
PeluangNews, Jakarta — Perjalanan panjang Bambang Soesatyo (Bamsoet) di dunia politik, parlemen, hukum dan pendidikan kembali dituangkan dalam karya terbaru. Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar tersebut akan meluncurkan buku ke-38 berjudul ‘Politik Hukum Konstitusi: Menjembatani Teori Akademis dan Realitas Parlemen’ pada Kamis (10/9/26).
Bersamaan dengan itu, turut diluncurkan buku biografi karya wartawan senior Kompas J. Osdar berjudul ‘Dari Senayan ke Ruang Kuliah: Jejak Kepemimpinan dan Pemikiran’. Kedua buku tersebut akan diluncurkan di Parle Senayan Park, Jakarta.
Dua buku itu menawarkan perspektif berbeda mengenai perjalanan Bamsoet. Buku yang ditulis sendiri oleh Bamsoet menyoroti hubungan antara teori hukum, konstitusi, politik dan praktik legislasi. Sementara karya J. Osdar merekam perjalanan Bamsoet dari dunia jurnalistik, usaha, organisasi, politik, kepemimpinan lembaga negara hingga memasuki dunia pendidikan.
Bagi Bamsoet, pengalaman di parlemen dan pengetahuan akademik semestinya tidak berjalan sendiri-sendiri. Keduanya justru perlu bertemu agar proses pembentukan kebijakan dan pemahaman terhadap persoalan masyarakat dapat berjalan lebih utuh.
“Saya ingin menunjukkan bahwa pengalaman di parlemen dan teori yang dipelajari di ruang kuliah seharusnya saling bertemu. Parlemen membutuhkan landasan akademis, sementara dunia akademik juga perlu memahami bagaimana teori bekerja ketika berhadapan dengan realitas politik dan kepentingan masyarakat,” ujar Bamsoet dalam keterangannya yang diunggah melalui akun Instagram @bambang.soesatyo, Selasa (8/9/26).
Menurut Bamsoet, buku ‘Politik Hukum Konstitusi: Menjembatani Teori Akademis dan Realitas Parlemen’ menjadi ruang untuk mempertemukan pengalaman empirisnya sebagai legislator dengan perspektif akademis.
Buku tersebut membahas hubungan erat antara hukum, konstitusi, politik, dan proses pembentukan peraturan perundang-undangan. Pengalaman panjang di parlemen membuat Bamsoet melihat bahwa sebuah undang-undang tidak lahir begitu saja, melainkan melalui proses politik dan perdebatan untuk menghasilkan keputusan yang dianggap terbaik bagi kepentingan bangsa.
Karena itu, ia memasukkan pengalaman empirisnya melalui kolom khusus bertajuk Catatan dari Kursi Parlemen. Bagian tersebut menjadi ruang untuk memperlihatkan bagaimana teori hukum dan ketatanegaraan berhadapan dengan berbagai persoalan nyata dalam proses legislasi.
“Teori hukum yang dipelajari di kampus sering kali terasa berbeda dengan kenyataan saat menyusun undang-undang di parlemen. Di sana, gagasan diuji melalui perdebatan panjang untuk menemukan jalan terbaik bagi kepentingan bangsa,” kata Bamsoet.
Sementara itu, buku ‘Dari Senayan ke Ruang Kuliah: Jejak Kepemimpinan dan Pemikiran’ karya J. Osdar menghadirkan sudut pandang biografis mengenai perjalanan Bamsoet.
Buku tersebut merekam transformasi Bamsoet yang pernah berada di berbagai ruang pengabdian, mulai dari wartawan, pengusaha, aktivis organisasi, politisi, pimpinan DPR dan MPR, hingga pendidik.
Jejak tersebut kemudian berlanjut ke dunia pendidikan. Bamsoet antara lain terlibat dalam pendirian Universitas Perwira Purbalingga (Unperba) dan menjalankan aktivitas sebagai dosen Pascasarjana Ilmu Hukum di sejumlah perguruan tinggi.
Ia pernah menjadi dosen pascasarjana di Universitas Borobudur, Universitas Pertahanan, Universitas Terbuka hingga Universitas Jayabaya.
“Pengalaman di parlemen memberikan banyak pelajaran mengenai bagaimana negara mengambil keputusan. Pengalaman itu kemudian saya bawa ke ruang kuliah agar mahasiswa memahami bahwa hukum, politik, dan kebijakan publik memiliki hubungan yang sangat erat dengan kehidupan masyarakat,” ujar Bamsoet.
Buku terbaru tersebut menambah panjang daftar karya Bamsoet yang telah diterbitkan sejak 1988.
Buku ke-1 adalah ‘Rahasia Sukses dan Biografi Pengusaha Indonesia’ yang terbit pada 1988. Buku ke-2 ‘HIPMI, Pengusaha Pejuang, Pejuang Pengusaha’ diterbitkan pada 1989, disusul buku ke-3 ‘Mahasiswa dan Lingkaran Politik’ pada tahun yang sama.
Pada 1990, Bamsoet menerbitkan buku ke-4 ‘Kelompok Cipayung, Gerakan dan Pemikiran / Mahasiswa Gerakan dan Pemikiran’ dan buku ke-5 ‘Mahasiswa & Budaya Kemiskinan di Indonesia’. Setahun kemudian, terbit buku ke-6 ‘Kelompok Cipayung, Pandangan dan Realita’.
Buku ke-7 ‘Masa Depan Bisnis Indonesia 2020 / Ekonomi Indonesia 2020’ dirilis pada rentang tahun 1995/1998.
Setelah jeda penerbitan, Bamsoet kembali menghasilkan sejumlah buku yang banyak mengangkat isu ekonomi, politik, pemerintahan, korupsi dan ketatanegaraan.
Buku ke-8 ‘Skandal Gila Bank Century’ diterbitkan pada 2010. Berikutnya ‘Perang-Perangan Melawan Korupsi’ dan ‘Pilpres Abal-Abal Republik Amburadul’ masing-masing terbit pada 2011.
Pada 2012 terbit ‘Republik Galau: Presiden Bimbang, Negara Terancam Gagal’. Kemudian pada 2013 muncul tiga karya, yakni ‘Skandal Bank Century di Tikungan Terakhir Pemerintahan SBY-Boediono’, ‘Presiden dalam Pusaran Politik Sengkuni’ dan ‘5 Kiat Praktis Menjadi Pengusaha No. 1’.
Buku ke-15 ‘Indonesia Gawat Darurat’ diterbitkan pada 2014, disusul ‘Republik Komedi ½ Presiden’ pada 2015.
Pada 2017, ketika menjabat sebagai Ketua Komisi III DPR RI ke-7, Bamsoet menerbitkan buku ke-17 ‘Ngeri-Ngeri Sedap: Catatan Kritis dan Kumpulan Tulisan Ketua Komisi III DPR RI’.
Produktivitas tersebut berlanjut dengan ‘Akal Sehat’ pada 2019. Ketika memimpin lembaga legislatif sebagai Ketua DPR RI ke-20, Bamsoet menerbitkan ‘DPR Adem di Bawah Bamsoet’ pada 2020.
Masih pada 2020, ia menerbitkan ‘Jurus 4 Pilar: Merangkul Milenial Menjaga Suhu Politik’. Kemudian pada 2021 terbit ‘Negara Butuh Haluan’ dan ‘Tetap Waras Jangan “Ngeres”‘.
Pada 2022, Bamsoet menerbitkan ‘Indonesia Era Disrupsi: Utak Atik Politik Negara di Era Disrupsi dan Pandemi’ serta ‘Vaksinasi Ideologi: Melawan Radikalisme dan Demoralisasi Bangsa’.
Pada tahun yang sama, buku ke-25 hingga ke-29 hadir dalam bentuk rangkaian kompilasi jilid 1 sampai 5 bertajuk ‘Bunga Rampai Opini Bambang Soesatyo 2007-2022’.
Memasuki 2023, terbit ‘PPHN Tanpa Amendemen’ sebagai buku ke-30 dan ‘Haluan Negara Menuju Indonesia Emas’ sebagai buku ke-31.
Buku ke-32 ‘Konstitusi Butuh ‘Pintu Darurat’: Urgensi Memulihkan Wewenang Subjektif Superlatif MPR RI’ terbit pada 2024 dari pemikiran Ketua MPR RI ke-15.
Masih pada 2024, Bamsoet menerbitkan buku ke-33 ‘Legacy MPR RI Periode 2019-2024: Pilar Demokrasi dan Landasan Hukum Negara’ serta buku ke-34 ‘Empat Pilar MPR RI: Strategi Konsensus Kebangsaan Menyongsong Bonus Demografi’.
Pada 2025, terbit buku ke-35 ‘Amandemen ke-5 Konstitusi: Menata Ulang Sistem Ketatanegaraan’ dan buku ke-36 ‘Evaluasi Kritis Pemilihan Umum Langsung: Nomor Piro, Wani Piro – Revitalisasi Ketetapan MPR’.
Adapun buku ke-37 yang baru menjalani soft launching pada 2026 berjudul ‘1001 Gagasan untuk Golkar: Panduan Eksekusi Strategi Politik, Organisasi, dan Pengabdian’.
Selain 38 karya tersebut, Bamsoet juga menerbitkan buku berbahasa Inggris dan bahasa Indonesia atau dua bahasa berjudul ‘Save People Care For Economy’ melalui Amazon pada 2020.
Sebagai Dosen Pascasarjana (S3) Ilmu Hukum Universitas Borobudur, Universitas Jayabaya, dan Universitas Pertahanan (Unhan), Bamsoet juga menulis buku ajar ‘Politik Hukum dan Kebijakan Publik’ pada 2024.
Pada tahun yang sama, ia menyusun buku ajar akademis berjudul ‘Pembaruan Hukum’.
Perjalanan hidup dan pemikiran Bamsoet juga mendapat perhatian dari kalangan wartawan. Buku ‘Dari Wartawan ke Senayan’ terbit pada 2018, kemudian disusul buku otobiografi peringatan ulang tahun ke-60 berjudul ’60 Tahun Meniti Buih di Antara Karang’ pada 2022.
Pada 2023, terbit ‘Bambang Soesatyo News Maker’. Setahun berikutnya hadir ‘Biografi Politik Bambang Soesatyo: Pemimpin Adaptif di Era Disrupsi’.
Terakhir, rekan-rekan jurnalis menulis buku ‘Politik, Pers, dan Jejak Langkah Kebangsaan: Catatan Personal dalam Arus Perubahan’ yang terbit pada 2025.
Dengan peluncuran ‘Politik Hukum Konstitusi’ dan ‘Dari Senayan ke Ruang Kuliah’, perjalanan Bamsoet kembali ditempatkan dalam dua perspektif sekaligus: pengalaman menjalankan fungsi politik dan ketatanegaraan serta proses membawa pengalaman tersebut ke ruang akademik.








