hayed consulting
hayed consulting
umkm insigh
Opini  

Saat Ekonomi Sulit, Turunkan Gaya Hidup, Bukan Harga Diri

Ketiga, membangun qana’ah. Belajar menerima bahwa tidak semua kenyamanan yang pernah dinikmati harus dipertahankan selamanya. Merasa cukup bukan berarti berhenti memiliki cita-cita, melainkan tidak membiarkan keinginan menguasai kehidupan.

Keempat, sabar dan tawakal. Kesabaran diperlukan untuk menghadapi perubahan yang tidak menyenangkan, sedangkan tawakal harus disertai ikhtiar untuk memperbaiki keadaan. Keduanya bukan alasan untuk menyerah, melainkan kekuatan untuk tetap melangkah.

Kelima, bersyukur dan menjaga kepedulian sosial. Mereka yang masih memiliki pekerjaan dan penghasilan perlu menyadari bahwa ada orang lain yang sedang menghadapi kesulitan lebih besar. Kesadaran tersebut semestinya melahirkan empati, bukan sekadar rasa lega karena keadaan kita masih lebih baik.

Menurunkan Gaya Hidup, Bukan Harga Diri

Persoalan paling berat dalam melakukan downgrade bukanlah berkurangnya kemampuan membeli sesuatu, melainkan perasaan kehilangan kedudukan sosial.

Kita sering mengukur keberhasilan hidup berdasarkan apa yang dimiliki. Akibatnya, ketika sebagian harta, fasilitas, atau kenyamanan itu hilang, kita merasa seolah-olah kehilangan sebagian harga diri.

Padahal, Islam memiliki ukuran kemuliaan yang berbeda.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”  (QS. Al-Hujurat: 13)

Ayat ini menegaskan bahwa kemuliaan manusia di sisi Allah tidak ditentukan oleh besarnya penghasilan, tingginya jabatan, luasnya rumah, atau mahalnya kendaraan yang dimiliki.

Seseorang yang dahulu hidup berkecukupan, kemudian harus menjalani kehidupan yang lebih sederhana, tidak otomatis menjadi manusia yang lebih rendah. Begitu pula mereka yang kehilangan pekerjaan atau mengalami kegagalan usaha tidak serta-merta kehilangan kehormatan dan martabatnya.

Keadaan sulit justru dapat menjadi kesempatan untuk menata kembali prioritas kehidupan, memperkuat hubungan keluarga, dan mendekatkan diri kepada Allah.

Kita perlu membedakan antara menurunnya standar materi dan menurunnya kualitas diri. Keduanya bukanlah hal yang sama.

Seseorang boleh kehilangan sebagian kekayaannya, tetapi jangan sampai kehilangan kejujurannya. Ia mungkin harus meninggalkan berbagai kenyamanan, tetapi jangan sampai meninggalkan tanggung jawabnya. Ia boleh menurunkan gaya hidup, tetapi tidak perlu menurunkan nilai-nilai yang selama ini menjadi pegangan hidupnya.

Setelah Kesulitan Ada Kemudahan

Tidak seorang pun mengetahui secara pasti bagaimana keadaan ekonominya pada masa mendatang. Mereka yang hari ini berkecukupan belum tentu selamanya berada dalam kelapangan. Sebaliknya, mereka yang sedang menghadapi kesulitan juga tidak harus selamanya berada dalam kesempitan.

Allah SWT berfirman:

“Maka, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan.”  (QS. Al-Insyirah: 5–6)

Ayat tersebut memberikan harapan bahwa kesulitan bukanlah akhir dari perjalanan kehidupan. Namun, harapan itu tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan kenyataan atau menunda perubahan yang memang harus dilakukan.

Ketika keadaan ekonomi berubah, manusia juga perlu berani berubah.

Kita tidak harus mempertahankan seluruh kebiasaan masa lalu hanya karena dahulu mampu melakukannya. Kita juga tidak perlu merasa malu menjalani kehidupan yang lebih sederhana selama tetap mampu memenuhi kewajiban dan menjaga kehormatan diri.

Pada akhirnya, downgrade bukan semata-mata persoalan mengurangi pengeluaran. Lebih dari itu, ia merupakan proses menata kembali cara kita memandang rezeki, keberhasilan, dan kebahagiaan.

Baca Juga:5 Hal yang Semestinya Dilakukan Saat Bangkrut

Ketika Allah memberikan kelapangan, hendaknya kita bersyukur tanpa berlebihan. Ketika Allah menguji dengan kesempitan, hendaknya kita bersabar, berikhtiar, dan menyesuaikan kehidupan dengan kemampuan.

Sebab, kehidupan yang baik bukanlah kehidupan yang harus selalu meningkat secara materi, melainkan kehidupan yang dijalani dengan rasa cukup, tanggung jawab, dan ketakwaan.

Kita mungkin terpaksa menurunkan standar hidup, tetapi jangan pernah menurunkan standar keimanan, kejujuran, dan tanggung jawab.

Menurunkan gaya hidup bukan berarti menurunkan harga diri. Bisa jadi, justru di sanalah kita belajar menemukan kembali makna hidup yang sesungguhnya. (*)

pasang iklan di sini
lpdb.go.id