
PeluangNews, Jakarta — Kolaborasi antara pemerintah kabupaten dan dunia kampus dinilai menjadi kunci untuk mengembangkan potensi ekonomi lokal sekaligus meningkatkan daya saing sumber daya manusia (SDM). Ketua Umum Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) Bursah Zarnubi mengatakan, perguruan tinggi perlu mengambil peran lebih besar dalam menghasilkan riset dan inovasi yang menjawab persoalan pembangunan daerah.
Hal itu disampaikan Bursah saat menjadi narasumber Kuliah Umum dan Penandatanganan Kesepakatan Bersama di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Selasa (27/10/2026). Kegiatan bertema “Membangun Sinergi Apkasi dengan Dunia Kampus untuk Mewujudkan SDM Unggul” tersebut diikuti sekitar 150 mahasiswa dan sejumlah pimpinan perguruan tinggi Muhammadiyah.
Menurut Bursah, Indonesia tidak bisa terus mengandalkan kekayaan sumber daya alam tanpa mengembangkan kemampuan mengolahnya menjadi produk bernilai tambah. Penguatan riset dan inovasi menjadi langkah penting agar Indonesia mampu bersaing dan mengurangi ketergantungan terhadap negara lain.
“Kalau kita mau maju, kita harus membuat riset yang sehebat-hebatnya. Hanya dengan inovasi kita bisa mendorong kemajuan suatu bangsa agar kita tidak terus tergantung kepada bangsa-bangsa lain,” kata Bursah yang juga menjabat Bupati Lahat.
Ia menegaskan, perguruan tinggi harus mampu melahirkan lulusan yang memiliki visi besar, berpikir kritis, dan berani menciptakan perubahan. Gelar akademik, menurutnya, tidak seharusnya menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan pendidikan tinggi.
“Jangan hanya menjadi kumpulan sarjana. Jadilah creative minority, yaitu sedikit orang yang memiliki pikiran besar dan visi besar untuk membawa bangsa menjadi besar,” ujarnya.
Bursah juga menyoroti pentingnya penguatan kemampuan dasar, terutama literasi, matematika, dan sains, untuk meningkatkan kualitas SDM. Literasi tidak cukup dipahami sebagai kemampuan membaca, tetapi harus mencakup kecakapan memahami informasi, menganalisis persoalan, hingga mengambil keputusan.
“Literasi itu bukan sekadar membaca. Literasi adalah bagaimana kita memahami, menganalisis, dan mengambil keputusan terhadap suatu persoalan penting dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Dalam pembangunan daerah, Apkasi melihat peluang besar untuk mempertemukan kebutuhan pemerintah kabupaten dengan kapasitas riset dan inovasi perguruan tinggi. Dengan 416 kabupaten sebagai anggota, organisasi tersebut memiliki cakupan persoalan pembangunan yang beragam untuk dikembangkan menjadi bahan penelitian, pembelajaran, dan penciptaan solusi.
Kolaborasi ini diharapkan dapat mendorong perguruan tinggi menghasilkan inovasi yang tidak berhenti di lingkungan akademik, tetapi juga dapat diterapkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat dan mengembangkan potensi ekonomi daerah.
Bursah turut menekankan pentingnya kewirausahaan dalam memperkuat ekonomi masyarakat, termasuk di tingkat desa. Menurutnya, pertumbuhan sektor swasta menjadi salah satu faktor penting dalam mendorong kemajuan ekonomi nasional.
“Negara maju dimulai dari berkembangnya sektor swasta atau entrepreneurship. Kalau sektor swasta kita tidak berkembang, negara kita akan begini-begini saja. Di sinilah peran perguruan tinggi harus bisa dioptimalkan,” tuturnya.
Karena itu, ia mendorong mahasiswa untuk tidak hanya berorientasi menjadi pencari kerja setelah lulus, tetapi juga berani membangun usaha dengan memanfaatkan potensi yang tersedia di daerah masing-masing.
“Jangan menjadi bagian dari pengangguran setelah selesai kuliah. Bangun sektor swasta, jangan malu jual kopi. Kalau mau, saya banyak kopi,” ungkap Bursah sembari menawarkan peluang kerja sama.
Selain kewirausahaan, Bursah mengingatkan mahasiswa agar memanfaatkan perkembangan teknologi digital untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan diri. Teknologi, termasuk smartphone, semestinya menjadi sarana belajar dan mengembangkan gagasan, bukan justru mengurangi kemampuan berpikir kritis.
“Jangan jadikan smartphone membuat kita menjadi bodoh. Padahal dengan smartphone dan sistem digital, kita bisa belajar banyak hal. Jangan berhenti belajar, jangan putus asa, dan gunakan gawai untuk kepintaran. Gunakan untuk membaca ilmu,” jelasnya.
Sementara itu, kuliah umum tersebut dibuka Rektor UMJ Prof. Dr. Ma’mun Murod, M.Si. Kegiatan ini turut dihadiri sejumlah pimpinan perguruan tinggi Muhammadiyah, antara lain Rektor Universitas Muhammadiyah Sukabumi, Universitas Muhammadiyah Cirebon, Universitas Muhammadiyah Gombong, Universitas Muhammadiyah Surabaya, Universitas Muhammadiyah Tangerang, dan Universitas Muhammadiyah Banten.
Hadir pula Prof. Mukhlas dari Universitas Ahmad Dahlan, Rektor Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta Dr. Warsidi, serta Rektor ITESA Muhammadiyah Semarang.








