hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi
Berita  

Kejagung: Penyidikan Kasus Dugaan Manipulasi Harga CPO Masih Berjalan

Kejagung
Ilustrasi: Gedung Kejaksaan Agung. YOUTUBE KEJAKSAAN RI

PeluangNews, Jakarta – Plh Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung (Kejagung) Mochamad Jeffry memastikan penyidikan kasus dugaan manipulasi harga ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) melalui praktik transfer pricing dan under invoicing masih berjalan.

Menurut Jeffry, penyidik mulai memeriksa sejumlah pihak dari perusahaan maupun kementerian terkait kasus tersebut.

“Penyidikan masih berjalan di Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus). Saat ini kita sedang  lakukan pemeriksaan baik dari pihak perusahaan maupun kementerian juga sudah kami mintai keterangan,” kata Jeffry saat dihubungi, Jumat (29/5/2026).

Seluruh pihak yang dianggap kompeten dalam perkara tersebut sedang dimintai klarifikasi oleh penyidik.

“Sudah semua pihak-pihak yang kompeten kasus ini sedang kita klarifikasi semua,” ujar dia.

Menurutnya, penyidikan dugaan manipulasi harga ekspor CPO tersebut telah berjalan sejak awal 2026. Kejagung, lanjut Jeffry, akan segera mengumumkan perusahaan-perusahaan yang diduga terlibat dalam praktik transfer pricing ekspor CPO itu.

“Mudah-mudahan dalam waktu enggak terlalu lama kita rilis juga perusahaan-perusahaannya,” kata dia.

Sebelumnya diberitakan, Direktur Penyidikan Jampidsus Kejagung Syarief Sulaeman Nahdi menyebut penyidikan dugaan manipulasi harga ekspor CPO telah masuk tahap penyidikan umum atau sprindik umum.

“Perkara manipulasi atau transfer pricing itu kita sekarang sedang lakukan penyidikan. Penyidikan. Ya, itu sekitar mungkin satu bulan lebih lah lalu,” kata Syarief di Gedung Kejagung, Jakarta, Senin (25/5/2026) malam.

Menurut Syarief, data yang sebelumnya disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa turut melengkapi data yang telah dimiliki penyidik.

Sebelumnya, Purbaya mengaku telah mengantongi data 10 perusahaan besar CPO yang diduga melakukan manipulasi harga ekspor melalui praktik under invoicing.

Menurut Purbaya, pihaknya melakukan penelusuran terhadap tiga pengapalan dari masing-masing perusahaan yang dipilih secara acak.

Hasilnya, menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara nilai ekspor dari Indonesia dengan nilai impor yang tercatat di negara tujuan, terutama Amerika Serikat.

“Ekspor ke Amerika misalnya, harganya di sini cuma seperempat atau sepertiga apa yang ada di AS,” ucap Purbaya, menambahkan. []

pasang iklan di sini
octa vaganza