hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Laba Maybank Indonesia Tembus Rp397 Miliar, Bisnis Syariah Melonjak 52 Persen

 

Maybank Indonesia.
Maybank Indonesia.

PeluangNews, Jakarta – Di tengah tekanan geopolitik global dan volatilitas pasar yang masih membayangi industri keuangan, PT Bank Maybank Indonesia Tbk berhasil mempertahankan kinerja bisnis intinya dengan mencatat laba sebelum pajak (Pre-Tax Profit/PBT) sebesar Rp397 miliar pada kuartal I 2026.

Menariknya, di saat laba konsolidasi tertekan, lini Perbankan Syariah justru mencatat lonjakan laba hingga 52,1 persen, menjadi salah satu motor pertumbuhan Bank.

Kinerja tersebut ditopang oleh pertumbuhan kredit pada sejumlah segmen strategis, peningkatan kualitas aset, serta struktur pendanaan yang semakin sehat.

Maybank Indonesia membukukan Pendapatan Bunga Bersih (Net Interest Income/NII) sebesar Rp1,81 triliun, meningkat 2,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, Net Interest Margin (NIM) tetap stabil di level 4,3 persen.

Meski demikian, meningkatnya volatilitas pasar global berdampak pada aktivitas perdagangan di lini Global Markets (GM), khususnya transaksi surat berharga dan valuta asing. Pendapatan dari aktivitas tersebut turun menjadi Rp20 miliar dari sebelumnya Rp107 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Akibat tekanan tersebut, laba sebelum pajak (PBT) Bank tercatat turun 21,5 persen secara tahunan (year-on-year/YoY), sementara laba setelah pajak dan kepentingan nonpengendali (PATAMI) turun 20,5 persen menjadi Rp299 miliar.

Presiden Direktur Maybank Indonesia, Steffano Ridwan, mengatakan kinerja Bank pada awal tahun dipengaruhi oleh kondisi global yang penuh ketidakpastian.

“Dalam kondisi ini, kami menyesuaikan ekspektasi dan fokus memanfaatkan peluang pertumbuhan pada segmen ritel dan non-ritel, korporasi, termasuk Perbankan Syariah di tengah ketidakpastian yang berlangsung di sepanjang kuartal,” ujar Steffano.

Ia menegaskan, Bank akan terus menangkap peluang pertumbuhan melalui ekosistem Whole of Maybank sekaligus memperkuat bisnis inti sesuai strategi ROAR30 Maybank Group.

Di tengah tantangan ekonomi global, kualitas aset Maybank Indonesia menunjukkan perbaikan. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) turun menjadi 2,3 persen (gross) dan 1,4 persen (net) pada Maret 2026, dibandingkan 2,4 persen (gross) dan 1,5 persen (net) pada Maret 2025.

Perbaikan kualitas aset turut tercermin dari penurunan beban pencadangan sebesar 47,9 persen menjadi Rp123 miliar.

Pada sisi pembiayaan, kredit segmen Community Financial Services (CFS) tumbuh 5,4 persen menjadi Rp88,33 triliun. Pertumbuhan tersebut didukung peningkatan kredit komersial (Business Banking) sebesar 15,6 persen dan pembiayaan SME+ yang tumbuh 12,3 persen.

Di segmen ritel, pertumbuhan ditopang oleh pembiayaan otomotif anak usaha yang naik 7,4 persen serta kredit konsumer seperti kartu kredit dan kredit tanpa agunan yang tumbuh 6,7 persen.

Secara keseluruhan, total kredit yang disalurkan Maybank Indonesia tetap stabil di level Rp121,99 triliun, sementara total aset meningkat 1,2 persen menjadi Rp192,17 triliun.

Dana Murah Melesat, CASA Tembus 61,2 Persen

Di sisi pendanaan, Maybank Indonesia berhasil memperkuat komposisi dana murah. Total simpanan nasabah tumbuh 6,1 persen menjadi Rp118,35 triliun.

Pertumbuhan tersebut didorong lonjakan dana giro sebesar 37,5 persen, sementara rasio Current Account Saving Account (CASA) meningkat signifikan menjadi 61,2 persen dari sebelumnya 53 persen pada Maret 2025.

Peningkatan CASA menjadi indikator keberhasilan Bank dalam mengoptimalkan biaya dana dan memperkuat struktur pendanaan yang lebih efisien.

Selain itu, kondisi likuiditas dan permodalan Bank tetap solid. Capital Adequacy Ratio (CAR) tercatat sebesar 26,3 persen dan Common Equity Tier 1 (CET1) mencapai 25,2 persen, jauh di atas ketentuan regulator.

Di tengah perlambatan sejumlah lini bisnis, Perbankan Syariah Maybank Indonesia tampil sebagai kontributor pertumbuhan yang menonjol.

Total pembiayaan syariah tumbuh 10,4 persen menjadi Rp32,23 triliun, dengan kontribusi mencapai 30,2 persen terhadap total portofolio pembiayaan Bank.

Pertumbuhan didorong oleh peningkatan pembiayaan pada segmen SME+, Retail SME, pembiayaan properti, hingga pembiayaan korporasi Large Local Corporate (LLC).

Tak hanya itu, total simpanan syariah juga meningkat 7,5 persen menjadi Rp35,50 triliun, dengan rasio CASA syariah melonjak menjadi 69,1 persen.

Kinerja positif tersebut mengerek laba sebelum pajak Perbankan Syariah menjadi Rp226 miliar, melonjak 52,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp149 miliar.

Maybank Indonesia juga mencatat sejarah baru dengan meluncurkan Shariah Restricted Investment Account (SRIA), solusi investasi syariah pertama di Indonesia yang memungkinkan investor berpartisipasi langsung dalam pembiayaan badan usaha tertentu. Hingga saat ini, outstanding transaksi SRIA telah mencapai Rp500 miliar.

Presiden Komisaris Maybank Indonesia, Dato’ Sri Khairussaleh Ramli, menilai strategi memperkuat fundamental bisnis menjadi langkah yang tepat di tengah tingginya volatilitas pasar global.

“Dari segi arah bisnis, kami meyakini langkah memperkuat fundamental merupakan hal yang tepat sejalan dengan arah strategis ROAR30 yang telah kami canangkan di Maybank Group,” ujarnya.

Anak Usaha Tetap Berkontribusi

Di level anak usaha, PT Maybank Indonesia Finance mencatat pertumbuhan pembiayaan 12,7 persen menjadi Rp8,61 triliun. Laba sebelum pajak meningkat 24,6 persen menjadi Rp177 miliar dengan kualitas aset yang tetap terjaga.

Sementara itu, PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk atau WOM Finance membukukan pertumbuhan pembiayaan 7,4 persen menjadi Rp6,70 triliun. Meski laba sebelum pajak turun akibat peningkatan pencadangan, kualitas aset tetap stabil dengan rasio NPL gross sebesar 2,2 persen.

 

pasang iklan di sini
octa vaganza