hayed consulting
hayed consulting
umkm insigh

Menaker Ungkap Kunci AI Dongkrak Produktivitas hingga 40 Persen

Menaker Yassierli.
Menaker Yassierli.

PeluangNews, Tangerang — Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) di dunia kerja dinilai tidak cukup hanya dengan menghadirkan teknologi baru. Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menilai perusahaan perlu membenahi proses kerja sekaligus meningkatkan kompetensi pekerja agar adopsi AI benar-benar mampu mendorong produktivitas.

Yassierli mengatakan penggunaan AI sebagai sekadar asisten operasional rata-rata hanya mampu meningkatkan produktivitas sekitar 5 persen. Sebaliknya, jika perusahaan mendesain ulang alur kerja dan standar operasional prosedur (SOP), kemudian diikuti peningkatan keterampilan pekerja, produktivitas berpotensi melonjak hingga 30–40 persen.

“Adopsi AI tidak sebatas merekrut tenaga ahli atau menjadikan AI sekadar asisten digital,” kata Yassierli saat menjadi pembicara pada Indonesia Human Capital and Beyond Summit 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE) PIK 2, Kabupaten Tangerang, Banten, Selasa (15/9/2026).

Menurutnya, sektor yang memiliki tingkat pemanfaatan AI tinggi menunjukkan pertumbuhan produktivitas lebih cepat dibandingkan sektor dengan penggunaan AI yang rendah. Namun, peningkatan penggunaan teknologi tidak secara otomatis berarti pengurangan tenaga kerja dalam jumlah besar.

Justru, kata Yassierli, perkembangan teknologi dapat membuka peluang usaha baru sekaligus meningkatkan kebutuhan terhadap kompetensi tertentu. Karena itu, tenaga kerja ke depan tidak hanya dituntut menguasai keahlian di bidang masing-masing, tetapi juga mampu memanfaatkan AI untuk mendukung pekerjaannya.

“Karena itu, transformasi teknologi perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi penguatan daya saing sekaligus pembangunan ketenagakerjaan yang berkelanjutan,” ujarnya.

Yassierli juga mengungkapkan hasil kajian Boston Consulting Group (BCG) terhadap 1.250 perusahaan. Kajian tersebut menunjukkan sekitar 60 persen perusahaan yang menjadi pelopor dalam penerapan AI belum merasakan manfaat bisnis yang signifikan.

Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan utama penerapan AI bukan semata-mata terletak pada teknologi, melainkan pada strategi implementasinya.

Untuk itu, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mendorong penerapan AI di tempat kerja yang berorientasi pada manusia atau human-centered AI. Prinsip tersebut menempatkan teknologi sebagai alat untuk memperkuat kemampuan pekerja, bukan sekadar menggantikan peran manusia.

Kemnaker juga mendorong penerapan AI dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan pekerja serta serikat pekerja atau serikat buruh. Selain itu, keputusan yang dihasilkan AI dan berpotensi berdampak terhadap hak, keselamatan, maupun kesempatan kerja tetap harus berada dalam pengawasan manusia.

Prinsip lainnya adalah memastikan tidak ada pekerja yang tertinggal dalam proses transformasi teknologi atau no one left behind. Hal ini mencakup pekerja senior yang membutuhkan peningkatan keterampilan agar mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi.

Untuk memperkuat penerapan AI yang bertanggung jawab, Kemnaker menyiapkan sejumlah langkah, mulai dari proyek percontohan produktivitas berbasis AI hingga penyusunan panduan resmi penerapan AI di tempat kerja.

Kemnaker juga menyiapkan wadah kolaborasi antarperusahaan untuk mendorong pertukaran pengetahuan dan pembelajaran mengenai pemanfaatan AI. Dengan pendekatan tersebut, transformasi digital diharapkan tidak hanya menghasilkan efisiensi, tetapi juga menciptakan tenaga kerja yang semakin produktif dan adaptif terhadap perubahan dunia kerja.

pasang iklan di sini
lpdb.go.id