bertumpah darah satu, berbangsa satu, berbahasa satu”, maka pada 2026 ikrar itu bisa berbunyi “berjuang cari kerja satu, senasib sepenanggungan”.
Menjelang aksi demo besar di Bundaran HI, banyak dari para sarjana penganggur ini yang mengaku akan ikut turun ke jalan. Bukan untuk anarkis, tapi untuk mengingatkan negara bahwa pemuda butuh pekerjaan, bukan hanya upacara seremonial.
“Kalau Sumpah Pemuda cuma upacara, lalu setelah itu kami tetap nganggur, buat apa?” kata Siti (23), sarjana Pendidikan yang kini mengajar les privat Rp50 ribu per jam di Sawangan.
Hari Sumpah Pemuda besok bukan hanya tentang mengenang, tetapi tentang menjawab jeritan Rian, Siti, dan 1,03 juta sarjana lainnya yang masih menunggu panggilan kerja. []








