
PeluangNews, Jakarta – Hingga Senin (7/9/2026) pagi operasional penerbangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, masih ditutup sementara akibat erupsi dan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Calon penumpang yang terlantar, banyak yang tidur di kursi yang tersedia di koridor terminal 1 bandara tersebut, misalnya. Di sisi lain, pengelola bandara menyediakan sejumlah armada bus free pass sebagai fasilitas.
Penutupan Bandara Soekarno-Hatta diperpanjang hingga waktu yang diperkirakan pukul 17.30 WIB. Hal ini berdasarkan pembaruan Notice to Airmen (NOTAM) yang diterbitkan AirNav Indonesia melalui Unit Pelayanan Informasi Aeronautika.
Pembaruan tercantum dalam NOTAM A3348/26, yang sekaligus menggantikan NOTAM sebelumnya, yakni A3346/26.
Dalam dokumen itu, lokasi yang tercantum adalah WIII – JAKARTA/Soekarno-Hatta, dengan keterangan informasi “Aerodrome – Closed” atau bandar udara ditutup.
Alasan penutupan disebutkan secara langsung dalam teks NOTAM, yakni “AD CLSD DUE TO KRAKATAU VOLCANIC ASH”, yang berarti bandara ditutup karena abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Berdasarkan waktu yang tercantum dalam NOTAM, penutupan berlaku mulai 6 September 2026 pukul 06.23 UTC. Jika dikonversikan ke waktu Indonesia bagian barat (WIB), waktu tersebut menjadi 13.23 WIB. Waktu berakhirnya penutupan pada 6 September 2026 pukul 10.30 UTC (EST) atau sekitar 17.30 WIB.
Menurut AirNav Indonesia, informasi dalam NOTAM bersifat dinamis. Untuk memastikan validitas informasi, pengguna diarahkan mengakses sistem informasi aeronautika AirNav Indonesia.
Abu vulkanik menjadi salah satu bahaya serius bagi penerbangan karena partikelnya terdiri atas material batuan, mineral, dan kaca vulkanik yang keras serta abrasif.
Lembaga Survei Geologi AS (USGS) menjelaskan bahwa abu vulkanik yang masuk ke atmosfer dapat terbawa angin hingga ratusan kilometer dari sumber erupsi.
Konsentrasi abu yang tinggi dapat mengurangi jarak pandang, merusak sistem kendali dan instrumen pesawat, hingga menyebabkan mesin jet kehilangan daya.
Risiko terbesar muncul ketika abu terhisap ke dalam mesin jet. Material silikat dalam abu vulkanik memiliki titik leleh yang lebih rendah dibandingkan temperatur operasi mesin jet modern.
Partikel abu yang masuk ke mesin dapat meleleh dan kemudian menempel kembali pada bagian mesin yang lebih dingin.
Kondisi tersebut dapat mengganggu kinerja mesin, memicu compressor stall, bahkan menyebabkan hilangnya daya dorong.
Sementara itu, Lembaga Penerbangan Federal AS (FAA) juga menegaskan, menghindari pertemuan dengan awan abu vulkanik merupakan langkah utama dalam operasi penerbangan.
Persoalannya, awan abu tidak selalu dapat terlihat, terutama pada malam hari atau kondisi instrumen, dan awan tersebut juga tidak terdeteksi oleh radar pesawat maupun radar pengatur lalu lintas udara seperti awan cuaca biasa.
Sebagai catatan tambahan, bahwa erupsi Gunung Anak Krakatau ini berdampak pula terhadap 1.039 penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta.
Hingga Minggu (6/9/2026), penerbangan terdampak tersebut mencakup pembatalan, keterlambatan, hingga pengalihan pendaratan ke bandara lain.
Asst. Deputy Communication & Legal Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Yudistiawan, dalam keterangannya, dari total penerbangan yang terdampak itu sebanyak 746 merupakan penerbangan domestik, 272 penerbangan internasional, dan 21 penerbangan kargo. []








