hayed consulting
hayed consulting
umkm insigh
Opini  

Saat Ekonomi Sulit, Turunkan Gaya Hidup, Bukan Harga Diri

Saat Ekonomi Sulit, Turunkan Gaya Hidup, Bukan Harga Diri
Bambang Wijanarko/dok.peluangnews

Oleh: Bambang Wijanarko
Pemerhati Manajemen Koperasi

In This Economy: Menurunkan Gaya Hidup, Bukan Harga Diri

ADA satu hal menarik dalam kehidupan manusia. Ketika penghasilan meningkat, kita begitu mudah menyesuaikan gaya hidup. Rumah yang lebih nyaman, kendaraan yang lebih baik, makanan yang lebih mahal, hingga berbagai fasilitas lainnya perlahan menjadi bagian dari keseharian. Sesuatu yang dahulu dianggap sebagai kemewahan, lama-kelamaan berubah menjadi kebutuhan.

Namun, bagaimana jika keadaan berbalik? Ketika penghasilan tidak lagi meningkat, bahkan menurun, sementara kebutuhan hidup terus bertambah?

Istilah in this economy belakangan semakin sering digunakan untuk menggambarkan situasi ekonomi yang penuh tantangan. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah berpotensi meningkatkan harga barang impor dan biaya produksi, yang pada akhirnya dapat memengaruhi harga barang dan jasa. Di sisi lain, kenaikan penghasilan tidak selalu mampu mengimbangi peningkatan biaya hidup.

Bagi mereka yang masih bekerja dengan penghasilan relatif sama seperti sebelumnya, situasi ini tentu terasa semakin berat. Namun, kondisinya jauh lebih sulit bagi mereka yang mengalami penurunan penghasilan secara drastis, kehilangan pekerjaan, atau menghadapi kerugian dalam usaha.

Dalam keadaan seperti ini, sebagian orang mau tidak mau harus melakukan downgrade: menurunkan standar pengeluaran dan menyesuaikan gaya hidup dengan kemampuan ekonomi yang baru.

Persoalannya, mengapa menaikkan standar hidup terasa begitu mudah, sementara menurunkannya justru sangat berat?

Ketika Masa Lalu Menjadi Beban

Manusia memiliki kecenderungan untuk mempertahankan sesuatu yang telah dimilikinya. Dalam psikologi perilaku, Daniel Kahneman dan Amos Tversky memperkenalkan konsep loss aversion, yaitu kecenderungan manusia merasakan kerugian lebih kuat dibandingkan kenikmatan yang diperoleh dari keuntungan dengan nilai sebanding.

Konsep ini membantu menjelaskan mengapa penurunan taraf hidup sering kali terasa lebih menyakitkan daripada kebahagiaan yang kita rasakan ketika taraf hidup meningkat.

Ketika penghasilan bertambah, kita dengan senang hati menaikkan standar kehidupan. Namun, setelah terbiasa menikmati berbagai kenyamanan, menurunkannya kembali terasa seperti kehilangan sesuatu yang berharga. Bahkan, sebagian orang menganggap penurunan standar hidup sebagai bentuk kegagalan pribadi.

Di sinilah persoalan ekonomi berubah menjadi persoalan psikologis. Kita tidak lagi sekadar mempertimbangkan apa yang mampu dibeli, tetapi juga memikirkan bagaimana orang lain akan memandang kita ketika tidak lagi mampu mempertahankan gaya hidup sebelumnya.

Tanpa disadari, kenangan tentang kemapanan masa lalu justru dapat menjadi beban bagi kehidupan hari ini.

Padahal, kondisi ekonomi seseorang tidak selalu bergerak naik. Ada masa kelapangan dan ada masa kesempitan. Ada saat ketika rezeki terasa berlimpah, tetapi ada pula masa ketika setiap pengeluaran harus diperhitungkan dengan cermat.

Islam memberikan tuntunan yang relevan dalam menghadapi perubahan tersebut.

Mengukur Kehidupan Berdasarkan Kemampuan

Allah SWT berfirman dalam Surah At-Talaq ayat 7:

“Hendaklah orang yang lapang (rezekinya) memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari apa (harta) yang dianugerahkan Allah kepadanya. Allah tidak membebani kepada seseorang melainkan (sesuai) dengan apa yang dianugerahkan Allah kepadanya. Allah kelak akan menganugerahkan kelapangan setelah kesempitan.”  (QS. At-Talaq: 7)

Ayat ini pada dasarnya berkaitan dengan kewajiban nafkah dalam keluarga. Namun, terkandung pula prinsip penting yang dapat menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari, yakni pengeluaran harus disesuaikan dengan kemampuan.

Allah membedakan keadaan orang yang memiliki kelapangan rezeki dengan mereka yang sedang mengalami kesempitan. Keduanya tidak dituntut mengeluarkan nafkah dalam jumlah yang sama, melainkan sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Jika Allah memberikan tuntunan agar seseorang mengukur nafkah berdasarkan kemampuannya, mengapa manusia justru sering memaksakan diri mempertahankan standar kehidupan yang sudah tidak sesuai dengan kondisi ekonominya?

Melakukan downgrade tidak seharusnya dipandang sebagai kegagalan. Sebaliknya, menyesuaikan pengeluaran dengan kemampuan merupakan bentuk tanggung jawab dan kebijaksanaan.

Karena itu, yang perlu dipertanyakan bukanlah mengapa seseorang harus menurunkan standar hidupnya, melainkan mengapa ia merasa harus mempertahankan gaya hidup yang sebenarnya sudah tidak mampu dibiayainya.

Antara Kebutuhan, Keinginan, dan Gengsi

Islam tidak melarang manusia menikmati rezeki dan berbagai kenikmatan dunia. Namun, Islam memberikan batasan agar manusia tidak terjebak dalam perilaku berlebihan.

Allah SWT berfirman:

“Dan, orang-orang yang apabila berinfak tidak berlebihan dan tidak (pula) kikir. (Infak mereka) adalah pertengahan antara keduanya.”  (QS. Al-Furqan: 67)

Ayat ini mengajarkan keseimbangan dalam menggunakan harta. Tidak berlebihan ketika memperoleh kelapangan, tetapi juga tidak menjadi kikir ketika harus berhemat.

Prinsip tersebut penting dipahami karena menurunkan gaya hidup bukan berarti memangkas seluruh pengeluaran tanpa mempertimbangkan prioritas. Ada kebutuhan yang harus tetap dijaga, seperti makanan yang layak, kesehatan, pendidikan, dan kewajiban terhadap keluarga.

Sebaliknya, ada pengeluaran yang sesungguhnya lebih banyak didorong oleh keinginan, kebiasaan, atau gengsi.

Sering kali, yang paling sulit dikurangi justru bukan kebutuhan dasar, melainkan berbagai kenyamanan yang telanjur dianggap sebagai bagian dari identitas diri.

Kita mungkin dapat menerima kenyataan bahwa penghasilan telah menurun. Namun, belum tentu kita rela jika orang lain mengetahui bahwa standar kehidupan kita juga ikut berubah.

Akibatnya, sebagian orang memilih mempertahankan penampilan seolah-olah masih hidup dalam kemapanan, meskipun harus mengorbankan ketenangan keluarga atau menambah beban utang.

Padahal, mempertahankan gengsi ketika kemampuan ekonomi semakin terbatas bukanlah bentuk keberhasilan. Justru keberanian untuk hidup sesuai kemampuan menunjukkan kedewasaan dalam menghadapi kenyataan.

Qana’ah Bukan Berarti Menyerah

Salah satu ajaran Islam yang penting dalam menghadapi kesulitan ekonomi adalah qana’ah, yakni sikap merasa cukup dan menerima dengan lapang hati rezeki yang Allah berikan.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan kepadanya.”  (HR. Muslim No. 1054)

Hadis ini mengingatkan bahwa keberuntungan seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya harta, tetapi juga oleh kemampuan hatinya untuk merasa cukup.

Namun, qana’ah tidak boleh disalahartikan sebagai sikap pasrah tanpa usaha. Islam tetap mendorong umatnya untuk bekerja, berikhtiar, dan mencari rezeki yang halal.

Seseorang yang kehilangan pekerjaan tetap perlu berusaha mendapatkan pekerjaan baru. Mereka yang mengalami penurunan penghasilan perlu mencari peluang untuk memperbaiki keadaan ekonominya. Demikian pula pelaku usaha yang sedang menghadapi kesulitan perlu mengevaluasi dan menyesuaikan strategi bisnisnya.

Qana’ah mengajarkan manusia untuk menerima kenyataan hari ini tanpa kehilangan semangat memperbaiki hari esok.

Dalam menghadapi penurunan kemampuan ekonomi, setidaknya ada lima sikap yang perlu dikembangkan.

Pertama, muhasabah. Melakukan evaluasi secara jujur terhadap kondisi keuangan. Berapa penghasilan yang benar-benar tersedia? Berapa kewajiban yang harus dipenuhi? Pengeluaran apa saja yang sebenarnya dapat dikurangi? Setiap keputusan harus didasarkan pada kemampuan hari ini, bukan kejayaan masa lalu.

Kedua, menghindari israf atau perilaku berlebihan. Penghematan sebaiknya dimulai dari pengeluaran yang tidak mendesak, tanpa mengabaikan kebutuhan dasar dan kewajiban terhadap orang lain.

pasang iklan di sini
lpdb.go.id