
PeluangNews, Jakarta – Kepercayaan publik di tengah derasnya arus informasi digital menjadi tantangan yang terus dihadapi perusahaan infrastruktur. PT Jasa Marga (Persero) Tbk menjawab tantangan tersebut melalui strategi komunikasi korporasi yang transparan, responsif, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
Upaya itu mendapat pengakuan melalui dua penghargaan yang diraih Jasa Marga dalam ajang 7th Indonesia Public Relations Summit 2026 yang mengusung tema “Komunikasi Empati: Narasi dan Strategi”. Acara tersebut digelar di Gedung Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Jakarta, Kamis (6/8/2026).
Dua penghargaan yang dibawa pulang Jasa Marga yakni 7th Indonesia Public Relations Awards 2026 kategori Corporate Reputation – Toll Operator serta 7th Anniversary Indonesia 50 Popular PR Person Awards 2026 yang diberikan kepada Corporate Communication and Community Development Group Head Jasa Marga, Lisye Octaviana.
Penghargaan tersebut diterima Corporate Communication Department Head Jasa Marga Faiza Riani yang mewakili manajemen perusahaan.
Ajang penghargaan tersebut turut dihadiri sejumlah pejabat negara dan tokoh komunikasi nasional, di antaranya Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI Abdul Mu’ti, Founder & CEO The Iconomics Bram S. Putro, pimpinan media, serta para pakar komunikasi publik.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti dalam sambutannya menilai komunikasi yang mengedepankan empati menjadi salah satu fondasi penting untuk membangun kepercayaan publik di tengah percepatan digitalisasi.
Menurut dia, derasnya arus informasi membuat masyarakat perlu memiliki kemampuan membedakan informasi yang benar-benar bernilai dengan sekadar kebisingan informasi.
“Informasi bergerak cepat, tetapi kepercayaan dibangun dengan kerja konsisten dan komunikasi yang bertanggung jawab. Kita harus bisa membedakan mana noise dan mana voice. Dengan komunikasi yang semakin beradab, kita bisa saling menghormati,” ujar Abdul Mu’ti.
Pandangan serupa disampaikan Founder & CEO The Iconomics Bram S. Putro. Menurutnya, empati tidak lagi sekadar menjadi nilai tambahan dalam praktik komunikasi korporasi, tetapi telah berkembang menjadi aset strategis perusahaan.
“Di era transformasi ini, empati bukan sekadar iktikad baik, melainkan mata uang utama untuk membangun kepercayaan, mengelola krisis, dan menciptakan hubungan media yang bermakna,” kata Bram.
Dia menambahkan, komunikasi berbasis empati tidak sebatas teknik menyampaikan pesan. Lebih dari itu, pendekatan tersebut menjadi filosofi interaksi yang menggabungkan kejujuran dengan hasil nyata.
Direktur Utama Jasa Marga Rivan A. Purwantono mengatakan dua penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas upaya perusahaan mentransformasi komunikasi korporasi dengan menempatkan kebutuhan pengguna jalan dan masyarakat sebagai prioritas.
Menurut Rivan, komunikasi perusahaan harus berjalan beriringan dengan kualitas layanan yang diberikan kepada masyarakat.
“Kami berkomitmen terus menghadirkan komunikasi yang tidak hanya informatif dan responsif, tetapi mampu menyentuh sisi empati publik. Kami meyakini bahwa komunikasi korporasi yang kuat harus berakar dari kinerja nyata di lapangan,” ujar Rivan.
Dia menyebut sejumlah layanan Jasa Marga menjadi bagian dari upaya tersebut, mulai dari kepastian informasi lalu lintas melalui aplikasi Travoy, layanan Call Center 133, hingga keterbukaan informasi publik dalam berbagai situasi operasional.
“Filosofi ini selaras dengan semangat kami untuk Melayani Sepenuh Hati dalam memberikan ketenangan perjalanan bagi seluruh masyarakat,” katanya.
Perolehan dua penghargaan tersebut sekaligus memperkuat komitmen Jasa Marga untuk mengembangkan strategi komunikasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan perubahan kebutuhan masyarakat.
Transformasi komunikasi korporasi dinilai penting seiring meningkatnya kebutuhan publik terhadap informasi yang cepat, akurat, transparan, dan mudah diakses, khususnya terkait layanan jalan tol dan kondisi lalu lintas.
Jasa Marga juga menempatkan keterbukaan informasi dan komunikasi yang berempati sebagai bagian dari dukungan terhadap agenda pembangunan pemerintah.
Langkah tersebut antara lain dikaitkan dengan Asta Cita ke-4 mengenai penguatan pembangunan sains dan teknologi untuk mengakselerasi keterbukaan informasi serta Asta Cita ke-3 dalam melanjutkan pengembangan infrastruktur.
Melalui penguatan tata kelola komunikasi dan keterbukaan informasi publik, Jasa Marga optimistis dapat terus menjaga kepercayaan masyarakat sekaligus mendukung keberlanjutan konektivitas nasional.








