
PeluangNews, Jakarta – Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal mengungkapkan, Indonesia perlu melakukan transformasi strategis dari sekadar negara produsen kelapa sawit terbesar di dunia menjadi pusat hilirisasi sawit global.
“Transformasi menjadi pusat hilirisasi sawit global akan memberikan nilai tambah, memperkuat daya saing, hingga meningkatkan kontribusi industri sawit nasional,” kata Faisal dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (25/7/2026).
Saat ini, lanjutnya, Indonesia telah mengembangkan banyak produk turunan kelapa sawit, tetapi, potensi yang dimiliki masih jauh lebih besar dibandingkan dengan capaian hilirisasi saat ini.
“Sejauh ini Indonesia sudah mendorong hilirisasi kelapa sawit. Hanya mungkin hilirisasi belum beragam. Jadi, perlu ada strategi agar Indonesia bisa menjadi pusat hilirisasi industri sawit global,” ujarnya.
Menurut Faisal, Indonesia membutuhkan arah kebijakan untuk pengembangan hilirisasi sawit nasional guna membentuk kelahiran industri manufaktur yang mengolah kelapa sawit menjadi berbagai produk bernilai tambah tinggi.
Selain itu dibutuhkan berbagai instrumen pendukung baik berupa insentif maupun disinsentif fiskal dan non fiskal guna mempercepat investasi di sektor hilir.
“Kita juga harus memperkuat sektor hulu sawit. Penguatan di sektor hulu ini penting karena tidak mungkin kita membangun industri hilir kalau tidak didukung oleh sektor hulu yang kuat,” ucapnya.
Faisal mengutarakan, selama ini upaya pengembangan hilirisasi sawit nasional aktif dilakukan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) melalui berbagai macam inisiatif seperti mendorong riset dan inovasi, memperkuat promosi dan kemitraan, hingga melakukan pengembangan sumber daya manusia di sektor hilirisasi sawit.
BPDP secara aktif dan konsisten mendukung percepatan hilirisasi kelapa sawit nasional menuju industri yang berdaya saing dan berkelanjutan karena mampu memberi manfaat nyata dan dampak positif bagi masyarakat.
Faisal menilai percepatan hilirisasi kelapa sawit akan memberikan dampak positif terhadap ekonomi mulai dari penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, hingga penguatan struktur industri nasional.
Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) Tungkot Sipayung menambahkan, hilirisasi merupakan strategi untuk menghasilkan produk turunan bernilai tambah tinggi sekaligus memperluas pasar industri sawit Indonesia.
Hilirisasi tak hanya berorientasi pada peningkatan ekspor tetapi juga berperan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap berbagai produk impor.
“Dengan hilirisasi sawit, kita bisa berubah dari raja CPO dunia menjadi raja oleokimia, raja biofuel, raja biomaterial, dan raja oleofood global,” tuturnya.
Tungkot mencontohkan keberhasilan Program Mandatori Biodiesel yang mampu menekan impor solar berbasis fosil melalui pemanfaatan kelapa sawit dan masih banyak produk impor yang dapat disubstitusi melalui pengembangan industri hilir sawit.
Hilirisasi sawit di sektor energi, dinilainya, berpotensi menekan impor avtur melalui pengembangan sustainable aviation fuel (SAF) atau bioavtur.[]








