hayed consulting
hayed consulting
umkm insigh

RI Bidik USD83,08 Miliar Ekspor Mamin 2029

Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza. Foto: metrotv/peluangnews
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza. Foto: metrotv/peluangnews

PeluangNews, Jakarta— Indonesia memiliki peluang besar memperkuat posisinya sebagai pusat produksi, inovasi, dan investasi pangan global. Kekuatan manufaktur, sumber daya alam, serta besarnya pasar domestik menjadi modal utama untuk meningkatkan daya saing industri pangan nasional.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong penguatan struktur industri pangan melalui percepatan hilirisasi, peningkatan nilai tambah bahan baku lokal, penguatan standar mutu, serta perluasan kemitraan dan akses pasar internasional.

Langkah tersebut menjadi semakin penting di tengah perubahan preferensi konsumen global yang tidak lagi hanya mempertimbangkan harga dan rasa, tetapi juga kesehatan, keamanan pangan, kualitas, dan keberlanjutan.

Berdasarkan data Manufacturing Value Added (MVA) 2025 yang dirilis World Bank, nilai tambah industri manufaktur Indonesia mencapai USD275,61 miliar. Capaian tersebut menempatkan Indonesia di peringkat ke-12 dunia sekaligus tertinggi di kawasan Asia Tenggara, mengungguli Thailand, Vietnam, Singapura, dan Malaysia.

Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza mengatakan capaian tersebut menjadi modal penting untuk meningkatkan peran Indonesia dalam rantai nilai industri pangan regional maupun global.

“Industri manufaktur kita semakin solid. Ke depan, kekuatan ini harus diterjemahkan menjadi produk yang bernilai tambah, berkualitas, inovatif, dan berdaya saing di pasar global,” ujar Faisol saat pembukaan Food Ingredients Asia (Fi Asia) Indonesia 2026 beberapa waktu lalu.

Menurutnya, industri makanan dan minuman (mamin) merupakan salah satu sektor strategis dalam memperkuat struktur manufaktur nasional. Pemerintah karena itu terus mendorong terbentuknya ekosistem industri pangan yang mampu merespons kebutuhan konsumen sekaligus memenuhi standar pasar internasional.

“Kami berkomitmen memperkuat ekosistem industri pangan yang halal, sehat, inovatif, dan berkelanjutan. Penyelenggaraan Food Ingredients Asia (Fi Asia) Indonesia 2026 menjadi momentum penting untuk mempertemukan pemerintah, pelaku industri, akademisi, dan mitra internasional dalam memperkuat kolaborasi, termasuk dalam transfer teknologi dan pengetahuan,” jelasnya.

Pemerintah menargetkan ekspor produk mamin Indonesia mencapai USD83,08 miliar pada 2029 dengan rata-rata pertumbuhan 10,9 persen per tahun.

Untuk mengejar target tersebut, Kemenperin memfokuskan kebijakan pada percepatan hilirisasi berbasis sumber daya alam lokal, peningkatan utilisasi pabrik hingga 70 persen, peningkatan ekspor produk hilir bernilai tambah tinggi, serta perluasan penetrasi ke 20 negara tujuan ekspor baru di kawasan Amerika, Eropa Timur, Timur Tengah, dan Asia Selatan.

Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Putu Juli Ardika mengatakan pengembangan industri mamin perlu terus diselaraskan dengan perubahan perilaku konsumen. Aspek gizi, kualitas bahan baku, keamanan pangan, dan keberlanjutan semakin menjadi pertimbangan dalam memilih produk.

“Industri harus terus beradaptasi dengan menghadirkan produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen, termasuk dari sisi kesehatan, keamanan, kualitas, dan keberlanjutan,” ujar Putu saat pembukaan pameran Fi Asia Indonesia 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta.

Pada Semester I 2026, industri mamin tumbuh 6,77 persen dan memberikan kontribusi 41,86 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas serta 7,16 persen terhadap PDB nasional.

Dari sisi perdagangan, ekspor industri mamin pada 2025 mencapai USD49,5 miliar, meningkat 19,5 persen dan menjadi capaian tertinggi dalam lima tahun terakhir. Surplus neraca perdagangan pada periode tersebut mencapai USD36,1 miliar.

Kinerja ekspor tetap menunjukkan tren positif pada Semester I 2026. Ekspor industri mamin mencapai USD24,61 miliar dengan surplus USD17,57 miliar.

Industri mamin juga menjadi salah satu sektor manufaktur dengan penyerapan tenaga kerja terbesar. Sekitar 6,94 juta tenaga kerja terserap atau 34,72 persen dari total tenaga kerja industri pengolahan nonmigas. Sementara itu, realisasi investasi industri mamin pada Semester I 2026 mencapai Rp26,82 triliun.

Di tengah kinerja yang terus tumbuh, industri pangan nasional menghadapi tuntutan pasar global yang semakin kompleks. Persyaratan perdagangan tidak lagi hanya ditentukan oleh harga dan kapasitas produksi, tetapi juga keamanan pangan, standar mutu, jejak lingkungan, serta tuntutan terhadap produk yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Sejumlah regulasi dan tren global, seperti European Union Deforestation Regulation (EUDR), Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM), pengetatan Maximum Residue Limit (MRL), serta meningkatnya permintaan produk clean label dan plant-based, menjadi tantangan sekaligus peluang bagi industri nasional.

Untuk merespons perkembangan tersebut, Kemenperin memperkuat penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) Wajib pada berbagai produk pangan strategis, antara lain tepung terigu, air minum dalam kemasan, minyak goreng sawit, kopi instan, kakao bubuk, dan gula kristal rafinasi.

“Standar bukan hanya untuk melindungi konsumen, tetapi juga meningkatkan kepercayaan terhadap produk Indonesia dan membantu industri memenuhi persyaratan pasar global,” kata Putu.

Menurut Putu, penguatan standar harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas bahan baku lokal, teknologi, inovasi produk, dan kapasitas industri.

Dengan pendekatan tersebut, hilirisasi tidak berhenti pada peningkatan volume produksi, tetapi diarahkan untuk menghasilkan produk bernilai tambah yang mampu bersaing di pasar internasional.

Penguatan daya saing industri pangan juga didorong melalui penyelenggaraan Food Ingredients Asia (Fi Asia) Indonesia 2026 yang memasuki edisi ke-30 dengan tema “Elevating Food Standards for a Healthier, Greener Future”.

Pameran tersebut menjadi ruang kolaborasi bagi pelaku industri pangan, pemasok bahan baku, penyedia teknologi, akademisi, pemerintah, dan mitra bisnis internasional.

Selain membuka peluang business-to-business matchmaking, kegiatan tersebut diharapkan memperkuat transfer pengetahuan, teknologi, dan inovasi di sepanjang rantai industri pangan.

“Kami ingin menghubungkan pasar dan sumber daya Indonesia dengan teknologi, inovasi, dan jejaring global. Industri pangan harus mampu menghasilkan lebih banyak produk bernilai tambah untuk pasar internasional,” pungkas Putu.

Melalui penguatan standar, hilirisasi, inovasi, dan kolaborasi sepanjang rantai nilai, Indonesia diarahkan untuk semakin mampu memanfaatkan pertumbuhan industri pangan global sekaligus membangun sektor pangan yang sehat, hijau, kompetitif, dan berkelanjutan.

pasang iklan di sini
lpdb.go.id